Jumat, 15 Agustus 2025

Kemerdekaan dan Cara Berpikir Qur’ani

 


*Kemerdekaan dan Cara Berpikir Qur’ani*


Oleh: Sugiri


Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang menuntun manusia bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam cara berpikir. Dua jalur penalaran yang sering kita temukan di dalamnya adalah deduktif (umum → khusus) dan induktif (khusus → umum).


*Deduktif: Hukum Allah yang Pasti*


Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

_"Setiap jiwa pasti merasakan mati."_ (QS. Ali Imran: 185)


Ayat ini mengajarkan kepastian hukum Allah. Tidak ada manusia, bahkan bangsa mana pun, yang kekal. Kemerdekaan adalah nikmat, tapi ia bisa hilang jika disalahgunakan.


*Induktif: Renungan atas Fenomena*


Allah juga berfirman:

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ، وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ، وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ، وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

_"Maka tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, gunung bagaimana ditegakkan, dan bumi bagaimana dihamparkan?"_ (QS. Al-Ghasyiyah: 17–20)


Ayat ini mengajak manusia merenung dari banyak contoh khusus, lalu menyimpulkan adanya Allah yang Maha Kuasa.


Jika kita tarik pada sejarah bangsa, banyak fenomena khusus yang tidak boleh dilupakan: pengorbanan para syuhada, tangisan para ibu, perjuangan para ulama dan rakyat jelata. Kesimpulannya jelas: kemerdekaan ini bukan semata hasil jerih payah, tetapi karunia dan pertolongan Allah.


*Refleksi Kemerdekaan*

Di hari kemerdekaan, banyak orang menghias gapura dengan megah, mengecat jalanan merah putih, bahkan melukis kisah perjuangan di dinding. Itu semua indah sebagai ekspresi syukur. Namun, alangkah ironis bila lingkungan tampak meriah, tapi akhlak masih rusak: buang sampah sembarangan, abai dari shalat berjamaah, dan menghamburkan harta untuk sesuatu yang sia-sia.


Apalah arti gapura cantik bila hati masih kotor? Apalah arti bendera berkibar bila lidah masih dusta dan tangan masih zalim?


Al-Qur’an mengingatkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

_"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu; tetapi jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."_ (QS. Ibrahim: 7)


*Penutup*

Syukur kemerdekaan bukan sekadar seremonial. Syukur kemerdekaan adalah menjaga amanah: taat kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan menebar manfaat.


Mari kita rayakan 17 Agustus dengan cara Qur’ani: logika kita berjalan, hati kita bergetar, amal kita ikhlas. Karena bangsa yang merdeka sejati bukan hanya yang bebas dari penjajah, tetapi yang merdeka dari hawa nafsu dan dosa.


Wallāhu a‘lam.

Jumat, 08 Agustus 2025

Belajar dari Kenyataan

 


*Lari dari Kenyataan*


L ari menjauh,

A gar terhindar dari pahitnya kenyataan.

R asakan, bila kebiasaan itu berulang,

I a hanya akan menjerumuskan pada keburukan yang lebih dalam.


D ari sana lahir masalah-masalah baru,

A nda mesti sadar akan bahaya yang mengintai.

R asa dan asa pun terkungkung,

I ni bisa merusak raga dan jiwa.


K arena lari dari kenyataan,

E ngkau takkan tumbuh dengan sehat.

N ama baik diri dan keluarga ikut terseret,

Y ang menekan batin tanpa ampun.

A tau bahkan mengikis kepercayaan,

T erputuslah ikatan kerja yang terjalin,

A mbruklah tatanan yang dibangun lama.

A khirnya efek domino tak terelakkan,

N ilai diri pun jatuh sedalam jurang.


Karya: Sugiri


*Pentingnya Menghadapi Kenyataan*


P egang teguh hatimu saat badai datang,

E nggan menyerah pada rasa takut yang menipu.

N ikmati proses meski langkah terasa berat,

T empat terbaik untuk tumbuh adalah di medan nyata.

I ngatlah, masalah tak akan hilang dengan lari,

N urani akan damai bila kita berani menghadapinya.

G unakan akal dan iman sebagai pedoman,

N iscaya jalan keluar terbuka perlahan.

Y akinlah, setiap tantangan membawa pelajaran,

A kan tumbuh kekuatan dari kesungguhan hati.


M ulailah dari hal kecil yang bisa kau atasi,

E ratkan tekad dan langkahmu.

N ilai hidup akan terjaga,

G agah berdiri di tengah gelombang ujian.

H arapan terbit saat gelap mulai pudar,

A kan datang pertolongan dari arah yang tak disangka.

D engan hadapi kenyataan,

A kan lahir keberanian sejati.

P engalaman jadi guru berharga,

I tu bekal perjalananmu kelak.


K arena berani menghadapi kenyataan,

E ngkau menjaga harga diri dan martabat.

N ama baik tetap bersinar,

Y ang membuat orang percaya padamu.

A khirnya, masa depan tegak berdiri,

T ak terguncang oleh ujian yang datang.

A lam pun bersaksi atas kesabaranmu,

A kan selalu ada cahaya di ujung jalan,

N iscaya kemenangan menjadi milikmu.


Karya: Sugiri



Belajar dari Kenyataan


B eberapa kebenaran datang seperti cahaya subuh — lembut, tapi tak bisa ditolak.

E ntah manis atau pahit, ia tetap mengetuk pintu hati.

L aut pengalaman menampung gelombang yang pernah menjatuhkan,

A gar kelak kita paham, ombak pun guru yang setia.

J embatan waktu terbentang di antara luka dan pelipur,

A ngin yang dulu dingin kini membawa kabar hangat.

R emaslah tiap detik, sebab ia tak akan kembali.


D ari kenyataan, kita belajar bahwa pasir waktu tak bisa diikat,

A wal dan akhir hanyalah dua sisi mata uang kehidupan.

R elakan yang pergi seperti daun jatuh ke sungai,

I a mengalir menuju laut yang sudah menunggunya.


K arena di sanalah, di aliran takdir yang jujur,

E mas batin ditempa oleh api ujian.

N urani yang terasah mampu membaca bisik alam,

Y ang mengajari bahwa setiap badai pun membawa benih.

A khirnya, kita berjalan bukan untuk lari dari hujan,

T api untuk menari di tengahnya,

A gar setiap tetes menjadi air wudhu bagi jiwa.

N iscaya, langkah kita akan sampai pada dermaga ridha-Nya.


Karya: Sugiri

Sabtu, 02 Agustus 2025

Antara Al-Qur'an dan Medsos: Menjaga Keseimbangan di Era Digital

 


Antara Al-Qur'an dan Medsos: Menjaga Keseimbangan di Era Digital


Oleh: Sugiri (Mr. Sugar Ry)


Pendahuluan


Zaman terus berubah, dari era analog ke digital, dari mushaf fisik ke mushaf digital, dan dari majelis ilmu ke forum daring. Semua perubahan ini adalah bagian dari takdir Allah dalam dinamika kehidupan manusia. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: seimbangkah interaksi kita dengan Al-Qur’an dibandingkan dengan interaksi kita dengan media sosial?


Saat waktu berlalu tanpa makna, kita bisa menjadi "Rukhiyat"—Rugi di Akhir Hayat. Mari kita renungkan secara ilmiah dan reflektif, agar waktu tidak tersia, dan pulsa tidak mubazir.


1. Fakta Penggunaan Internet dan Media Sosial

Menurut laporan We Are Social & Hootsuite tahun 2025:

- Rata-rata waktu yang dihabiskan orang Indonesia di internet: 8 jam 36 menit per hari.

- Rata-rata waktu di media sosial: 3 jam 18 menit per hari.

- Pengguna aktif media sosial di Indonesia: 191 juta jiwa.

- Pengeluaran kuota internet per bulan: sekitar Rp100.000 – Rp250.000.


Dalam setahun, seorang pengguna bisa menghabiskan Rp1.200.000 – Rp3.000.000 hanya untuk kuota internet. Apakah dana itu hanya untuk hiburan dan konten tak berguna, atau menjadi sarana dakwah dan belajar?


2. Interaksi dengan Al-Qur’an: Seberapa Sering?

Banyak muslim hari ini merasa cukup membaca Al-Qur’an hanya di bulan Ramadan. Padahal, Allah berfirman:


"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2)


"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus..." (QS. Al-Isra’: 9)


Imam Al-Ghazali berkata: "Janganlah engkau tinggalkan membaca Al-Qur’an meski sehari walau hanya satu ayat, karena itu adalah makanan ruhmu."


Jika setiap hari kita membuka Instagram 20 kali, tetapi Al-Qur’an tidak sekali pun, apa yang sedang kita beri makan? Ruh atau hawa nafsu?


3. Medsos: Ujian atau Ladang Dakwah?

Media sosial bukan haram. Ia seperti pisau—tergantung penggunaannya. Nabi SAW bersabda:


"Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya." (HR. Muslim)


Di zaman Gen-Z, dakwah tidak hanya dari mimbar, tapi dari timeline dan beranda. Jika kita membagikan ayat Qur’an, kutipan ulama, refleksi kehidupan, atau nasihat hikmah, maka kuota yang habis pun menjadi ladang pahala.


4. Renungan: Pulsa dan Waktu Akan Dimintai Pertanggungjawaban

"Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: … tentang umurnya untuk apa dihabiskan..." (HR. Tirmidzi)


Pulsa adalah bagian dari harta. Waktu adalah nikmat. Maka keduanya akan ditanya:

- Apakah kita menyia-nyiakan waktu untuk scrolling tanpa arah?

- Apakah kita menggunakan kuota untuk keburukan dan maksiat digital?

- Apakah kita berkontribusi dalam menyebarkan kebodohan, hoax, dan fitnah?


Umar bin Khattab berkata: "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang."


5. Menuju Gaya Hidup Qur'ani di Era Digital

Agar tidak menjadi "Rukhiyat" (Rugi di Akhir Hayat), mari terapkan pola:


Aktivitas | Durasi Rata-rata | Evaluasi

------------------|------------------|----------

Buka media sosial | 3 jam/hari | Kurangi

Baca Qur’an | 10 menit/hari | Tingkatkan

Buat konten dakwah| 0 menit/hari? | Mulai dari sekarang


Target sederhana:

- 1 hari = 1 ayat.

- 1 minggu = 1 konten bermanfaat dibagikan.

- 1 bulan = 1 refleksi ditulis dari ayat yang kita baca.


Penutup

Di era digital, kita bukan hanya ditanya tentang apa yang kita klik, tapi apa yang kita abaikan. Jika Al-Qur’an tidak dibuka, dan medsos selalu jadi prioritas, maka kita sedang menunda keselamatan untuk mengejar hiburan sesaat.


Mari jadikan interaksi dengan Al-Qur’an lebih bermakna daripada interaksi dengan media sosial.


Akhirnya, kita kembali kepada Allah, dan akan menjawab pertanyaan-Nya tentang waktu, harta, dan ilmu. Gunakanlah jari-jarimu sebagai saksi dakwah, bukan saksi penyesalan.


"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Allah akan memberinya pemahaman terhadap agama." (HR. Bukh

ari dan Muslim)


Wallahu a'lam bishshawab 

Jumat, 01 Agustus 2025

Fiha Tahyaun, Fiha Tamutuun, Waminha Tukhrojuun

 


Fiha Tahyaun, Fiha Tamutuun, Waminha Tukhrojuun

Oleh Sugiri

Refleksi tentang Hidup, Mati, dan Kebangkitan Tanpa Ghuluw terhadap Teknis Kepindahan ke Fase Akhirat


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


قَالَ فِيْهَا تَحْيَوْنَ وَفِيْهَا تَمُوْتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ


"(Allah) berfirman, 'Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.'" 

(QS. Al-A'raf: 25)


Ayat ini menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Kata ganti "ha" dalam ayat tersebut merujuk pada "al-ardh" (bumi). Di sinilah manusia diturunkan, hidup, dan mati. Bahkan, dari bumi pula manusia akan dibangkitkan kelak. Ini menjadi pengingat bahwa bumi adalah panggung utama kehidupan manusia—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan eskatologis.


Yang menarik, Allah menyebut "minha tukhrajuun"—dari bumi kamu akan dibangkitkan. Ini mengacu pada fase pasca kiamat, saat bumi lama dihancurkan dan diganti dengan bumi yang baru:


"(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) semuanya menghadap kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."

(QS. Ibrahim: 48)


Di sanalah manusia dikumpulkan, bukan untuk kembali ke dunia, tapi untuk memulai kehidupan abadi. Hadits sahih dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menguatkan hal ini:


"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di bumi yang putih bersih, seperti roti gandum yang tipis dan bersih, tak ada tanda tempat tinggal untuk siapa pun di sana."

(HR. Bukhari no. 6521 dan Muslim no. 2790)


Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bumi adalah tempat dimulainya dan diakhirinya perjalanan manusia. Bahkan, kebangkitan pada hari kiamat berasal dari bumi pula. Menurut beliau, ayat ini mengandung makna bahwa manusia akan kembali dibangkitkan dari kubur yang merupakan bagian dari bumi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaha: 55:


"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain."


Sementara itu, Al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menyatakan bahwa bumi yang disebut dalam QS. Ibrahim: 48 adalah bumi yang diubah bentuknya menjadi datar, putih, tanpa pegunungan, laut, atau bangunan. Di sanalah manusia dikumpulkan untuk dihisab. Ia menegaskan bahwa meski bentuknya berubah, hakikatnya tetap bumi, tempat dimulainya kebangkitan.


Namun, sebagai manusia yang beriman, kita diajarkan untuk tidak tenggelam dalam upaya membongkar tabir ghaib secara teknis. Islam mengajarkan iman bil ghaib —percaya pada yang ghaib— tanpa harus mengetahui seluruh detailnya. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana perpindahan dari Padang Mahsyar menuju surga atau neraka secara fisik. Itu semua adalah urusan Allah semata. Firman-Nya cukup menjadi panduan, bukan peta teknis.


Allah juga menegaskan:


"وَمَا أُوتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلًا"

"Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit."

(QS. Al-Isra': 85)


Karenanya, kita cukupkan diri dengan keyakinan dan tunduk. Tidak ghuluw (berlebihan) dalam membahas apa yang tak terjangkau oleh nalar. Justru, perenungan terhadap ayat ini mendorong kita untuk mempersiapkan bekal amal, bukan penasaran dengan proses teknis alam barzakh dan akhirat.


"Fiha tahyaun, fiha tamutuun, waminha tukhrojuun" adalah pengingat ringkas tapi dahsyat. Hidup bukan kebetulan. Mati bukan akhir. Dan kebangkitan bukan mustahil. Semuanya terjadi di bumi ini—dalam pengaturan Sang M

ahakuasa.


Wallahu a'lam bish-shawab.