Kemerdekaan dan Cara Berpikir Qur’ani
*Kemerdekaan dan Cara Berpikir Qur’ani*
Oleh: Sugiri
Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang menuntun manusia bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam cara berpikir. Dua jalur penalaran yang sering kita temukan di dalamnya adalah deduktif (umum → khusus) dan induktif (khusus → umum).
*Deduktif: Hukum Allah yang Pasti*
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
_"Setiap jiwa pasti merasakan mati."_ (QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini mengajarkan kepastian hukum Allah. Tidak ada manusia, bahkan bangsa mana pun, yang kekal. Kemerdekaan adalah nikmat, tapi ia bisa hilang jika disalahgunakan.
*Induktif: Renungan atas Fenomena*
Allah juga berfirman:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ، وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ، وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ، وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
_"Maka tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, gunung bagaimana ditegakkan, dan bumi bagaimana dihamparkan?"_ (QS. Al-Ghasyiyah: 17–20)
Ayat ini mengajak manusia merenung dari banyak contoh khusus, lalu menyimpulkan adanya Allah yang Maha Kuasa.
Jika kita tarik pada sejarah bangsa, banyak fenomena khusus yang tidak boleh dilupakan: pengorbanan para syuhada, tangisan para ibu, perjuangan para ulama dan rakyat jelata. Kesimpulannya jelas: kemerdekaan ini bukan semata hasil jerih payah, tetapi karunia dan pertolongan Allah.
*Refleksi Kemerdekaan*
Di hari kemerdekaan, banyak orang menghias gapura dengan megah, mengecat jalanan merah putih, bahkan melukis kisah perjuangan di dinding. Itu semua indah sebagai ekspresi syukur. Namun, alangkah ironis bila lingkungan tampak meriah, tapi akhlak masih rusak: buang sampah sembarangan, abai dari shalat berjamaah, dan menghamburkan harta untuk sesuatu yang sia-sia.
Apalah arti gapura cantik bila hati masih kotor? Apalah arti bendera berkibar bila lidah masih dusta dan tangan masih zalim?
Al-Qur’an mengingatkan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
_"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu; tetapi jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."_ (QS. Ibrahim: 7)
*Penutup*
Syukur kemerdekaan bukan sekadar seremonial. Syukur kemerdekaan adalah menjaga amanah: taat kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan menebar manfaat.
Mari kita rayakan 17 Agustus dengan cara Qur’ani: logika kita berjalan, hati kita bergetar, amal kita ikhlas. Karena bangsa yang merdeka sejati bukan hanya yang bebas dari penjajah, tetapi yang merdeka dari hawa nafsu dan dosa.
Wallāhu a‘lam.




