Minggu, 29 Juni 2025

Hikmah di Antara Ular dan Ikan

 


Belut: Hikmah di Antara Ular dan Ikan

*Refleksi atas Ayat Kauniyah dari Makhluk Bernama Belut*

Oleh: Sugiri


Di suatu petak sawah berlumpur atau selokan yang tenang, tersembunyi satu makhluk Allah yang sering luput dari perhatian manusia: belut. Ia bukan ular, tapi tubuhnya panjang dan licin. Ia disebut ikan, namun tak bersisik dan bisa hidup di luar air. Ia tak disebut dalam Al-Qur'an ataupun hadits, tetapi justru dari ketidakterkenalannya, ia mengajarkan kebesaran Allah SWT yang tiada batas.

Dalam hening, seolah sang belut berbisik dari dasar lumpur:

> "Aku rela tidak disebutkan dalam Qur'an dan hadits, karena kehadiranku bukan untuk disanjung. Tapi aku tak bisa mengubah hakikatku menjadi Tuhan. Aku tetap aku, salah satu ayat yang menjadi keagungan Allah SWT. Aku rela jadi makanan manusia, karena itulah tujuan aku diciptakan."

Ungkapan ini bukan hanya suara batin seekor belut. Ia adalah suara makhluk yang sadar diri, yang menerima takdir penciptaannya, dan tetap menunjukkan ayat-ayat kekuasaan Allah dalam bentuk yang paling sederhana—bahkan absurd bagi akal manusia.

> "Apakah ular bisa hidup di air? Tidak. Apakah semua ikan bisa merayap di daratan? Tidak. Tapi aku, belut, hidup di antaranya. Aku bukan ular. Aku bukan ikan seperti yang kalian kenal. Tapi aku tetap hidup, tetap bergerak, tetap menyampaikan pesan: Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

---

*Ayat yang Tak Bertulisan*

Ayat-ayat Allah tidak hanya ada dalam mushaf, tapi juga dalam makhluk ciptaan-Nya. Para ulama menyebutnya "ayat kauniyah", yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Setiap sel, setiap gerak, bahkan dalam hewan kecil yang dilupakan seperti belut—ada pesan tauhid dan kebesaran-Nya.

Firman Allah:

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal."

(QS. Ali ‘Imran: 190)

Maka belut pun ikut bersaksi—dalam diamnya, dalam liuk tubuhnya, dalam persembunyiannya di lumpur.

---

*Hikmah dari Belut*

1. Tentang Qadarullah (Takdir Allah):

Belut mengajarkan kita untuk menerima fungsi penciptaan, bukan menuntut bentuk yang sempurna menurut pandangan manusia. Ia tidak iri pada ikan yang indah atau ular yang ditakuti.

2. Tentang Kehidupan Dua Alam:

Belut bisa bertahan di air maupun di darat sementara. Ini cerminan bahwa manusia pun harus lentur, mampu hidup di berbagai kondisi, tapi tetap menjaga esensi keimanan.

3. Tentang Kerelaan Menjadi Sumber Manfaat:

Belut tidak memberontak saat menjadi santapan manusia, karena dia tahu tujuan penciptaannya. Sungguh derajat ikhlas yang tak terucap tapi dijalani.

---

*Penutup*

Sang belut mungkin bukan bintang dalam kitab suci, tapi ia tetap menyampaikan pesan suci:

> “Aku hanyalah makhluk kecil, tapi aku bagian dari keagungan yang besar. Aku bagian dari ayat-Nya yang hidup. Aku tunduk, aku pasrah, aku bertasbih dalam diam.”

Jika belut bisa berkata-kata, ia takkan memuji dirinya, tapi akan terus berseru:

> Subhanallah, Masyaallah, Allahu Akbar.

Innallaha ‘ala kulli syai’in Qodir.

Wallahu a'lam bishshawab 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda