Kamis, 02 Oktober 2025

MEMELIHARA NILAI PAHALA

 


MEMELIHARA NILAI PAHALA


Materi Pengajian Malam Jumat

PCM Ciampea 

Masjid An-Nawawi, 2 September 2025


Nara sumber: Ustadz Burhanuddin, S.Pd.

Ulasan oleh: Sugiri


1. Menjaga Amal dengan Ikhlash sampai Akhir Hayat


🔹 Mengapa ikhlash penting?

Karena ikhlash adalah syarat diterimanya amal. Allah SWT hanya menerima amal yang dikerjakan karena-Nya semata. Tanpa ikhlash, amal jadi kosong meski nampak besar di dunia.


Dalil Qur’an:


"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

(QS. Al-Bayyinah: 5)


Hadits:

Rasulullah ď·ş bersabda:

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

(HR. Bukhari & Muslim)


🔹 Kenapa harus dijaga sampai akhir hayat?

Karena amal bisa gugur jika di tengah jalan berubah niat, terutama terkena penyakit riya’ (pamer). Allah memberi peringatan:


"Maka janganlah kamu batalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)."

(QS. Al-Baqarah: 264)


Para ulama menjelaskan, siapa yang beramal karena Allah lalu di akhir hayat murtad atau riya hingga meninggalkan tauhid, maka seluruh amalnya gugur (lihat Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al-Kahfi: 105).


---

2. Menghindari Kezhaliman agar Amal Tidak Hilang di Akhirat


*Perbedaan antara riya dan zhalim:*


Riya → Amal gugur di dunia, tidak sampai ke akhirat.


Zhalim → Amal tetap tercatat, tetapi dihisab di akhirat bisa berpindah ke orang lain.



Dalil Qur’an:

"Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak."

(QS. Ibrahim: 42)


Hadits:

Rasulullah ď·ş bersabda:

"Barangsiapa pernah menzhalimi saudaranya, baik dalam hal kehormatan atau sesuatu lainnya, hendaklah ia meminta halal (maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari ketika dinar dan dirham tidak lagi bermanfaat. Pada hari itu jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil dari amal salehnya untuk diberikan kepada orang yang dizhalimi. Namun jika ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa orang yang dizhalimi akan dibebankan kepadanya."

(HR. Bukhari)


Pandangan Ulama Klasik:

Ibnu Rajab al-Hanbali: “Kezhaliman adalah perkara yang paling cepat menghapus pahala, bahkan amal sebesar gunung bisa sirna karena kezhaliman kepada manusia.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam).


Al-Ghazali: menegaskan bahwa kezhaliman kepada manusia lebih berat dosanya daripada maksiat yang hanya kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun, tetapi manusia bisa tidak memaafkan.


Pandangan Ulama Kontemporer:

Syekh Yusuf al-Qaradawi: menekankan bahwa dosa sosial (kezhaliman) lebih berbahaya karena Allah tidak akan ampuni kecuali korban memaafkan. Beliau menukil hadits di atas tentang “al-muflis” (orang bangkrut di akhirat).


Syekh Shalih al-Munajjid (islamqa): menjelaskan bahwa amal baik tetap ada, tapi ia akan dipindahkan sebagai “kompensasi keadilan” kepada korban kezhaliman.


---

Kesimpulan Ulasan

1. Ikhlash adalah ruh amal. Tanpa ikhlash, amal batal. Maka jaga niat dari awal sampai akhir hayat, jangan ternodai oleh riya.


2. Zhalim tidak langsung menghapus pahala, tapi membuat pahala "dipindahkan" ke orang yang dizhalimi saat hari kiamat. Kalau pahalanya habis, dosa orang lain ditimpakan kepadanya.


3. Keduanya berbahaya: Riya mengosongkan pahala sejak dunia, sementara zhalim membuat bangkrut di akhirat.


---

Jadi jama'ah, menjaga pahala amal baik itu dengan memurnikan niat hingga akhir hayat dan menghindari kezhaliman pada sesama manusia.

Itulah jalan selamat agar amal benar-benar sampai kepada Allah dan tidak berpindah tangan.


 Wallahu a'lam bishshawab

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda