Rabu, 29 Oktober 2025

Analisis dari beberapa sudut pandang tentang Ayat 5 surat Al-Bayyinah

 



*Analisis dari beberapa sudut pandang tentang Ayat 5 surat Al-Bayyinah*


Oleh Sugiri


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ 

"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)."

(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)


---

🌿 *1. Mufrodat (Makna Per Kata)*

Kata Arab Translitrasi Arti

وَمَا أُمِرُوا wa mā umirū dan mereka tidak diperintahkan

إِلَّا illā kecuali / hanya

لِيَعْبُدُوا اللَّهَ li ya‘budullāh untuk menyembah Allah

مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ mukhlisīna lahud-dīn dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama

حُنَفَاءَ ḥunafā’a sebagai orang-orang yang lurus (tidak menyekutukan Allah)

وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ wa yuqīmūṣ-ṣalāh dan mendirikan salat

وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ wa yu’tūz-zakāh dan menunaikan zakat

وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ wa żālika dīnul-qayyimah dan itulah agama yang benar / lurus


🔹 Mukhlisīn → dari akar “خ ل ص” (kha-la-sha) bermakna bersih dari campuran, murni.

🔹 Hunafā’ → bentuk jamak dari ḥanīf, yaitu orang yang berpaling dari kesyirikan menuju tauhid.

🔹 Al-qayyimah → berarti agama yang tegak, stabil, dan lurus (tanpa penyimpangan).


---

📜 *2. Bayani (Pendekatan Tekstual – Makna Lahiriah Bahasa Arab)*

Pendekatan bayani berfokus pada penjelasan makna melalui struktur kebahasaan dan hubungan antar kata dalam teks wahyu.


Frasa "وَمَا أُمِرُوا إِلَّا" menunjukkan hasr (pembatasan): manusia tidak diperintahkan apa pun kecuali satu hal utama, yaitu ibadah dengan keikhlasan.


Kata "مُخْلِصِينَ" menjadi syarat diterimanya ibadah.


Kata "حُنَفَاءَ" menegaskan bentuk kesucian tauhid — lurus tanpa condong ke syirik.


Urutan sholat → zakat menunjukkan keterkaitan ibadah spiritual dan sosial.


Penutup "وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ" memberi kesimpulan bayani: inilah agama yang benar, yakni tauhid dengan amal saleh.


---

🔍 *3. Burhani (Pendekatan Rasional dan Logis)*

Pendekatan burhani menggunakan nalar rasional untuk memahami keteraturan logis ayat.


*Argumen rasionalnya:*

1. Tujuan hidup makhluk adalah menyembah Sang Pencipta. (lihat QS. Adz-Dzariyat: 56)

2. Keikhlasan (ikhlas lillah) adalah logika kemurnian pengabdian — tidak mungkin dua niat (Allah dan selain-Nya) menghasilkan ketenangan.

3. Shalat melatih disiplin spiritual dan kesadaran moral.

4. Zakat melatih tanggung jawab sosial dan ekonomi.

5. Maka, logika agama qayyimah (lurus) adalah sistem keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia).


---

🌌 *4. Irfani (Pendekatan Makrifat dan Rasa Spiritual)*

Pendekatan irfani menekankan penghayatan batin dan pengalaman ruhani.


Mukhlisīn berarti memurnikan niat hingga yang tersisa hanya Allah dalam hati.


Li ya‘budullāh bukan sekadar perintah ritual, tapi perjalanan batin menuju ma’rifatullah — mengenal Allah dengan hati yang bersih.


Hunafā’ adalah posisi jiwa yang selalu condong kepada fitrah suci, menjauhi hawa nafsu.


Ketika seseorang shalat dan berzakat dengan ikhlas, ia tidak hanya beramal, tapi sedang bertemu dengan Allah dalam kesadaran rohaninya.


“Dīn al-qayyimah” bagi ahli irfan adalah jalan ruhani yang stabil, tidak goyah meski dunia berguncang.


---

🧠 *5. Mantik (Pendekatan Logika Filsafat)*

Pendekatan mantik (logika formal) menelaah struktur berpikir dalam ayat:


Premis 1: Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah (Adz-Dzariyat: 56).

