Belajar dari Kenyataan
*Lari dari Kenyataan*
L ari menjauh,
A gar terhindar dari pahitnya kenyataan.
R asakan, bila kebiasaan itu berulang,
I a hanya akan menjerumuskan pada keburukan yang lebih dalam.
D ari sana lahir masalah-masalah baru,
A nda mesti sadar akan bahaya yang mengintai.
R asa dan asa pun terkungkung,
I ni bisa merusak raga dan jiwa.
K arena lari dari kenyataan,
E ngkau takkan tumbuh dengan sehat.
N ama baik diri dan keluarga ikut terseret,
Y ang menekan batin tanpa ampun.
A tau bahkan mengikis kepercayaan,
T erputuslah ikatan kerja yang terjalin,
A mbruklah tatanan yang dibangun lama.
A khirnya efek domino tak terelakkan,
N ilai diri pun jatuh sedalam jurang.
Karya: Sugiri
*Pentingnya Menghadapi Kenyataan*
P egang teguh hatimu saat badai datang,
E nggan menyerah pada rasa takut yang menipu.
N ikmati proses meski langkah terasa berat,
T empat terbaik untuk tumbuh adalah di medan nyata.
I ngatlah, masalah tak akan hilang dengan lari,
N urani akan damai bila kita berani menghadapinya.
G unakan akal dan iman sebagai pedoman,
N iscaya jalan keluar terbuka perlahan.
Y akinlah, setiap tantangan membawa pelajaran,
A kan tumbuh kekuatan dari kesungguhan hati.
M ulailah dari hal kecil yang bisa kau atasi,
E ratkan tekad dan langkahmu.
N ilai hidup akan terjaga,
G agah berdiri di tengah gelombang ujian.
H arapan terbit saat gelap mulai pudar,
A kan datang pertolongan dari arah yang tak disangka.
D engan hadapi kenyataan,
A kan lahir keberanian sejati.
P engalaman jadi guru berharga,
I tu bekal perjalananmu kelak.
K arena berani menghadapi kenyataan,
E ngkau menjaga harga diri dan martabat.
N ama baik tetap bersinar,
Y ang membuat orang percaya padamu.
A khirnya, masa depan tegak berdiri,
T ak terguncang oleh ujian yang datang.
A lam pun bersaksi atas kesabaranmu,
A kan selalu ada cahaya di ujung jalan,
N iscaya kemenangan menjadi milikmu.
Karya: Sugiri
Belajar dari Kenyataan
B eberapa kebenaran datang seperti cahaya subuh — lembut, tapi tak bisa ditolak.
E ntah manis atau pahit, ia tetap mengetuk pintu hati.
L aut pengalaman menampung gelombang yang pernah menjatuhkan,
A gar kelak kita paham, ombak pun guru yang setia.
J embatan waktu terbentang di antara luka dan pelipur,
A ngin yang dulu dingin kini membawa kabar hangat.
R emaslah tiap detik, sebab ia tak akan kembali.
D ari kenyataan, kita belajar bahwa pasir waktu tak bisa diikat,
A wal dan akhir hanyalah dua sisi mata uang kehidupan.
R elakan yang pergi seperti daun jatuh ke sungai,
I a mengalir menuju laut yang sudah menunggunya.
K arena di sanalah, di aliran takdir yang jujur,
E mas batin ditempa oleh api ujian.
N urani yang terasah mampu membaca bisik alam,
Y ang mengajari bahwa setiap badai pun membawa benih.
A khirnya, kita berjalan bukan untuk lari dari hujan,
T api untuk menari di tengahnya,
A gar setiap tetes menjadi air wudhu bagi jiwa.
N iscaya, langkah kita akan sampai pada dermaga ridha-Nya.
Karya: Sugiri



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda