Miskin dan Kaya adalah Kehendak Allah
Oleh: Sugiri
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ بِعِبَا دِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
"Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Isra' 17:30)
Ayat ini bukan satu-satunya yang membahas kaya dan miskin sebagai kehendak Allah. Ada 11 ayat serupa yang tersebar di berbagai surat Al-Qur’an, bahkan ada dua surat yang memuat ayat ini sebanyak dua kali. Ini menunjukkan bahwa Allah ingin kita benar-benar menyadari bahwa kelapangan dan kesempitan rezeki adalah takdir yang tidak bisa diukur dengan pandangan manusia semata.
Realitas kaya dan miskin selalu ada, bahkan di masa Rasulullah ﷺ. Ketika Islam berada di puncak kejayaan pun, tetap ada orang miskin. Sebaliknya, ketika kaum Muslim diuji dengan kesulitan, tetap ada yang diberi kelapangan rezeki. Semua ini adalah skenario Allah yang sempurna, sesuai dengan hikmah dan pengetahuan-Nya terhadap kondisi hamba-hamba-Nya.
Orang-Orang Miskin yang Diangkat oleh Allah
- Ashab al-Suffah: Para penghuni serambi Masjid Nabawi yang tidak memiliki harta, bergantung pada sedekah umat, tetapi kaya iman dan ilmu.
- Abdullah bin Ummi Maktum (QS. ‘Abasa: 1-10): Sahabat buta yang miskin, hingga Allah menegur Rasulullah ﷺ karena bermuka masam kepadanya.
- Para Fakir Muhajirin (QS. Al-Hashr: 8): Meninggalkan harta demi berhijrah bersama Rasulullah ﷺ dan dipuji dalam Al-Qur’an.
- Orang Buta Bani Israil (HR. Tirmidzi dan Ahmad): Salah satu dari tiga orang yang diuji, miskin dan bersyukur setelah mendapat nikmat.
- Sahabat yang Tidak Mampu Bersedekah (HR. Muslim): Mereka diberi dzikir sebagai sedekah pengganti oleh Rasulullah ﷺ.
- Ashab al-Kahfi (QS. Al-Kahfi: 9-26): Pemuda-pemuda gua yang meninggalkan kemewahan demi iman dan dimuliakan Allah.
Mayoritas Ahli Surga Adalah Orang Miskin
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Aku melihat surga, maka aku melihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin." (HR. Muslim)
Ini bukan berarti miskin otomatis mulia, tetapi menunjukkan bahwa kesabaran dan tawakal dalam kekurangan sering kali lebih mendekatkan seseorang kepada Allah dibandingkan dengan kelapangan yang membuat lupa diri.
Refleksi untuk Kita
Jika Allah sampai mengulang tema ini dalam 11 ayat serupa di berbagai surat, itu berarti pesan ini amat penting: kaya dan miskin adalah ketentuan Allah, bukan ukuran kemuliaan. Orang kaya diuji dengan harta: apakah ia akan bersyukur dan berbagi? Orang miskin diuji dengan kesabaran: apakah ia tetap ridha dan tidak berputus asa?
Dalam sejarah Islam, kita melihat keseimbangan ini. Ada sahabat kaya seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang menggunakan hartanya di jalan Allah. Ada pula sahabat miskin seperti Abu Hurairah dan Ashab al-Suffah yang mulia karena kesabaran dan ilmu mereka.
Bukan kaya atau miskin yang menentukan kemuliaan kita, tetapi bagaimana kita menyikapi takdir Allah dengan iman.
Penutup
Mari kita renungkan, apakah kelapangan atau kesempitan yang sedang kita jalani hari ini membuat kita lebih dekat atau justru jauh dari Allah? Kaya bukan berarti mulia, miskin bukan berarti hina. Yang mulia adalah hati yang bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ridha terhadap segala takdir-Nya dan mampu mengambil pelajaran dari pesan yang diulang dalam 11 ayat serupa di dalam Al-Qur’an.
Wallahu a'lam bishshawab





