Jumat, 14 November 2025

Habil dan Qabil Modern

 



đŸ©ž *Habil dan Qabil Modern: Mengapa Ada Perang Saudara? Apa yang Salah — Agama Mereka, atau Manusia Itu Sendiri?*


Oleh Sugichat

---

*1. Awal Segala Pertikaian: Luka Pertama di Bumi*

Sejarah darah manusia dimulai bukan dari perang antarnegara, tapi dari dua saudara kandung: Habil dan Qabil.

Keduanya anak Nabi Adam, manusia pertama. Mereka sama-sama mengenal Allah, sama-sama menyembah-Nya, tapi berbeda dalam ketulusan hati.

Habil mempersembahkan kurban terbaik yang ia miliki, sementara Qabil mempersembahkan sekadarnya. Ketika Allah menerima kurban Habil dan menolak Qabil, timbullah iri, dengki, dan kemarahan.


Allah berfirman:

_“Maka timbullah rasa iri hati pada diri Qabil terhadap saudaranya (Habil) lalu Qabil membunuhnya. Maka ia termasuk orang-orang yang rugi.”_

(QS. Al-Ma’idah [5]: 30)


Inilah darah pertama yang tumpah di bumi.

Dan sejak saat itu, benih pertikaian manusia tumbuh dari iri dan ketidakikhlasan terhadap keputusan Allah.


---

*2. Dari Qabil ke Sejarah Manusia*

Para ulama tafsir seperti Ibn Katsir menulis:


_“Qabil membunuh Habil bukan karena perintah syariat atau ideologi, tapi karena penyakit hati. Maka siapa pun yang memulai permusuhan karena kedengkian, ia mewarisi dosa Qabil.”_


Sejak itu, pola Qabil terus berulang:

[Di zaman Nuh, kaum pembangkang menolak seruan Nabi karena merasa lebih berkuasa.

✓Di zaman Musa, Firaun iri pada pengaruh sang nabi dan menindas Bani Israil.

✓Di zaman Nabi Muhammad ï·ș, kaum Quraisy menolak kebenaran karena takut kehilangan kehormatan duniawi.


Semua perang batin itu lahir dari akar yang sama: kesombongan terhadap kehendak Allah.


---

*3. Ketika Agama Menjadi Tameng Nafsu*

Pertikaian modern, baik di Timur Tengah, Eropa, Amerika, maupun Indonesia, tidak lahir karena agama yang salah, tapi karena agama dijadikan alat, bukan tujuan.

Ketika iman hanya di lidah, bukan di hati, maka agama berubah menjadi bendera politik, bukan cahaya petunjuk.


Rasulullah ï·ș bersabda:


_“Bukanlah dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan (‘ashabiyyah), dan bukan dari kami orang yang berperang karena ‘ashabiyyah.”_

(HR. Abu Dawud)


Maka, ketika umat Islam sendiri berpecah karena partai, ormas, atau perbedaan politik, sesungguhnya yang bertarung bukan aqidah — tapi ego yang berseragam religius.


---

*4. Sejarah yang Mengulang Diri*


Beberapa contoh nyata:

Perang Shiffin (657 M): Dua pasukan Muslim, masing-masing dipimpin sahabat agung (Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah), berperang karena perbedaan cara menegakkan keadilan atas terbunuhnya Utsman bin Affan.

Ibn Taimiyyah menulis: “Keduanya menuntut kebenaran, tapi hawa nafsu dan kesalahpahaman menutup sebagian cahaya petunjuk.”


Perang Salib (1095–1291): Atas nama Tuhan, darah mengalir di tanah suci. Tapi sebagian besar prajurit berperang bukan karena iman, melainkan karena ambisi politik dan ekonomi.


Dunia Modern: Perang saudara di Suriah, Yaman, Sudan, bahkan konflik politik di negeri Muslim sendiri, semuanya menggambarkan Qabil yang bereinkarnasi dalam bentuk baru — berjas, berseragam, atau bersorban, tapi hatinya sama: haus kuasa.


---

*5. Apa yang Salah* — *Agamanya atau Manusia?*

Agama adalah cahaya; ia tak pernah bersalah.

Yang salah adalah tangan manusia yang menutup cahaya itu dengan debu kepentingan.


Allah mengingatkan:

_“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”_

(QS. Ar-Rum [30]: 41)


Dan Sayyidina Ali berkata:

_“Agama itu tidak akan pernah menzalimi manusia; manusialah yang menzalimi agama.”_


---

*6. Habil Modern: Mereka yang Tak Mau Membalas Kebencian*

Habil berkata kepada saudaranya:


_“Sesungguhnya jika engkau mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”_

(QS. Al-Ma’idah [5]: 28)


Itulah kalimat agung seorang hamba yang hatinya bersih.

Habil tahu, kemenangan sejati bukan menaklukkan musuh, tapi menaklukkan diri.


Di zaman ini, “Habil” hadir dalam wajah siapa pun yang menolak ikut membenci, menolak menebar hoaks, menolak menista saudaranya yang berbeda.

Mereka mungkin dianggap lemah, tapi di sisi Allah — merekalah yang kuat.


---

*7. Penutup: Dari Darah ke Doa*

Dunia masih berdarah karena Qabil belum berhenti hidup — ia tinggal di dalam dada manusia yang iri, sombong, dan merasa paling benar.

Namun, setiap kali ada seseorang berkata, “Aku ingin jadi Habil,” dunia menjadi sedikit lebih damai.


_“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”_

(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)


Maka tugas kita bukan membenarkan pihak, tapi membersihkan hati.

Karena perdamaian bukan dicapai dengan kekuatan senjata, tapi dengan kekuatan jiwa yang ridha terhadap keputusan Allah.


---

🌿 *Refleksi Akhir:*


Dunia butuh lebih banyak Habil, bukan pengkhotbah yang berbicara atas nama Tuhan tapi berperang atas nama diri.

Dan setiap kali manusia menahan amarahnya demi Allah, satu luka Qabil dalam sejarah sembuh untuk selamanya.


Wallahu a'lam bishshawab

Manisnya Iman

 


*Ulasan Khutbah Jumat: Manisnya Iman*

Oleh Sugiri

Hari ini Jumat, 14 November 2025, saya menunaikan Salat Jumat di Masjid An-Nawawi. Khotib, Al-Ustadz Firmansyah, membawakan tema yang menyentuh dan menohok: *manisnya iman.*

Setelah selesai dengan puji syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan seluruh umat Islam, khotib langsung mengajak jamaah merenung dengan satu pertanyaan retoris:

_“Kita sudah bertahun-tahun mendengar khotib mengingatkan tentang manisnya iman. Tapi
 sudahkah kita benar-benar merasakannya?”_

Pertanyaan itu menghentak, membuat kami menunduk dan berpikir.
---
*Tiga Ciri Orang yang Sudah Merasakan Manisnya Iman*

Khotib menjelaskan bahwa Rasulullah Saw menyebutkan tiga tanda utama seseorang telah merasakan manisnya iman.

*1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi* segala sesuatu

Cinta kepada Allah dan Rasul harus berada di puncak seluruh kecintaan manusia.

Khotib menukil ayat 31 dari Ali Imran sebagai bukti bahwa cinta kepada Allah menuntut kesungguhan:

_Jika seseorang mampu bersungguh-sungguh demi pasangan, harta, jabatan atau apa pun yang ia cintai, maka orang yang benar-benar mencintai Allah pun harus menunjukkan kesungguhannya—dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw, menjaga kemurnian ibadah, dan tidak membuat-buat amalan baru (bid’ah) atau terjatuh dalam kesyirikan._

Kesungguhan itulah yang akan mengundang cinta Allah dan ampunan-Nya.

---
*2. Mencintai pasangan karena Allah, bukan karena faktor duniawi*

Cinta suami kepada istri, atau istri kepada suami, hanya akan bernilai ibadah bila dasarnya adalah Allah.
Bukan sekadar karena fisik, harta, keturunan, status, atau keuntungan dunia lainnya.

Mencintai pasangan karena Allah akan melahirkan ketulusan, kesetiaan, dan kekuatan untuk mempertahankan pernikahan hingga akhir hayat.

---
*3. Takut kembali kepada kekufuran* sebagaimana takut dilemparkan ke neraka

Orang yang sudah merasakan manisnya iman akan sangat menjaga dirinya agar tidak kembali pada kekufuran atau kemaksiatan.

Ia berjuang keras meninggalkan maksiat
dan menjaga jarak dari bid’ah, karena bid’ah—kata khotib—amat dicintai oleh setan.

Mengapa?
Karena pelakunya merasa ia sedang berbuat ibadah, padahal ia sedang terjerumus pada kesesatan.

Berbeda dengan maksiat lain seperti zina, mabuk, atau mencuri, pelakunya sadar dirinya bermaksiat.
Tapi pelaku bid’ah justru merasa dirinya sedang berbuat baik—dan itu jauh lebih berbahaya.

---
*Penutup Khutbah*
Di akhir khutbah, khotib memanjatkan do’a, memohon agar Allah melindungi kita dari segala bentuk kemaksiatan, termasuk yang samar seperti bid’ah, serta meneguhkan kita dalam keimanan yang manis dan menenangkan.
Khotib lanjut menjadi imam dengan surat penyerta bada Al-fatihah adakah surat Ad-Duha dan Al-'Aadiyat.

---
*Penutup dari Sugiri*

Khutbah hari ini menjadi cermin bagi diri.
Bahwa manisnya iman bukanlah teori,
tetapi rasa yang hadir setelah kita:
✓menempatkan Allah dan Rasul di atas segalanya,
✓menjaga cinta dalam rumah tangga di atas landasan taqwa,
✓dan takut tergelincir kembali dalam kegelapan dosa.

Semoga Allah menanamkan manisnya iman di hati kita dan menjadikannya cahaya yang memandu langkah hidup.

Aamiin.