Rabu, 30 Juli 2025

 


Miskin dan Kaya adalah Kehendak Allah


Oleh: Sugiri


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ بِعِبَا دِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا

"Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Isra' 17:30)

Ayat ini bukan satu-satunya yang membahas kaya dan miskin sebagai kehendak Allah. Ada 11 ayat serupa yang tersebar di berbagai surat Al-Qur’an, bahkan ada dua surat yang memuat ayat ini sebanyak dua kali. Ini menunjukkan bahwa Allah ingin kita benar-benar menyadari bahwa kelapangan dan kesempitan rezeki adalah takdir yang tidak bisa diukur dengan pandangan manusia semata.

Realitas kaya dan miskin selalu ada, bahkan di masa Rasulullah ﷺ. Ketika Islam berada di puncak kejayaan pun, tetap ada orang miskin. Sebaliknya, ketika kaum Muslim diuji dengan kesulitan, tetap ada yang diberi kelapangan rezeki. Semua ini adalah skenario Allah yang sempurna, sesuai dengan hikmah dan pengetahuan-Nya terhadap kondisi hamba-hamba-Nya.

Orang-Orang Miskin yang Diangkat oleh Allah

- Ashab al-Suffah: Para penghuni serambi Masjid Nabawi yang tidak memiliki harta, bergantung pada sedekah umat, tetapi kaya iman dan ilmu.

- Abdullah bin Ummi Maktum (QS. ‘Abasa: 1-10): Sahabat buta yang miskin, hingga Allah menegur Rasulullah ﷺ karena bermuka masam kepadanya.

- Para Fakir Muhajirin (QS. Al-Hashr: 8): Meninggalkan harta demi berhijrah bersama Rasulullah ﷺ dan dipuji dalam Al-Qur’an.

- Orang Buta Bani Israil (HR. Tirmidzi dan Ahmad): Salah satu dari tiga orang yang diuji, miskin dan bersyukur setelah mendapat nikmat.

- Sahabat yang Tidak Mampu Bersedekah (HR. Muslim): Mereka diberi dzikir sebagai sedekah pengganti oleh Rasulullah ﷺ.

- Ashab al-Kahfi (QS. Al-Kahfi: 9-26): Pemuda-pemuda gua yang meninggalkan kemewahan demi iman dan dimuliakan Allah.

Mayoritas Ahli Surga Adalah Orang Miskin

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Aku melihat surga, maka aku melihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin." (HR. Muslim)

Ini bukan berarti miskin otomatis mulia, tetapi menunjukkan bahwa kesabaran dan tawakal dalam kekurangan sering kali lebih mendekatkan seseorang kepada Allah dibandingkan dengan kelapangan yang membuat lupa diri.

Refleksi untuk Kita

Jika Allah sampai mengulang tema ini dalam 11 ayat serupa di berbagai surat, itu berarti pesan ini amat penting: kaya dan miskin adalah ketentuan Allah, bukan ukuran kemuliaan. Orang kaya diuji dengan harta: apakah ia akan bersyukur dan berbagi? Orang miskin diuji dengan kesabaran: apakah ia tetap ridha dan tidak berputus asa?

Dalam sejarah Islam, kita melihat keseimbangan ini. Ada sahabat kaya seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang menggunakan hartanya di jalan Allah. Ada pula sahabat miskin seperti Abu Hurairah dan Ashab al-Suffah yang mulia karena kesabaran dan ilmu mereka.

Bukan kaya atau miskin yang menentukan kemuliaan kita, tetapi bagaimana kita menyikapi takdir Allah dengan iman.

Penutup

Mari kita renungkan, apakah kelapangan atau kesempitan yang sedang kita jalani hari ini membuat kita lebih dekat atau justru jauh dari Allah? Kaya bukan berarti mulia, miskin bukan berarti hina. Yang mulia adalah hati yang bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ridha terhadap segala takdir-Nya dan mampu mengambil pelajaran dari pesan yang diulang dalam 11 ayat serupa di dalam Al-Qur’an.

Wallahu a'lam bishshawab

Kamis, 10 Juli 2025

Puisi Reflektif: Telah Ditemukan Sebuah Kalender

*Puisi Reflektif: Telah Ditemukan Sebuah Kalender*


Oleh: Sugiri


*_> Telah ditemukan sebuah kalender.

Aku pastikan ini bukan milikku sendiri,

bukan pula milik Muhammadiyah,

tapi ini kalender milik umat Islam

yang selama ini hilang._*


Di antara dinding yang sunyi,

tergantung selembar waktu.

Angka-angka hijriah berbaris,

laksana butir tasbih

yang pernah tercecer

dalam hiruk-pikuk dunia.


Selama ini kita berjalan

menghitung hari dengan mata asing,

menyusun agenda dalam kalender orang lain,

hingga lupa —

kita punya hitungan langit,

yang diturunkan sejak hijrah

Rasul menuju cahaya.


Kalender ini kini kutatap,

ia bukan sekadar tanggal,

bukan sekadar kertas di dinding,

tapi denyut ruh umat

yang selama ini memudar

di antara nama-nama bulan

yang tak pernah mengeja Muharram.


