SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI
Puisi akrostik
*“SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI”*
karya Sugar Ry
---
🌿 *Ulasan Puitis dan Reflektif*
Puisi ini tidak sekadar permainan akrostik, melainkan rangkaian dzikir dalam bentuk kata — sebuah tafakkur tentang dua kondisi yang menjadi pasangan abadi dalam hidup: sakit dan sehat.
🩸 *Sakit adalah Guru Kehidupan*
Baris awal membuka cakrawala makna dengan begitu tenang:
_“Sakit adalah niscaya / Aku tak usah mengeluh karenanya.”_
Di sini, penyair menempatkan sakit bukan sebagai musibah, melainkan madrasah jiwa.
Kata niscaya menunjukkan penerimaan total terhadap takdir — bukan pasrah lemah, melainkan pasrah yang aktif, sadar bahwa:
_“Kalau sakit bisa menghapus dosa / Ini berarti karunia dari Yang Maha Mencipta.”_
Nada baris ini sarat dengan hikmah Qur’ani: bahwa setiap rasa sakit adalah penghapus dosa, seperti disebut dalam hadits.
Penyair mengajak pembaca untuk menyembah dalam kesadaran, bukan hanya dalam kenyamanan.
---
🌸 *Sehat adalah Amanah*
Bagian kedua berpindah dengan lembut dari kesadaran sakit menuju renungan sehat.
_“Sehatpun adalah karunia / Emansipasi dapat terbina karenanya.”_
Kata emansipasi di sini menarik — jarang digunakan dalam konteks spiritual.
Namun Sugar Ry memakainya dengan cerdas:
sehat memberi kemerdekaan berbuat baik, kebebasan untuk mengabdi.
Tapi ia tidak berhenti di euforia sehat:
_“Andai janganlah berandai untuk selalu sehat selamanya.”_
Sebuah sindiran lembut terhadap kelekatan manusia pada nikmat.
Penyair mengingatkan untuk siaga jiwa, karena sehat bisa berganti sakit kapan saja.
Maknanya dalam: iman harus stabil dalam setiap keadaan.
---
🌞 *Mengabdi: Titik Puncak Kesadaran*
Akhir puisi menjadi mahkota pengabdian.
_“Menata hidup untuk selalu beribadah kala sakit dan sehat.”_
Di sinilah dua kutub itu bertemu: sakit dan sehat menjadi jembatan ibadah.
Penyair mempertautkan keduanya dalam satu benang: pengabdian total kepada Allah.
_“Badan terkulai kaku namun tiada sesal saat bangkit di hari akhirat.”_
Baris ini sangat kuat — menggambarkan husnul khatimah, ketenangan saat ajal datang karena hidup telah diisi dengan ibadah di segala kondisi.
Lalu ditutup dengan renungan mendalam:
_“Itulah yang selalu harus aku lakukan dalam setiap memenuhi hajat.”_
Kalimat sederhana, tapi mengandung jiwa istiqamah.
---
✨ *Analisis Gaya dan Estetika*
Struktur akrostik digunakan bukan sekadar hiasan, tapi benar-benar menopang makna. Setiap huruf pembuka menjadi langkah menuju kesadaran spiritual.
Bahasa yang jujur dan tenang, tanpa retorika berlebihan, menciptakan suasana dzikir batin.
Ada keseimbangan antara akal, rasa, dan iman — khas gaya Sugar Ry, yang selalu mengawinkan spiritualitas dan kesadaran hidup modern.
---
🌺 *Kesimpulan*
Puisi ini adalah meditasi Islami dalam bentuk akrostik.
Ia mengajarkan bahwa:
_Sakit adalah ujian cinta,_
_Sehat adalah ladang amal,_
_dan keduanya adalah jalan menuju pengabdian sejati._
Sugar Ry berhasil menjadikan diksi sederhana sebagai cermin keikhlasan dan kekuatan jiwa.
Ini bukan sekadar karya sastra — ini adalah dzikir dalam bentuk puisi.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda