Analisis dari beberapa sudut pandang tentang Ayat 5 surat Al-Bayyinah
*Analisis dari beberapa sudut pandang tentang Ayat 5 surat Al-Bayyinah*
Oleh Sugiri
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)."
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)
---
🌿 *1. Mufrodat (Makna Per Kata)*
Kata Arab Translitrasi Arti
وَمَا أُمِرُوا wa mā umirū dan mereka tidak diperintahkan
إِلَّا illā kecuali / hanya
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ li ya‘budullāh untuk menyembah Allah
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ mukhlisīna lahud-dīn dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama
حُنَفَاءَ ḥunafā’a sebagai orang-orang yang lurus (tidak menyekutukan Allah)
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ wa yuqīmūṣ-ṣalāh dan mendirikan salat
وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ wa yu’tūz-zakāh dan menunaikan zakat
وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ wa żālika dīnul-qayyimah dan itulah agama yang benar / lurus
🔹 Mukhlisīn → dari akar “خ ل ص” (kha-la-sha) bermakna bersih dari campuran, murni.
🔹 Hunafā’ → bentuk jamak dari ḥanīf, yaitu orang yang berpaling dari kesyirikan menuju tauhid.
🔹 Al-qayyimah → berarti agama yang tegak, stabil, dan lurus (tanpa penyimpangan).
---
📜 *2. Bayani (Pendekatan Tekstual – Makna Lahiriah Bahasa Arab)*
Pendekatan bayani berfokus pada penjelasan makna melalui struktur kebahasaan dan hubungan antar kata dalam teks wahyu.
Frasa "وَمَا أُمِرُوا إِلَّا" menunjukkan hasr (pembatasan): manusia tidak diperintahkan apa pun kecuali satu hal utama, yaitu ibadah dengan keikhlasan.
Kata "مُخْلِصِينَ" menjadi syarat diterimanya ibadah.
Kata "حُنَفَاءَ" menegaskan bentuk kesucian tauhid — lurus tanpa condong ke syirik.
Urutan sholat → zakat menunjukkan keterkaitan ibadah spiritual dan sosial.
Penutup "وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ" memberi kesimpulan bayani: inilah agama yang benar, yakni tauhid dengan amal saleh.
---
🔍 *3. Burhani (Pendekatan Rasional dan Logis)*
Pendekatan burhani menggunakan nalar rasional untuk memahami keteraturan logis ayat.
*Argumen rasionalnya:*
1. Tujuan hidup makhluk adalah menyembah Sang Pencipta. (lihat QS. Adz-Dzariyat: 56)
2. Keikhlasan (ikhlas lillah) adalah logika kemurnian pengabdian — tidak mungkin dua niat (Allah dan selain-Nya) menghasilkan ketenangan.
3. Shalat melatih disiplin spiritual dan kesadaran moral.
4. Zakat melatih tanggung jawab sosial dan ekonomi.
5. Maka, logika agama qayyimah (lurus) adalah sistem keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia).
---
🌌 *4. Irfani (Pendekatan Makrifat dan Rasa Spiritual)*
Pendekatan irfani menekankan penghayatan batin dan pengalaman ruhani.
Mukhlisīn berarti memurnikan niat hingga yang tersisa hanya Allah dalam hati.
Li ya‘budullāh bukan sekadar perintah ritual, tapi perjalanan batin menuju ma’rifatullah — mengenal Allah dengan hati yang bersih.
Hunafā’ adalah posisi jiwa yang selalu condong kepada fitrah suci, menjauhi hawa nafsu.
Ketika seseorang shalat dan berzakat dengan ikhlas, ia tidak hanya beramal, tapi sedang bertemu dengan Allah dalam kesadaran rohaninya.
“Dīn al-qayyimah” bagi ahli irfan adalah jalan ruhani yang stabil, tidak goyah meski dunia berguncang.
---
🧠 *5. Mantik (Pendekatan Logika Filsafat)*
Pendekatan mantik (logika formal) menelaah struktur berpikir dalam ayat:
Premis 1: Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah (Adz-Dzariyat: 56).
Premis 2: Ibadah yang diterima hanya yang ikhlas dan benar (Al-Mulk: 2).
Premis 3: Shalat dan zakat adalah manifestasi konkret ibadah.
Kesimpulan: Maka, agama yang benar (al-qayyimah) adalah sistem ibadah yang berlandaskan tauhid dan keikhlasan, dengan implikasi sosial dan moral.
Secara silogistik:
> Jika seseorang beribadah dengan ikhlas kepada Allah dan menegakkan shalat serta zakat, maka ia sedang menegakkan agama yang lurus.
---
✒️ *6. Balaghoh (Keindahan Retorika dan Gaya Bahasa)*
Ayat ini penuh kemukjizatan balaghiyyah:
1. Hasr (pembatasan) pada “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا” menunjukkan penegasan total — hanya satu tujuan.
2. Parallelism antara “وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ” menimbulkan irama bunyi yang harmonis (as-saj‘ al-murashshaḥ).
3. Tanasub (keserasian) antara ikhlas (dimensi batin) dan amal (dimensi lahir).
4. Al-qayyimah sebagai kata terakhir menutup ayat dengan kekokohan makna dan bunyi — memberi rasa tegak, lurus, dan kokoh.
---
🕰️ *7. Historis (Asbabun Nuzul dan Konteks Sosial)*
Ayat ini turun untuk menegur ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) serta kaum musyrikin Mekah.
Mereka berlebihan dalam ibadah, tapi kehilangan keikhlasan.
Sebagian menyembah Allah tetapi mencampur dengan kepentingan dunia, sebagian lain mempersekutukan Allah dengan makhluk.
Ayat ini mengembalikan esensi agama Ibrahim: tauhid yang murni.
Jadi, sejarahnya menunjukkan bahwa Islam bukan agama baru, melainkan restorasi terhadap ajaran tauhid asli.
---
📖 *8. Tafsir (Kontekstual dan Tematik)*
Menurut beberapa mufassir:
🔹 Tafsir Ibnu Katsir
Ayat ini menegaskan kewajiban manusia untuk memurnikan ibadah kepada Allah saja, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.
Inilah agama yang diserukan seluruh nabi.
🔹 Tafsir Al-Qurthubi
Keikhlasan adalah ruh ibadah; tanpa ikhlas, amal menjadi debu.
“Al-qayyimah” ialah agama yang menjaga keseimbangan antara lahir dan batin, dunia dan akhirat.
🔹 Tafsir Al-Mishbah (Quraish Shihab)
Ayat ini menuntun manusia untuk menjadikan agama bukan sekadar simbol, tapi orientasi hidup yang murni.
Agama yang qayyimah adalah sistem nilai yang menjaga keutuhan diri dan masyarakat.
---
🌺 *Kesimpulan Umum*
Ayat ini adalah manifesto tauhid dan keikhlasan universal.
Semua agama samawi hakikatnya memerintahkan hal yang sama:
1. Menyembah Allah dengan hati yang bersih,
2. Menegakkan hubungan dengan Allah (shalat),
3. Menegakkan hubungan dengan manusia (zakat),
4. Menjaga kemurnian agama agar tetap lurus (qayyimah).
Wallahu a'lam bishshawab