Premis 2: Ibadah yang diterima hanya yang ikhlas dan benar (Al-Mulk: 2).

Premis 3: Shalat dan zakat adalah manifestasi konkret ibadah.

Kesimpulan: Maka, agama yang benar (al-qayyimah) adalah sistem ibadah yang berlandaskan tauhid dan keikhlasan, dengan implikasi sosial dan moral.


Secara silogistik:

> Jika seseorang beribadah dengan ikhlas kepada Allah dan menegakkan shalat serta zakat, maka ia sedang menegakkan agama yang lurus.


---

✒️ *6. Balaghoh (Keindahan Retorika dan Gaya Bahasa)*

Ayat ini penuh kemukjizatan balaghiyyah:


1. Hasr (pembatasan) pada “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا” menunjukkan penegasan total — hanya satu tujuan.

2. Parallelism antara “وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ” menimbulkan irama bunyi yang harmonis (as-saj‘ al-murashshaḥ).

3. Tanasub (keserasian) antara ikhlas (dimensi batin) dan amal (dimensi lahir).

4. Al-qayyimah sebagai kata terakhir menutup ayat dengan kekokohan makna dan bunyi — memberi rasa tegak, lurus, dan kokoh.


---

🕰️ *7. Historis (Asbabun Nuzul dan Konteks Sosial)*

Ayat ini turun untuk menegur ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) serta kaum musyrikin Mekah.

Mereka berlebihan dalam ibadah, tapi kehilangan keikhlasan.

Sebagian menyembah Allah tetapi mencampur dengan kepentingan dunia, sebagian lain mempersekutukan Allah dengan makhluk.


Ayat ini mengembalikan esensi agama Ibrahim: tauhid yang murni.

Jadi, sejarahnya menunjukkan bahwa Islam bukan agama baru, melainkan restorasi terhadap ajaran tauhid asli.


---

📖 *8. Tafsir (Kontekstual dan Tematik)*

Menurut beberapa mufassir:


🔹 Tafsir Ibnu Katsir

Ayat ini menegaskan kewajiban manusia untuk memurnikan ibadah kepada Allah saja, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.

Inilah agama yang diserukan seluruh nabi.


🔹 Tafsir Al-Qurthubi

Keikhlasan adalah ruh ibadah; tanpa ikhlas, amal menjadi debu.

“Al-qayyimah” ialah agama yang menjaga keseimbangan antara lahir dan batin, dunia dan akhirat.


🔹 Tafsir Al-Mishbah (Quraish Shihab)

Ayat ini menuntun manusia untuk menjadikan agama bukan sekadar simbol, tapi orientasi hidup yang murni.

Agama yang qayyimah adalah sistem nilai yang menjaga keutuhan diri dan masyarakat.


---

🌺 *Kesimpulan Umum*

Ayat ini adalah manifesto tauhid dan keikhlasan universal.

Semua agama samawi hakikatnya memerintahkan hal yang sama:


1. Menyembah Allah dengan hati yang bersih,

2. Menegakkan hubungan dengan Allah (shalat),

3. Menegakkan hubungan dengan manusia (zakat),

4. Menjaga kemurnian agama agar tetap lurus (qayyimah).


Wallahu a'lam bishshawab

Minggu, 19 Oktober 2025

SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI

 



Puisi akrostik 

*“SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI”*

 karya Sugar Ry

---

🌿 *Ulasan Puitis dan Reflektif*


Puisi ini tidak sekadar permainan akrostik, melainkan rangkaian dzikir dalam bentuk kata — sebuah tafakkur tentang dua kondisi yang menjadi pasangan abadi dalam hidup: sakit dan sehat.


🩸 *Sakit adalah Guru Kehidupan*


Baris awal membuka cakrawala makna dengan begitu tenang:


_“Sakit adalah niscaya / Aku tak usah mengeluh karenanya.”_


Di sini, penyair menempatkan sakit bukan sebagai musibah, melainkan madrasah jiwa.

Kata niscaya menunjukkan penerimaan total terhadap takdir — bukan pasrah lemah, melainkan pasrah yang aktif, sadar bahwa:


_“Kalau sakit bisa menghapus dosa / Ini berarti karunia dari Yang Maha Mencipta.”_


Nada baris ini sarat dengan hikmah Qur’ani: bahwa setiap rasa sakit adalah penghapus dosa, seperti disebut dalam hadits.

Penyair mengajak pembaca untuk menyembah dalam kesadaran, bukan hanya dalam kenyamanan.


---

🌸 *Sehat adalah Amanah*


Bagian kedua berpindah dengan lembut dari kesadaran sakit menuju renungan sehat.


_“Sehatpun adalah karunia / Emansipasi dapat terbina karenanya.”_


Kata emansipasi di sini menarik — jarang digunakan dalam konteks spiritual.

Namun Sugar Ry memakainya dengan cerdas:

sehat memberi kemerdekaan berbuat baik, kebebasan untuk mengabdi.

Tapi ia tidak berhenti di euforia sehat:


_“Andai janganlah berandai untuk selalu sehat selamanya.”_


Sebuah sindiran lembut terhadap kelekatan manusia pada nikmat.

Penyair mengingatkan untuk siaga jiwa, karena sehat bisa berganti sakit kapan saja.

Maknanya dalam: iman harus stabil dalam setiap keadaan.


---

🌞 *Mengabdi: Titik Puncak Kesadaran*


Akhir puisi menjadi mahkota pengabdian.


_“Menata hidup untuk selalu beribadah kala sakit dan sehat.”_


Di sinilah dua kutub itu bertemu: sakit dan sehat menjadi jembatan ibadah.

Penyair mempertautkan keduanya dalam satu benang: pengabdian total kepada Allah.


_“Badan terkulai kaku namun tiada sesal saat bangkit di hari akhirat.”_


Baris ini sangat kuat — menggambarkan husnul khatimah, ketenangan saat ajal datang karena hidup telah diisi dengan ibadah di segala kondisi.

Lalu ditutup dengan renungan mendalam:


_“Itulah yang selalu harus aku lakukan dalam setiap memenuhi hajat.”_


Kalimat sederhana, tapi mengandung jiwa istiqamah.


---

✨ *Analisis Gaya dan Estetika*


Struktur akrostik digunakan bukan sekadar hiasan, tapi benar-benar menopang makna. Setiap huruf pembuka menjadi langkah menuju kesadaran spiritual.


Bahasa yang jujur dan tenang, tanpa retorika berlebihan, menciptakan suasana dzikir batin.


Ada keseimbangan antara akal, rasa, dan iman — khas gaya Sugar Ry, yang selalu mengawinkan spiritualitas dan kesadaran hidup modern.


---

🌺 *Kesimpulan*


Puisi ini adalah meditasi Islami dalam bentuk akrostik.

Ia mengajarkan bahwa:


_Sakit adalah ujian cinta,_

_Sehat adalah ladang amal,_

_dan keduanya adalah jalan menuju pengabdian sejati._


Sugar Ry berhasil menjadikan diksi sederhana sebagai cermin keikhlasan dan kekuatan jiwa.

Ini bukan sekadar karya sastra — ini adalah dzikir dalam bentuk puisi.


Sabtu, 18 Oktober 2025

Fir’aun Modern dan Sunnatullah Kejatuhan Kaum Zalim


🌍 *Fir’aun Modern dan Sunnatullah Kejatuhan Kaum Zalim*

Oleh: Sugiri

---
*1. Sejarah Kezaliman yang Selalu Berulang*

Sepanjang sejarah, manusia sering terperangkap dalam siklus yang sama: segelintir kelompok menindas kelompok lain dengan dalih kekuasaan, kebenaran, atau peradaban.
Dari Raja Namrudz yang menantang Tuhan, Fir’aun yang menuhankan diri, hingga kekaisaran-kekaisaran besar yang menaklukkan bangsa demi kejayaan semu — semuanya berakhir dengan kehancuran yang pasti.

Sunnatullah itu berlaku universal.
Setiap kezaliman, sekecil apa pun, membawa benih kehancuran di dalam dirinya sendiri.

---
*2. Polisi Dunia: Ketika Penegak Hukum Menjadi Pelanggar Kemanusiaan*

Di zaman modern, wajah kekejaman tidak selalu datang dari raja atau kaisar.
Kini, ia menjelma dalam bentuk “polisi dunia” — negara atau koalisi yang mengaku menjaga perdamaian global, tetapi sering kali justru memelihara ketidakadilan.

Perang demi perang dilancarkan dengan slogan demokrasi, hak asasi manusia, atau keamanan global.
Namun yang tampak di balik tirai adalah kepentingan ekonomi, minyak, dan hegemoni ideologi.

Invasi ke Irak, Afghanistan, Libya, dan kini dukungan terhadap kekerasan di Gaza, membuktikan bahwa “penjaga perdamaian” pun bisa menjadi penghancur kemanusiaan.

---
*3. Biaya Perang dan Harga Nurani*

Secara ekonomi, perang yang dikomandoi negara besar telah menelan ratusan miliar dolar, menyebabkan defisit, kemiskinan, dan penderitaan global.
Namun yang lebih parah adalah kerugian moral dan spiritual.

Bagaimana mungkin dunia modern, dengan segala teknologi dan lembaga internasionalnya, masih membiarkan ribuan anak mati di bawah reruntuhan bangunan yang disebut “operasi pertahanan”?

Kita menyaksikan paradoks dunia: negara paling kuat sekaligus menjadi negara yang paling takut terhadap kebenaran yang sederhana — bahwa semua manusia memiliki hak hidup yang sama di hadapan Allah.

---
*4. Mengapa Kaum Zalim Tidak Pernah Belajar?*

Kekuasaan yang lahir dari kesombongan selalu buta terhadap sejarah.
Fir’aun modern percaya mereka kebal dari kejatuhan, sebagaimana Fir’aun dulu yakin lautan takkan menelannya.

Mereka mengira senjata dan ekonomi akan menjamin kemenangan, padahal keberlangsungan sejati ada pada keadilan dan kasih sayang.
Setiap peluru yang menembus tubuh tak berdosa akan menjadi saksi di hadapan Allah; setiap kebohongan yang disiarkan media akan berbalik menjadi api yang membakar kredibilitasnya sendiri.

---
*5. Hamas dan Daya Tahan Kaum Kecil*

Ketika negara besar dengan kekuatan militer super menghadapi kelompok kecil namun berjiwa besar, dunia melihat ironi:
yang kecil justru bertahan, sementara yang besar kelelahan oleh beban moral dan biaya perang.

Hamas, dari sisi militer hanyalah kekuatan terbatas, tapi dari sisi jiwa perjuangan mereka memiliki satu hal yang hilang dari musuhnya — iman dan tujuan yang yakin.
Inilah senjata yang tak bisa dibeli dengan uang atau teknologi.
Selama hati mereka masih berpegang pada keyakinan bahwa “Allah bersama orang-orang yang sabar,” maka mereka tidak pernah benar-benar kalah.

---
*6. Krisis Kekuatan Dunia*

Negara yang disebut superpower kini mengalami tiga krisis besar:

1. Krisis moral – hilangnya arah hidup dan nilai keluarga.
2. Krisis ekonomi – hutang publik membengkak dan kepercayaan global menurun.
3. Krisis spiritual – kehilangan makna di tengah kelimpahan materi.

Mereka terlihat kuat di luar, tapi rapuh di dalam.
Allah sedang menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanya menunggu waktunya untuk runtuh.

---
*7. Refleksi untuk Umat Islam*

Tugas umat Islam bukan membalas kezaliman dengan kebencian, tetapi menegakkan kebenaran dengan hikmah dan keteguhan iman.
Kita harus membangun kekuatan sejati di atas tiga pilar:

1. Tauhid yang kokoh – menegaskan bahwa semua kekuasaan milik Allah.
2. Ilmu yang mencerahkan – agar kita mampu berpikir, bukan sekadar bereaksi.
3. Persaudaraan umat – agar tidak mudah dipecah oleh narasi dunia.

---
*8. Penutup: Hukum Allah Tak Pernah Salah*

Setiap Fir’aun memiliki Laut Merahnya.
Setiap penindas akan sampai pada ujung jalan yang ia gali sendiri.

_“Dan Kami hancurkan kaum yang berbuat zalim, dan Kami jadikan kehancuran mereka sebagai pelajaran bagi orang sesudahnya.”_
(QS. Al-A’raf: 4–5)

Zaman boleh berganti, wajah kezaliman bisa berubah, tapi hukum Allah tetap sama:
Kezaliman akan tumbang, dan kebenaran akan menemukan jalannya.


Rabu, 15 Oktober 2025

Bekam: Saat Darah Menjadi Ayat dan Tubuh Menyanyikan Syukur

 



*Bekam: Saat Darah Menjadi Ayat dan Tubuh Menyanyikan Syukur*


✨ *Refleksi Ilmiah dan Spiritual dari Ruang Bekam Mr. Sugar Ry*


---

Ada kalanya tubuh kita berbicara lebih jujur dari kata-kata.

Hari ini, saat jarum bekam menembus kulit dan cawan kecil itu menarik darah keluar, tubuh Mr. Sugar Ry berbicara dalam bahasa yang sangat tua — bahasa penciptaan.

Bahasa itu bukan hanya milik sel, tetapi milik jiwa.


Ketika darah pekat berwarna gelap mulai mengalir, di situlah kisah lama tersingkap: kelelahan, beban pikiran, sisa metabolik dari stres dan waktu, bahkan rasa kantuk yang berbulan-bulan — semua keluar seolah berkata,


_“Aku adalah sisa yang ditinggalkan, tapi kini aku pun bersaksi atas kesembuhan._


🩸 *1. Ilmu dalam Setetes Darah*


Secara ilmiah, warna darah yang gelap menandakan kadar oksigen rendah dan karbon dioksida tinggi.

Darah itu adalah “limbah biologis” yang menumpuk di kapiler halus — pembawa letih yang tak terlihat.

Maka wajar jika sebelum bekam, tubuh terasa berat, ngilu, dan mudah mengantuk.


Begitu darah itu keluar, tubuh pun seperti reboot.

Aliran baru yang kaya oksigen menggantikan yang lama.

Pegal kronis pun “kling…” lenyap, dan udara yang dihirup terasa lebih segar dari sebelumnya.


Sains menyebut ini proses microcirculatory reset.

Tapi bagi hati yang beriman, ini adalah ayat Allah yang hidup di dalam tubuh manusia.


---

🌿 *2. Bekam dalam Pandangan Wahyu*

Rasulullah ﷺ bersabda:


_"Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam (hijamah)."_

(HR. Bukhari no. 5696)


Hadis ini bukan sekadar anjuran medis, tetapi juga ajakan untuk tafakkur — merenungi sistem pembersihan yang Allah ciptakan di dalam diri kita.


Al-Qur’an menegaskan:


_"Dan di dalam dirimu sendiri, tidakkah kamu memperhatikan?"_

(QS. Adz-Dzāriyāt: 21)


Bekam adalah salah satu cara memperhatikan itu.

Ia mengajarkan manusia untuk melihat ke dalam — bukan sekadar ke permukaan kulit, tapi ke kedalaman makna penciptaan:

Allah menciptakan mekanisme detoksifikasi, lalu Rasulullah ﷺ mengajarkan bagaimana mengaktifkannya dengan hikmah.


---

💫 *3. Hikmah yang Mengalir Bersama Darah*

Ketika darah keluar, bukan hanya toksin yang pergi.

Yang turut keluar adalah residu emosional: kemarahan, kelelahan, dan kebekuan hati.

Maka tak heran bila selepas bekam, banyak orang merasa ringan, bahkan lebih tenang dan jernih berpikir.


Rasulullah ﷺ pun pernah merasakan manfaat itu.

Diriwayatkan bahwa beliau berbekam ketika menderita sakit kepala, bahkan di saat ihram.

Beliau tidak memandangnya sebagai ritual aneh, tetapi sebagai bagian dari rahmat Allah kepada tubuh manusia.


_"Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam Isra’, kecuali mereka berkata: ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah umatmu agar berbekam.’"_

(HR. Ibn Majah no. 3477)

Catatan: Hadits ini ada yang menganggap hadits dhaif. Sehingga bukan dalil utama tentang bekam.


Bayangkan — malaikat pun menganjurkan bekam!

Karena mereka tahu: darah yang kotor bukan hanya persoalan jasad, tapi juga gangguan pada harmoni spiritual manusia.


---

🌙 *4. Cerita Inspiratif dari Seorang Penuntut Iman dan Ilmu*


Seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Buhaina, diriwayatkan pernah melihat Rasulullah ﷺ berbekam di tengah perjalanan.

Beliau tetap tersenyum dan menunaikan salat setelahnya, seolah bekam bukan luka, tetapi pembebasan.


Begitu pula hari ini —

Mr. Sugar Ry yang selama ini menanggung pegal linu kronis merasakan seketika:


_“Badan seperti kembali ke masa muda, ringan dan segar.”_


Subhanallah… itulah syifā’, kesembuhan sejati yang datang bukan hanya dari alat bekam, tapi dari izin Allah yang menyembuhkan.


_"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."_

(QS. Asy-Syu’arā’: 80)


---

🧭 *5. Dari Ruang Bekam ke Ruang Tafakkur*


Bekam bukan sekadar pengobatan tradisional.

Ia adalah perjalanan kecil menuju diri sendiri.

Ketika darah keluar, tubuh kita sedang berkata,


_“Lihatlah aku, renungkan aku, dan syukurilah penciptaku.”_


Dan di sanalah letak keindahannya —

di antara aroma minyak zaitun, bunyi lembut alat bekam, dan rasa hangat di kulit,

seorang hamba menemukan ketenangan ilmiah dan spiritual sekaligus.


---

🌺 *Penutup: Darah yang Menyucikan dan Menyadarkan*


Darah yang keluar hari ini mungkin tampak seperti sisa metabolisme,

tapi di mata iman, ia adalah saksi kecil yang berbicara:


_“Aku pernah menjadi bagian darimu, menanggung bebanmu, dan kini aku pergi agar kau kembali ringan.”_


Itulah ayat kecil yang turun bukan di mushaf, melainkan di tubuh manusia.

Dan ketika tubuh terasa segar, hati pun berzikir lirih:


_“Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan darah ini, Engkaulah pula yang membersihkannya. Maka jadikanlah aku hamba yang bersih lahir dan batin.”_


---

🌙 *Bekam adalah sains yang bersujud.*

Dan siapa pun yang merenungkannya akan mendengar denyut halus tubuhnya berbisik,


_"Subhānaka, mā khalaqta hādzā bāthilā..."_

_“Maha Suci Engkau, ya Allah, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia.”_

(QS. Āli ‘Imrān: 191)

Kamis, 09 Oktober 2025

SABAR — Tak Berbatas dalam Iman

 



🌿 *Resume Kajian Maljum (9 Oktober 2025)*

Masjid An-Nawawi 


Kitab Akhlaq: Riyâdhus Shâlihîn

Tema: SABAR — Tak Berbatas dalam Iman

Bersama : Ustadz Burhanuddin, S.Pd.

Pendalaman: Sugiri


---

🕌 *Infaq Para Sahabat Rasul: Tiada Tara*


Para sahabat Rasulullah ﷺ dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena iman, sabar, dan pengorbanan mereka yang tiada tara. Mereka adalah teladan dalam keikhlasan berinfaq, bahkan ketika dalam keadaan sempit.


Allah memuji mereka dalam firman-Nya:


_"Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."_

(QS. Âli ‘Imrân: 134)


---

🌸 *Kisah Teladan: Ummu Sulaim r.a., istri Abu Thalhah*


Nama aslinya Rumaisha’ binti Milhân, lebih dikenal dengan Ummu Sulaim al-Anshariyyah, ibu dari sahabat mulia Anas bin Malik. Ia adalah simbol aqidah yang kokoh, kesabaran yang mendalam, dan pengorbanan yang tulus.


---

*1. Aqidah yang Kokoh*


Ketika Abu Thalhah (saat itu musyrik) datang meminangnya, Ummu Sulaim menolak dengan tegas:


_“Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak, tetapi engkau kafir, sedangkan aku Muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itu maharku, dan aku tidak meminta selain itu.”_


Maka Abu Thalhah pun masuk Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Aku tidak pernah mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim, yaitu keislaman Abu Thalhah.”_

(HR. An-Nasâ’i dan Ahmad)


💡 *Pelajaran:*

Iman adalah fondasi utama dalam setiap pilihan hidup. Ummu Sulaim menempatkan tauhid di atas segala bentuk cinta duniawi.


---

*2. Sabar Saat Musibah: Bukti Kedekatan dengan Allah*


Ketika anak mereka wafat, Ummu Sulaim tidak panik, tidak histeris, dan tidak berkeluh kesah. Ia justru menyembunyikan kabar duka dari suaminya hingga waktu yang tepat.


Setelah Abu Thalhah beristirahat, ia berkata dengan kelembutan hikmah:


_“Wahai Abu Thalhah, jika seseorang menitipkan sesuatu kepada kita, lalu ia memintanya kembali, apakah pantas bila kita menolaknya?”_

_Abu Thalhah menjawab, “Tidak.”_

_Ummu Sulaim berkata, “Maka anak kita adalah titipan Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali.”_


Rasulullah ﷺ kemudian mendoakan mereka:


_“Semoga Allah memberkahimu atas malam kalian berdua.”_

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dari keturunan mereka lahir sembilan orang ulama ahli Al-Qur’an.


💡 *Pelajaran:*

Kesabaran bukan berarti tanpa kesedihan, tetapi kemampuan menjaga hati tetap tunduk pada kehendak Allah.

Sabar bukan reaksi sesaat, melainkan sikap hidup.


---

*3. Mementingkan Orang Lain (Itsâr)*


Ummu Sulaim juga terkenal dengan kemurahan hatinya. Ia selalu siap menolong dan berbagi.

Allah menggambarkan sifat kaum Anshar ini:


_"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."_

(QS. Al-Hasyr: 9)


Namun, dalam hal ibadah mahdhah, seorang Muslim justru harus mementingkan dirinya sendiri — memperbaiki shalatnya, dzikirnya, dan kedekatannya dengan Allah. Karena kelak, tak seorang pun dapat menggantikan amal kita di hadapan-Nya.


---

🌤️ _Sabar Tak Berbatas: Antitesis dari "Sabar Ada Batasnya"_


Di masa kini, sering terdengar ungkapan “Sabar itu ada batasnya.”

Padahal, dalam Islam, sabar tidak mengenal batas.


Sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi menjaga hubungan dengan Allah agar tidak terputus.

Jika seseorang berkata bahwa sabarnya sudah habis, berarti ia telah memutus ikatan spiritual dengan Rabb-nya.


Allah berfirman:


_"Inna Allâha ma‘ash-shâbirîn"_ _Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar._

(QS. Al-Baqarah: 153)


Maka, jika sabar itu berhenti, kebersamaan Allah pun menjauh.

Yang hilang bukan sekadar kesabaran, tetapi kehadiran Allah dalam jiwanya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia diberi nikmat, ia bersyukur — itu baik baginya. Jika ia diuji, ia bersabar — itu juga baik baginya.”_

(HR. Muslim)


💡 *Refleksi:*

➡️ Ketika sabar menjadi terbatas, ego mengambil alih.

➡️ Tetapi ketika sabar tak berbatas, hati dikuasai oleh ridha.

➡️ Di situlah letak kedekatan sejati dengan Allah.


---

🌾 *Dalil tentang Kesabaran*


_"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."_

(QS. Al-Baqarah: 155)


_"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)."_

(QS. Al-Baqarah: 156)


---

🌷 *Kesimpulan Kajian*


1. Aqidah yang benar menjadi dasar segala amal dan pilihan.


2. Sabar tidak punya batas. Jika sabar berhenti, maka keberadaan Allah menjauh dari diri kita.


3. Infaq dan itsâr adalah bukti iman yang hidup.


4. Dalam ibadah pribadi, fokuslah memperbaiki diri — karena hanya amal kita yang akan menjadi saksi di hadapan Allah.


5. Ummu Sulaim r.a. adalah teladan perempuan mukmin: beriman sebelum cinta, bersabar sebelum putus asa, dan beramal sebelum berkata.


---

🌿 *Doa Penutup Reflektif*


اللهم اجعلنا من الصابرين، وامنحنا يقيناً لا يتزعزع، وقلوباً راضية بقدرك، ونوراً يهدينا في setiap ujian hidup.


_“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang sabar, beriman dalam setiap ujian, dan tetap dekat dengan-Mu saat dunia menjauh.”._

Kamis, 02 Oktober 2025

MEMELIHARA NILAI PAHALA

 


MEMELIHARA NILAI PAHALA


Materi Pengajian Malam Jumat

PCM Ciampea 

Masjid An-Nawawi, 2 September 2025


Nara sumber: Ustadz Burhanuddin, S.Pd.

Ulasan oleh: Sugiri


1. Menjaga Amal dengan Ikhlash sampai Akhir Hayat


🔹 Mengapa ikhlash penting?

Karena ikhlash adalah syarat diterimanya amal. Allah SWT hanya menerima amal yang dikerjakan karena-Nya semata. Tanpa ikhlash, amal jadi kosong meski nampak besar di dunia.


Dalil Qur’an:


"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

(QS. Al-Bayyinah: 5)


Hadits:

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

(HR. Bukhari & Muslim)


🔹 Kenapa harus dijaga sampai akhir hayat?

Karena amal bisa gugur jika di tengah jalan berubah niat, terutama terkena penyakit riya’ (pamer). Allah memberi peringatan:


"Maka janganlah kamu batalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)."

(QS. Al-Baqarah: 264)


Para ulama menjelaskan, siapa yang beramal karena Allah lalu di akhir hayat murtad atau riya hingga meninggalkan tauhid, maka seluruh amalnya gugur (lihat Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al-Kahfi: 105).


---

2. Menghindari Kezhaliman agar Amal Tidak Hilang di Akhirat


*Perbedaan antara riya dan zhalim:*


Riya → Amal gugur di dunia, tidak sampai ke akhirat.


Zhalim → Amal tetap tercatat, tetapi dihisab di akhirat bisa berpindah ke orang lain.



Dalil Qur’an:

"Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak."

(QS. Ibrahim: 42)


Hadits:

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa pernah menzhalimi saudaranya, baik dalam hal kehormatan atau sesuatu lainnya, hendaklah ia meminta halal (maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari ketika dinar dan dirham tidak lagi bermanfaat. Pada hari itu jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil dari amal salehnya untuk diberikan kepada orang yang dizhalimi. Namun jika ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa orang yang dizhalimi akan dibebankan kepadanya."

(HR. Bukhari)


Pandangan Ulama Klasik:

Ibnu Rajab al-Hanbali: “Kezhaliman adalah perkara yang paling cepat menghapus pahala, bahkan amal sebesar gunung bisa sirna karena kezhaliman kepada manusia.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam).


Al-Ghazali: menegaskan bahwa kezhaliman kepada manusia lebih berat dosanya daripada maksiat yang hanya kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun, tetapi manusia bisa tidak memaafkan.


Pandangan Ulama Kontemporer:

Syekh Yusuf al-Qaradawi: menekankan bahwa dosa sosial (kezhaliman) lebih berbahaya karena Allah tidak akan ampuni kecuali korban memaafkan. Beliau menukil hadits di atas tentang “al-muflis” (orang bangkrut di akhirat).


Syekh Shalih al-Munajjid (islamqa): menjelaskan bahwa amal baik tetap ada, tapi ia akan dipindahkan sebagai “kompensasi keadilan” kepada korban kezhaliman.


---

Kesimpulan Ulasan

1. Ikhlash adalah ruh amal. Tanpa ikhlash, amal batal. Maka jaga niat dari awal sampai akhir hayat, jangan ternodai oleh riya.


2. Zhalim tidak langsung menghapus pahala, tapi membuat pahala "dipindahkan" ke orang yang dizhalimi saat hari kiamat. Kalau pahalanya habis, dosa orang lain ditimpakan kepadanya.


3. Keduanya berbahaya: Riya mengosongkan pahala sejak dunia, sementara zhalim membuat bangkrut di akhirat.


---

Jadi jama'ah, menjaga pahala amal baik itu dengan memurnikan niat hingga akhir hayat dan menghindari kezhaliman pada sesama manusia.

Itulah jalan selamat agar amal benar-benar sampai kepada Allah dan tidak berpindah tangan.


 Wallahu a'lam bishshawab