Bukan milikku, bukan milikmu,

bukan milik satu jamaah atau organisasi.

Ini milik kita.

Milik umat

yang rindu bersatu

dalam hitungan rembulan

dan panggilan azan.


Ia pernah hilang…

tenggelam di balik kalender masehi,

tersisih dalam rak toko,

hanya dicari saat Ramadhan tiba,

atau saat takbir Idul Fitri bergema.


Kini ia kembali ditemukan.

Berkibar di dinding rumahku,

menyuarakan satu pesan:

Umat Islam, bersatulah.

Tegakkan waktu yang satu.

Rangkullah hari-harimu

dalam hitungan langit

yang tak pernah berdusta.


Telah ditemukan sebuah kalender…

Bukan hanya tanggal,

tapi ruh,

identitas,

dan tanda kebangkitan umat.


_*> Bukan milikku, bukan milik Muhammadiyah,

tapi milik umat Islam seluruhnya.

Yang selama ini hilang,

kini telah ditemukan kembali._*


Jumat, 04 Juli 2025

Nge-like dari Langit: Wakafa Billahi Syahīda

 



*#Nge-like dari Langit: Wakafa Billahi Syahīda*

*Refleksi Spiritualitas dalam Era Sosial Media*


Oleh: Sugiri


---

🌐 *Pendahuluan: Dunia yang Haus Like*


Di era digital ini, satu tombol “like” mampu mengubah mood.

Banyak orang, tanpa disadari, memburu eksistensi di hadapan manusia. Postingan yang viral, status yang dipuji, atau sekadar komentar positif—semua bisa menjadi candu batin.


Tapi... adakah yang lebih penting daripada penilaian manusia?

Bagaimana bila yang “nge-like” adalah Dzat Yang Maha Melihat, Maha Tahu isi hati, dan Maha Adil dalam memberi balasan?


Inilah saatnya kita kembali ke ayat agung:


> وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا

_"Dan cukuplah Allah sebagai saksi."_

(QS. An-Nisā’: 166)


---

📖 *Dalil Qur’an: Allah Melihat yang Tersembunyi*

Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan bahwa tidak ada satu pun amal yang luput dari pengawasan-Nya, bahkan niat dalam dada:


> إِنَّهُ يَعْلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخْفَى

_“Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.”_

(QS. Ṭāhā: 7)


Saat kita menulis, berbicara, atau membagikan sesuatu di medsos, yang terpenting bukan banyaknya like, tapi niat dan kontennya bernilai syar'i. Jika itu baik, walau tanpa satu pun orang memedulikan, maka:


> إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

_“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi walau seberat zarrah.”_

(QS. An-Nisā’: 40)


---

📜 *Hadits: Amal Tergantung Niat*

Rasulullah ﷺ bersabda:

> إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya..."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Status, tulisan, video, komentar, dan bahkan like yang kita berikan — bila diniatkan untuk Allah, menjadi ibadah. Tapi jika demi pujian manusia, maka sia-sialah di sisi-Nya.


---

🪶 *Qoul Ulama Klasik*

Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin:

> _“Orang yang beramal demi dilihat manusia adalah orang yang menggali lubang di pasir, lalu mengharap bangunan berdiri.”_


Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:

>_ “Ikhlas adalah tidak mengharapkan saksi kecuali Allah.”_


---

📚 *Qoul Ulama Kontemporer*

Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam ceramah daringnya menyatakan:

> _“Media sosial adalah ladang pahala yang luas, tapi juga bisa menjadi ladang riya’ jika niat tidak diluruskan.”_


Prof. Dr. Hamka dalam Tasawuf Modern menulis:

> “_Kalau amal tidak didasari keikhlasan, maka manusia hanya akan sibuk mengejar bayang-bayang dan tertinggal dari cahaya.”_


---

💸 *Refleksi Finansial: Quota yang Terbakar atau Tercatat?*


Mari kita berhitung secara sederhana:

✓ Rata-rata kuota harian yang digunakan untuk 2 jam medsos: ± 500 MB

✓ Rata-rata kuota per bulan (30 hari): ± 15 GB

✓ Harga paket internet 15 GB: ± Rp50.000 – Rp75.000

✓ Maka setahun kita habiskan untuk sekadar berselancar medsos:

➤ Rp50.000 x 12 bulan = Rp600.000 – Rp900.000


Itu belum termasuk waktu yang terbuang. Bila 2 jam per hari di medsos hanya berisi:

✓ hiburan kosong,

✓ konten tanpa manfaat,

✓ gosip, celaan, atau bahkan dosa digital,

...maka betapa ruginya kita. Uang habis. Waktu lenyap. Amal kosong.


Bandingkan jika 2 jam itu diisi dengan:

✓ share nasihat,

✓ menulis status yang menggugah jiwa,

✓ berdakwah ringan,

✓ mendoakan kebaikan untuk yang lain,

✓ atau cukup menahan jari dari hal sia-sia...

...maka kuota dan waktumu berubah menjadi ladang pahala. Bukan sekadar jejak digital, tapi jejak akhirat.


---

🌟 *Penutup: Like dari Langit*

✓Saat kita menggantungkan harapan pada like manusia, kita bisa kecewa.

✓Tapi bila harapan kita adalah like dari Allah, maka itulah kebahagiaan abadi.


Mari jadikan setiap postingan, ucapan, tulisan, atau karya sebagai amal jariyah,

dengan prinsip:

> وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا

“Cukuplah Allah sebagai saksi.”


---

✅ *Tips Praktis:*

1. Niatkan setiap posting untuk manfaat dan dakwah.

2. Periksa konten: Apakah selaras dengan syari’at?

3. Tak perlu risau jika sepi pujian. Allah tahu isi hati.

4. Ucapkan: “Hasbunallah... Cukup Allah yang menilai.”

5. Ingatlah: Satu amal ikhlas bisa menyaingi ribuan like palsu.


---

🖋️ *Catatan Akhir:*

Postinganmu mungkin tak viral di dunia.

Tapi bisa saja viral di langit dan diingat oleh para malaikat pencatat amal.

Sebab yang Maha Nge-Like itu... tidak tidur.

Aku Pemelihara Taman Itu

 


*Aku Pemelihara Taman Itu*


Oleh: Sugiri 


Refleksi dari Surat Al-Baqarah Ayat 30

> _"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi."_

(QS. Al-Baqarah: 30)


---

🪴 *Bahasa Tuhan yang Sarat Penetapan*


Allah menggunakan kata "جَاعِلٌ" (jā‘ilun) – bentuk isim fā’il (kata benda pelaku) – bukan kata kerja aja‘lu yang biasa digunakan untuk menyatakan masa depan.


Dalam bahasa Arab, bentuk ini menandakan sesuatu yang:

✓Pasti: bukan sekadar rencana, tapi keputusan resmi,

✓Kontinu: bukan sekali, tapi berkelanjutan,

Bersifat penetapan: bukan proses yang tergantung, tapi sudah diberi mandat.


Seorang murid berkata:

> _“Aku pemelihara taman itu.”

Kalimat ini menyiratkan bahwa ia telah ditetapkan, diberi tanggung jawab, dan siap menjalankan tugas—bukan hanya berniat._


Begitu pula Allah, ketika berfirman:

> “Inni jā‘ilun fil-ardhi khalīfah”

_“Sesungguhnya Aku menetapkan di bumi seorang khalifah.”_

Menandakan bahwa pengangkatan manusia sebagai khalifah adalah mandat langsung dari Allah, bukan sekadar proyek eksperimental.


---

🧭 *Makna Khalifah: Tugas, Amanah, dan Ujian*

Khalifah berasal dari akar kata khalafa – berarti pengganti atau wakil. Dalam konteks ini, manusia diangkat sebagai wakil Allah di bumi.


Menurut Imam Al-Qurtubi, dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an:

> _"Yang dimaksud dengan khalifah adalah makhluk yang diberi wewenang untuk mengatur bumi sesuai kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri."_


Syekh Yusuf al-Qaradawi menambahkan dalam bukunya Manhaj al-Islam fi Tsaqafah wa al-Fikr:

> _"Khalifah bukan penguasa absolut, melainkan pengemban amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat."_


---

🕯️ *Hadis tentang Amanah sebagai Khalifah*

Rasulullah ﷺ bersabda:

> كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

_“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”_

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam cakupan ini, setiap manusia, dalam skala sekecil apapun, adalah khalifah: atas dirinya, keluarganya, bahkan alam sekitarnya.


---

🌍 *Taman yang Harus Kita Pelihara*

Ketika Allah menyebut manusia sebagai khalifah, itu artinya:

✓Kita ditugaskan memelihara bumi, bukan merusaknya.

✓Kita dititipi nilai ilahi, bukan hanya kebebasan.

✓Kita bertugas mengembangkan peradaban, bukan membinasakannya.


> _“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”_

(QS. Ar-Rum: 41)


Ulama besar Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menafsirkan ayat ini sebagai:

> “_Ketika manusia menyalahgunakan amanah kekhalifahan, kerusakan terjadi sebagai konsekuensi spiritual dan ekologis.”_


---

🧎‍♂️ *Refleksi Diri*

Kini kita bertanya:

> Apakah aku sungguh menjalankan tugas sebagai pemelihara taman bumi ini?

Ataukah aku hanya pembuat rencana tanpa tanggung jawab?


*“Aku pemelihara taman itu”*

Adalah pernyataan iman dan tanggung jawab.

Sebuah pengakuan bahwa kita diangkat, dimandatkan, dan akan dimintai pertanggungjawaban.


---

🤲*Penutup: Doa Seorang Khalifah*

> رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ

"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu..."

(QS. An-Naml: 19)


Semoga kita menjadi khalifah yang amanah, yang menjaga taman bumi ini dengan adab langit.


Wallahu a'lam bishshawab