Antara Al-Qur'an dan Medsos: Menjaga Keseimbangan di Era Digital
Antara Al-Qur'an dan Medsos: Menjaga Keseimbangan di Era Digital
Oleh: Sugiri (Mr. Sugar Ry)
Pendahuluan
Zaman terus berubah, dari era analog ke digital, dari mushaf fisik ke mushaf digital, dan dari majelis ilmu ke forum daring. Semua perubahan ini adalah bagian dari takdir Allah dalam dinamika kehidupan manusia. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: seimbangkah interaksi kita dengan Al-Qur’an dibandingkan dengan interaksi kita dengan media sosial?
Saat waktu berlalu tanpa makna, kita bisa menjadi "Rukhiyat"—Rugi di Akhir Hayat. Mari kita renungkan secara ilmiah dan reflektif, agar waktu tidak tersia, dan pulsa tidak mubazir.
1. Fakta Penggunaan Internet dan Media Sosial
Menurut laporan We Are Social & Hootsuite tahun 2025:
- Rata-rata waktu yang dihabiskan orang Indonesia di internet: 8 jam 36 menit per hari.
- Rata-rata waktu di media sosial: 3 jam 18 menit per hari.
- Pengguna aktif media sosial di Indonesia: 191 juta jiwa.
- Pengeluaran kuota internet per bulan: sekitar Rp100.000 – Rp250.000.
Dalam setahun, seorang pengguna bisa menghabiskan Rp1.200.000 – Rp3.000.000 hanya untuk kuota internet. Apakah dana itu hanya untuk hiburan dan konten tak berguna, atau menjadi sarana dakwah dan belajar?
2. Interaksi dengan Al-Qur’an: Seberapa Sering?
Banyak muslim hari ini merasa cukup membaca Al-Qur’an hanya di bulan Ramadan. Padahal, Allah berfirman:
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2)
"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus..." (QS. Al-Isra’: 9)
Imam Al-Ghazali berkata: "Janganlah engkau tinggalkan membaca Al-Qur’an meski sehari walau hanya satu ayat, karena itu adalah makanan ruhmu."
Jika setiap hari kita membuka Instagram 20 kali, tetapi Al-Qur’an tidak sekali pun, apa yang sedang kita beri makan? Ruh atau hawa nafsu?
3. Medsos: Ujian atau Ladang Dakwah?
Media sosial bukan haram. Ia seperti pisau—tergantung penggunaannya. Nabi SAW bersabda:
"Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya." (HR. Muslim)
Di zaman Gen-Z, dakwah tidak hanya dari mimbar, tapi dari timeline dan beranda. Jika kita membagikan ayat Qur’an, kutipan ulama, refleksi kehidupan, atau nasihat hikmah, maka kuota yang habis pun menjadi ladang pahala.
4. Renungan: Pulsa dan Waktu Akan Dimintai Pertanggungjawaban
"Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: … tentang umurnya untuk apa dihabiskan..." (HR. Tirmidzi)
Pulsa adalah bagian dari harta. Waktu adalah nikmat. Maka keduanya akan ditanya:
- Apakah kita menyia-nyiakan waktu untuk scrolling tanpa arah?
- Apakah kita menggunakan kuota untuk keburukan dan maksiat digital?
- Apakah kita berkontribusi dalam menyebarkan kebodohan, hoax, dan fitnah?
Umar bin Khattab berkata: "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang."
5. Menuju Gaya Hidup Qur'ani di Era Digital
Agar tidak menjadi "Rukhiyat" (Rugi di Akhir Hayat), mari terapkan pola:
Aktivitas | Durasi Rata-rata | Evaluasi
------------------|------------------|----------
Buka media sosial | 3 jam/hari | Kurangi
Baca Qur’an | 10 menit/hari | Tingkatkan
Buat konten dakwah| 0 menit/hari? | Mulai dari sekarang
Target sederhana:
- 1 hari = 1 ayat.
- 1 minggu = 1 konten bermanfaat dibagikan.
- 1 bulan = 1 refleksi ditulis dari ayat yang kita baca.
Penutup
Di era digital, kita bukan hanya ditanya tentang apa yang kita klik, tapi apa yang kita abaikan. Jika Al-Qur’an tidak dibuka, dan medsos selalu jadi prioritas, maka kita sedang menunda keselamatan untuk mengejar hiburan sesaat.
Mari jadikan interaksi dengan Al-Qur’an lebih bermakna daripada interaksi dengan media sosial.
Akhirnya, kita kembali kepada Allah, dan akan menjawab pertanyaan-Nya tentang waktu, harta, dan ilmu. Gunakanlah jari-jarimu sebagai saksi dakwah, bukan saksi penyesalan.
"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Allah akan memberinya pemahaman terhadap agama." (HR. Bukh
ari dan Muslim)
Wallahu a'lam bishshawab


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda