Jumat, 14 November 2025

Manisnya Iman

 


*Ulasan Khutbah Jumat: Manisnya Iman*

Oleh Sugiri

Hari ini Jumat, 14 November 2025, saya menunaikan Salat Jumat di Masjid An-Nawawi. Khotib, Al-Ustadz Firmansyah, membawakan tema yang menyentuh dan menohok: *manisnya iman.*

Setelah selesai dengan puji syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan seluruh umat Islam, khotib langsung mengajak jamaah merenung dengan satu pertanyaan retoris:

_“Kita sudah bertahun-tahun mendengar khotib mengingatkan tentang manisnya iman. Tapi… sudahkah kita benar-benar merasakannya?”_

Pertanyaan itu menghentak, membuat kami menunduk dan berpikir.
---
*Tiga Ciri Orang yang Sudah Merasakan Manisnya Iman*

Khotib menjelaskan bahwa Rasulullah Saw menyebutkan tiga tanda utama seseorang telah merasakan manisnya iman.

*1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi* segala sesuatu

Cinta kepada Allah dan Rasul harus berada di puncak seluruh kecintaan manusia.

Khotib menukil ayat 31 dari Ali Imran sebagai bukti bahwa cinta kepada Allah menuntut kesungguhan:

_Jika seseorang mampu bersungguh-sungguh demi pasangan, harta, jabatan atau apa pun yang ia cintai, maka orang yang benar-benar mencintai Allah pun harus menunjukkan kesungguhannya—dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw, menjaga kemurnian ibadah, dan tidak membuat-buat amalan baru (bid’ah) atau terjatuh dalam kesyirikan._

Kesungguhan itulah yang akan mengundang cinta Allah dan ampunan-Nya.

---
*2. Mencintai pasangan karena Allah, bukan karena faktor duniawi*

Cinta suami kepada istri, atau istri kepada suami, hanya akan bernilai ibadah bila dasarnya adalah Allah.
Bukan sekadar karena fisik, harta, keturunan, status, atau keuntungan dunia lainnya.

Mencintai pasangan karena Allah akan melahirkan ketulusan, kesetiaan, dan kekuatan untuk mempertahankan pernikahan hingga akhir hayat.

---
*3. Takut kembali kepada kekufuran* sebagaimana takut dilemparkan ke neraka

Orang yang sudah merasakan manisnya iman akan sangat menjaga dirinya agar tidak kembali pada kekufuran atau kemaksiatan.

Ia berjuang keras meninggalkan maksiat
dan menjaga jarak dari bid’ah, karena bid’ah—kata khotib—amat dicintai oleh setan.

Mengapa?
Karena pelakunya merasa ia sedang berbuat ibadah, padahal ia sedang terjerumus pada kesesatan.

Berbeda dengan maksiat lain seperti zina, mabuk, atau mencuri, pelakunya sadar dirinya bermaksiat.
Tapi pelaku bid’ah justru merasa dirinya sedang berbuat baik—dan itu jauh lebih berbahaya.

---
*Penutup Khutbah*
Di akhir khutbah, khotib memanjatkan do’a, memohon agar Allah melindungi kita dari segala bentuk kemaksiatan, termasuk yang samar seperti bid’ah, serta meneguhkan kita dalam keimanan yang manis dan menenangkan.
Khotib lanjut menjadi imam dengan surat penyerta bada Al-fatihah adakah surat Ad-Duha dan Al-'Aadiyat.

---
*Penutup dari Sugiri*

Khutbah hari ini menjadi cermin bagi diri.
Bahwa manisnya iman bukanlah teori,
tetapi rasa yang hadir setelah kita:
✓menempatkan Allah dan Rasul di atas segalanya,
✓menjaga cinta dalam rumah tangga di atas landasan taqwa,
✓dan takut tergelincir kembali dalam kegelapan dosa.

Semoga Allah menanamkan manisnya iman di hati kita dan menjadikannya cahaya yang memandu langkah hidup.

Aamiin.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda