Minggu, 19 Oktober 2025

SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI

 



Puisi akrostik 

*“SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI”*

 karya Sugar Ry

---

🌿 *Ulasan Puitis dan Reflektif*


Puisi ini tidak sekadar permainan akrostik, melainkan rangkaian dzikir dalam bentuk kata — sebuah tafakkur tentang dua kondisi yang menjadi pasangan abadi dalam hidup: sakit dan sehat.


🩸 *Sakit adalah Guru Kehidupan*


Baris awal membuka cakrawala makna dengan begitu tenang:


_“Sakit adalah niscaya / Aku tak usah mengeluh karenanya.”_


Di sini, penyair menempatkan sakit bukan sebagai musibah, melainkan madrasah jiwa.

Kata niscaya menunjukkan penerimaan total terhadap takdir — bukan pasrah lemah, melainkan pasrah yang aktif, sadar bahwa:


_“Kalau sakit bisa menghapus dosa / Ini berarti karunia dari Yang Maha Mencipta.”_


Nada baris ini sarat dengan hikmah Qur’ani: bahwa setiap rasa sakit adalah penghapus dosa, seperti disebut dalam hadits.

Penyair mengajak pembaca untuk menyembah dalam kesadaran, bukan hanya dalam kenyamanan.


---

🌸 *Sehat adalah Amanah*


Bagian kedua berpindah dengan lembut dari kesadaran sakit menuju renungan sehat.


_“Sehatpun adalah karunia / Emansipasi dapat terbina karenanya.”_


Kata emansipasi di sini menarik — jarang digunakan dalam konteks spiritual.

Namun Sugar Ry memakainya dengan cerdas:

sehat memberi kemerdekaan berbuat baik, kebebasan untuk mengabdi.

Tapi ia tidak berhenti di euforia sehat:


_“Andai janganlah berandai untuk selalu sehat selamanya.”_


Sebuah sindiran lembut terhadap kelekatan manusia pada nikmat.

Penyair mengingatkan untuk siaga jiwa, karena sehat bisa berganti sakit kapan saja.

Maknanya dalam: iman harus stabil dalam setiap keadaan.


---

🌞 *Mengabdi: Titik Puncak Kesadaran*


Akhir puisi menjadi mahkota pengabdian.


_“Menata hidup untuk selalu beribadah kala sakit dan sehat.”_


Di sinilah dua kutub itu bertemu: sakit dan sehat menjadi jembatan ibadah.

Penyair mempertautkan keduanya dalam satu benang: pengabdian total kepada Allah.


_“Badan terkulai kaku namun tiada sesal saat bangkit di hari akhirat.”_


Baris ini sangat kuat — menggambarkan husnul khatimah, ketenangan saat ajal datang karena hidup telah diisi dengan ibadah di segala kondisi.

Lalu ditutup dengan renungan mendalam:


_“Itulah yang selalu harus aku lakukan dalam setiap memenuhi hajat.”_


Kalimat sederhana, tapi mengandung jiwa istiqamah.


---

✨ *Analisis Gaya dan Estetika*


Struktur akrostik digunakan bukan sekadar hiasan, tapi benar-benar menopang makna. Setiap huruf pembuka menjadi langkah menuju kesadaran spiritual.


Bahasa yang jujur dan tenang, tanpa retorika berlebihan, menciptakan suasana dzikir batin.


Ada keseimbangan antara akal, rasa, dan iman — khas gaya Sugar Ry, yang selalu mengawinkan spiritualitas dan kesadaran hidup modern.


---

🌺 *Kesimpulan*


Puisi ini adalah meditasi Islami dalam bentuk akrostik.

Ia mengajarkan bahwa:


_Sakit adalah ujian cinta,_

_Sehat adalah ladang amal,_

_dan keduanya adalah jalan menuju pengabdian sejati._


Sugar Ry berhasil menjadikan diksi sederhana sebagai cermin keikhlasan dan kekuatan jiwa.

Ini bukan sekadar karya sastra — ini adalah dzikir dalam bentuk puisi.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda