Kamis, 09 Oktober 2025

SABAR — Tak Berbatas dalam Iman

 



🌿 *Resume Kajian Maljum (9 Oktober 2025)*

Masjid An-Nawawi 


Kitab Akhlaq: Riyâdhus Shâlihîn

Tema: SABAR — Tak Berbatas dalam Iman

Bersama : Ustadz Burhanuddin, S.Pd.

Pendalaman: Sugiri


---

🕌 *Infaq Para Sahabat Rasul: Tiada Tara*


Para sahabat Rasulullah ﷺ dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena iman, sabar, dan pengorbanan mereka yang tiada tara. Mereka adalah teladan dalam keikhlasan berinfaq, bahkan ketika dalam keadaan sempit.


Allah memuji mereka dalam firman-Nya:


_"Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."_

(QS. Âli ‘Imrân: 134)


---

🌸 *Kisah Teladan: Ummu Sulaim r.a., istri Abu Thalhah*


Nama aslinya Rumaisha’ binti Milhân, lebih dikenal dengan Ummu Sulaim al-Anshariyyah, ibu dari sahabat mulia Anas bin Malik. Ia adalah simbol aqidah yang kokoh, kesabaran yang mendalam, dan pengorbanan yang tulus.


---

*1. Aqidah yang Kokoh*


Ketika Abu Thalhah (saat itu musyrik) datang meminangnya, Ummu Sulaim menolak dengan tegas:


_“Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak, tetapi engkau kafir, sedangkan aku Muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itu maharku, dan aku tidak meminta selain itu.”_


Maka Abu Thalhah pun masuk Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Aku tidak pernah mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim, yaitu keislaman Abu Thalhah.”_

(HR. An-Nasâ’i dan Ahmad)


💡 *Pelajaran:*

Iman adalah fondasi utama dalam setiap pilihan hidup. Ummu Sulaim menempatkan tauhid di atas segala bentuk cinta duniawi.


---

*2. Sabar Saat Musibah: Bukti Kedekatan dengan Allah*


Ketika anak mereka wafat, Ummu Sulaim tidak panik, tidak histeris, dan tidak berkeluh kesah. Ia justru menyembunyikan kabar duka dari suaminya hingga waktu yang tepat.


Setelah Abu Thalhah beristirahat, ia berkata dengan kelembutan hikmah:


_“Wahai Abu Thalhah, jika seseorang menitipkan sesuatu kepada kita, lalu ia memintanya kembali, apakah pantas bila kita menolaknya?”_

_Abu Thalhah menjawab, “Tidak.”_

_Ummu Sulaim berkata, “Maka anak kita adalah titipan Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali.”_


Rasulullah ﷺ kemudian mendoakan mereka:


_“Semoga Allah memberkahimu atas malam kalian berdua.”_

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dari keturunan mereka lahir sembilan orang ulama ahli Al-Qur’an.


💡 *Pelajaran:*

Kesabaran bukan berarti tanpa kesedihan, tetapi kemampuan menjaga hati tetap tunduk pada kehendak Allah.

Sabar bukan reaksi sesaat, melainkan sikap hidup.


---

*3. Mementingkan Orang Lain (Itsâr)*


Ummu Sulaim juga terkenal dengan kemurahan hatinya. Ia selalu siap menolong dan berbagi.

Allah menggambarkan sifat kaum Anshar ini:


_"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."_

(QS. Al-Hasyr: 9)


Namun, dalam hal ibadah mahdhah, seorang Muslim justru harus mementingkan dirinya sendiri — memperbaiki shalatnya, dzikirnya, dan kedekatannya dengan Allah. Karena kelak, tak seorang pun dapat menggantikan amal kita di hadapan-Nya.


---

🌤️ _Sabar Tak Berbatas: Antitesis dari "Sabar Ada Batasnya"_


Di masa kini, sering terdengar ungkapan “Sabar itu ada batasnya.”

Padahal, dalam Islam, sabar tidak mengenal batas.


Sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi menjaga hubungan dengan Allah agar tidak terputus.

Jika seseorang berkata bahwa sabarnya sudah habis, berarti ia telah memutus ikatan spiritual dengan Rabb-nya.


Allah berfirman:


_"Inna Allâha ma‘ash-shâbirîn"_ _Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar._

(QS. Al-Baqarah: 153)


Maka, jika sabar itu berhenti, kebersamaan Allah pun menjauh.

Yang hilang bukan sekadar kesabaran, tetapi kehadiran Allah dalam jiwanya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia diberi nikmat, ia bersyukur — itu baik baginya. Jika ia diuji, ia bersabar — itu juga baik baginya.”_

(HR. Muslim)


💡 *Refleksi:*

➡️ Ketika sabar menjadi terbatas, ego mengambil alih.

➡️ Tetapi ketika sabar tak berbatas, hati dikuasai oleh ridha.

➡️ Di situlah letak kedekatan sejati dengan Allah.


---

🌾 *Dalil tentang Kesabaran*


_"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."_

(QS. Al-Baqarah: 155)


_"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)."_

(QS. Al-Baqarah: 156)


---

🌷 *Kesimpulan Kajian*


1. Aqidah yang benar menjadi dasar segala amal dan pilihan.


2. Sabar tidak punya batas. Jika sabar berhenti, maka keberadaan Allah menjauh dari diri kita.


3. Infaq dan itsâr adalah bukti iman yang hidup.


4. Dalam ibadah pribadi, fokuslah memperbaiki diri — karena hanya amal kita yang akan menjadi saksi di hadapan Allah.


5. Ummu Sulaim r.a. adalah teladan perempuan mukmin: beriman sebelum cinta, bersabar sebelum putus asa, dan beramal sebelum berkata.


---

🌿 *Doa Penutup Reflektif*


اللهم اجعلنا من الصابرين، وامنحنا يقيناً لا يتزعزع، وقلوباً راضية بقدرك، ونوراً يهدينا في setiap ujian hidup.


_“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang sabar, beriman dalam setiap ujian, dan tetap dekat dengan-Mu saat dunia menjauh.”._

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda