Jumat, 08 Agustus 2025

Belajar dari Kenyataan

 


*Lari dari Kenyataan*


L ari menjauh,

A gar terhindar dari pahitnya kenyataan.

R asakan, bila kebiasaan itu berulang,

I a hanya akan menjerumuskan pada keburukan yang lebih dalam.


D ari sana lahir masalah-masalah baru,

A nda mesti sadar akan bahaya yang mengintai.

R asa dan asa pun terkungkung,

I ni bisa merusak raga dan jiwa.


K arena lari dari kenyataan,

E ngkau takkan tumbuh dengan sehat.

N ama baik diri dan keluarga ikut terseret,

Y ang menekan batin tanpa ampun.

A tau bahkan mengikis kepercayaan,

T erputuslah ikatan kerja yang terjalin,

A mbruklah tatanan yang dibangun lama.

A khirnya efek domino tak terelakkan,

N ilai diri pun jatuh sedalam jurang.


Karya: Sugiri


*Pentingnya Menghadapi Kenyataan*


P egang teguh hatimu saat badai datang,

E nggan menyerah pada rasa takut yang menipu.

N ikmati proses meski langkah terasa berat,

T empat terbaik untuk tumbuh adalah di medan nyata.

I ngatlah, masalah tak akan hilang dengan lari,

N urani akan damai bila kita berani menghadapinya.

G unakan akal dan iman sebagai pedoman,

N iscaya jalan keluar terbuka perlahan.

Y akinlah, setiap tantangan membawa pelajaran,

A kan tumbuh kekuatan dari kesungguhan hati.


M ulailah dari hal kecil yang bisa kau atasi,

E ratkan tekad dan langkahmu.

N ilai hidup akan terjaga,

G agah berdiri di tengah gelombang ujian.

H arapan terbit saat gelap mulai pudar,

A kan datang pertolongan dari arah yang tak disangka.

D engan hadapi kenyataan,

A kan lahir keberanian sejati.

P engalaman jadi guru berharga,

I tu bekal perjalananmu kelak.


K arena berani menghadapi kenyataan,

E ngkau menjaga harga diri dan martabat.

N ama baik tetap bersinar,

Y ang membuat orang percaya padamu.

A khirnya, masa depan tegak berdiri,

T ak terguncang oleh ujian yang datang.

A lam pun bersaksi atas kesabaranmu,

A kan selalu ada cahaya di ujung jalan,

N iscaya kemenangan menjadi milikmu.


Karya: Sugiri



Belajar dari Kenyataan


B eberapa kebenaran datang seperti cahaya subuh — lembut, tapi tak bisa ditolak.

E ntah manis atau pahit, ia tetap mengetuk pintu hati.

L aut pengalaman menampung gelombang yang pernah menjatuhkan,

A gar kelak kita paham, ombak pun guru yang setia.

J embatan waktu terbentang di antara luka dan pelipur,

A ngin yang dulu dingin kini membawa kabar hangat.

R emaslah tiap detik, sebab ia tak akan kembali.


D ari kenyataan, kita belajar bahwa pasir waktu tak bisa diikat,

A wal dan akhir hanyalah dua sisi mata uang kehidupan.

R elakan yang pergi seperti daun jatuh ke sungai,

I a mengalir menuju laut yang sudah menunggunya.


K arena di sanalah, di aliran takdir yang jujur,

E mas batin ditempa oleh api ujian.

N urani yang terasah mampu membaca bisik alam,

Y ang mengajari bahwa setiap badai pun membawa benih.

A khirnya, kita berjalan bukan untuk lari dari hujan,

T api untuk menari di tengahnya,

A gar setiap tetes menjadi air wudhu bagi jiwa.

N iscaya, langkah kita akan sampai pada dermaga ridha-Nya.


Karya: Sugiri

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda