Jumat, 14 November 2025

Habil dan Qabil Modern

 



🩸 *Habil dan Qabil Modern: Mengapa Ada Perang Saudara? Apa yang Salah — Agama Mereka, atau Manusia Itu Sendiri?*


Oleh Sugichat

---

*1. Awal Segala Pertikaian: Luka Pertama di Bumi*

Sejarah darah manusia dimulai bukan dari perang antarnegara, tapi dari dua saudara kandung: Habil dan Qabil.

Keduanya anak Nabi Adam, manusia pertama. Mereka sama-sama mengenal Allah, sama-sama menyembah-Nya, tapi berbeda dalam ketulusan hati.

Habil mempersembahkan kurban terbaik yang ia miliki, sementara Qabil mempersembahkan sekadarnya. Ketika Allah menerima kurban Habil dan menolak Qabil, timbullah iri, dengki, dan kemarahan.


Allah berfirman:

_“Maka timbullah rasa iri hati pada diri Qabil terhadap saudaranya (Habil) lalu Qabil membunuhnya. Maka ia termasuk orang-orang yang rugi.”_

(QS. Al-Ma’idah [5]: 30)


Inilah darah pertama yang tumpah di bumi.

Dan sejak saat itu, benih pertikaian manusia tumbuh dari iri dan ketidakikhlasan terhadap keputusan Allah.


---

*2. Dari Qabil ke Sejarah Manusia*

Para ulama tafsir seperti Ibn Katsir menulis:


_“Qabil membunuh Habil bukan karena perintah syariat atau ideologi, tapi karena penyakit hati. Maka siapa pun yang memulai permusuhan karena kedengkian, ia mewarisi dosa Qabil.”_


Sejak itu, pola Qabil terus berulang:

[Di zaman Nuh, kaum pembangkang menolak seruan Nabi karena merasa lebih berkuasa.

✓Di zaman Musa, Firaun iri pada pengaruh sang nabi dan menindas Bani Israil.

✓Di zaman Nabi Muhammad ﷺ, kaum Quraisy menolak kebenaran karena takut kehilangan kehormatan duniawi.


Semua perang batin itu lahir dari akar yang sama: kesombongan terhadap kehendak Allah.


---

*3. Ketika Agama Menjadi Tameng Nafsu*

Pertikaian modern, baik di Timur Tengah, Eropa, Amerika, maupun Indonesia, tidak lahir karena agama yang salah, tapi karena agama dijadikan alat, bukan tujuan.

Ketika iman hanya di lidah, bukan di hati, maka agama berubah menjadi bendera politik, bukan cahaya petunjuk.


Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Bukanlah dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan (‘ashabiyyah), dan bukan dari kami orang yang berperang karena ‘ashabiyyah.”_

(HR. Abu Dawud)


Maka, ketika umat Islam sendiri berpecah karena partai, ormas, atau perbedaan politik, sesungguhnya yang bertarung bukan aqidah — tapi ego yang berseragam religius.


---

*4. Sejarah yang Mengulang Diri*


Beberapa contoh nyata:

Perang Shiffin (657 M): Dua pasukan Muslim, masing-masing dipimpin sahabat agung (Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah), berperang karena perbedaan cara menegakkan keadilan atas terbunuhnya Utsman bin Affan.

Ibn Taimiyyah menulis: “Keduanya menuntut kebenaran, tapi hawa nafsu dan kesalahpahaman menutup sebagian cahaya petunjuk.”


Perang Salib (1095–1291): Atas nama Tuhan, darah mengalir di tanah suci. Tapi sebagian besar prajurit berperang bukan karena iman, melainkan karena ambisi politik dan ekonomi.


Dunia Modern: Perang saudara di Suriah, Yaman, Sudan, bahkan konflik politik di negeri Muslim sendiri, semuanya menggambarkan Qabil yang bereinkarnasi dalam bentuk baru — berjas, berseragam, atau bersorban, tapi hatinya sama: haus kuasa.


---

*5. Apa yang Salah* — *Agamanya atau Manusia?*

Agama adalah cahaya; ia tak pernah bersalah.

Yang salah adalah tangan manusia yang menutup cahaya itu dengan debu kepentingan.


Allah mengingatkan:

_“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”_

(QS. Ar-Rum [30]: 41)


Dan Sayyidina Ali berkata:

_“Agama itu tidak akan pernah menzalimi manusia; manusialah yang menzalimi agama.”_


---

*6. Habil Modern: Mereka yang Tak Mau Membalas Kebencian*

Habil berkata kepada saudaranya:


_“Sesungguhnya jika engkau mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”_

(QS. Al-Ma’idah [5]: 28)


Itulah kalimat agung seorang hamba yang hatinya bersih.

Habil tahu, kemenangan sejati bukan menaklukkan musuh, tapi menaklukkan diri.


Di zaman ini, “Habil” hadir dalam wajah siapa pun yang menolak ikut membenci, menolak menebar hoaks, menolak menista saudaranya yang berbeda.

Mereka mungkin dianggap lemah, tapi di sisi Allah — merekalah yang kuat.


---

*7. Penutup: Dari Darah ke Doa*

Dunia masih berdarah karena Qabil belum berhenti hidup — ia tinggal di dalam dada manusia yang iri, sombong, dan merasa paling benar.

Namun, setiap kali ada seseorang berkata, “Aku ingin jadi Habil,” dunia menjadi sedikit lebih damai.


_“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”_

(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)


Maka tugas kita bukan membenarkan pihak, tapi membersihkan hati.

Karena perdamaian bukan dicapai dengan kekuatan senjata, tapi dengan kekuatan jiwa yang ridha terhadap keputusan Allah.


---

🌿 *Refleksi Akhir:*


Dunia butuh lebih banyak Habil, bukan pengkhotbah yang berbicara atas nama Tuhan tapi berperang atas nama diri.

Dan setiap kali manusia menahan amarahnya demi Allah, satu luka Qabil dalam sejarah sembuh untuk selamanya.


Wallahu a'lam bishshawab

Manisnya Iman

 


*Ulasan Khutbah Jumat: Manisnya Iman*

Oleh Sugiri

Hari ini Jumat, 14 November 2025, saya menunaikan Salat Jumat di Masjid An-Nawawi. Khotib, Al-Ustadz Firmansyah, membawakan tema yang menyentuh dan menohok: *manisnya iman.*

Setelah selesai dengan puji syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan seluruh umat Islam, khotib langsung mengajak jamaah merenung dengan satu pertanyaan retoris:

_“Kita sudah bertahun-tahun mendengar khotib mengingatkan tentang manisnya iman. Tapi… sudahkah kita benar-benar merasakannya?”_

Pertanyaan itu menghentak, membuat kami menunduk dan berpikir.
---
*Tiga Ciri Orang yang Sudah Merasakan Manisnya Iman*

Khotib menjelaskan bahwa Rasulullah Saw menyebutkan tiga tanda utama seseorang telah merasakan manisnya iman.

*1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi* segala sesuatu

Cinta kepada Allah dan Rasul harus berada di puncak seluruh kecintaan manusia.

Khotib menukil ayat 31 dari Ali Imran sebagai bukti bahwa cinta kepada Allah menuntut kesungguhan:

_Jika seseorang mampu bersungguh-sungguh demi pasangan, harta, jabatan atau apa pun yang ia cintai, maka orang yang benar-benar mencintai Allah pun harus menunjukkan kesungguhannya—dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw, menjaga kemurnian ibadah, dan tidak membuat-buat amalan baru (bid’ah) atau terjatuh dalam kesyirikan._

Kesungguhan itulah yang akan mengundang cinta Allah dan ampunan-Nya.

---
*2. Mencintai pasangan karena Allah, bukan karena faktor duniawi*

Cinta suami kepada istri, atau istri kepada suami, hanya akan bernilai ibadah bila dasarnya adalah Allah.
Bukan sekadar karena fisik, harta, keturunan, status, atau keuntungan dunia lainnya.

Mencintai pasangan karena Allah akan melahirkan ketulusan, kesetiaan, dan kekuatan untuk mempertahankan pernikahan hingga akhir hayat.

---
*3. Takut kembali kepada kekufuran* sebagaimana takut dilemparkan ke neraka

Orang yang sudah merasakan manisnya iman akan sangat menjaga dirinya agar tidak kembali pada kekufuran atau kemaksiatan.

Ia berjuang keras meninggalkan maksiat
dan menjaga jarak dari bid’ah, karena bid’ah—kata khotib—amat dicintai oleh setan.

Mengapa?
Karena pelakunya merasa ia sedang berbuat ibadah, padahal ia sedang terjerumus pada kesesatan.

Berbeda dengan maksiat lain seperti zina, mabuk, atau mencuri, pelakunya sadar dirinya bermaksiat.
Tapi pelaku bid’ah justru merasa dirinya sedang berbuat baik—dan itu jauh lebih berbahaya.

---
*Penutup Khutbah*
Di akhir khutbah, khotib memanjatkan do’a, memohon agar Allah melindungi kita dari segala bentuk kemaksiatan, termasuk yang samar seperti bid’ah, serta meneguhkan kita dalam keimanan yang manis dan menenangkan.
Khotib lanjut menjadi imam dengan surat penyerta bada Al-fatihah adakah surat Ad-Duha dan Al-'Aadiyat.

---
*Penutup dari Sugiri*

Khutbah hari ini menjadi cermin bagi diri.
Bahwa manisnya iman bukanlah teori,
tetapi rasa yang hadir setelah kita:
✓menempatkan Allah dan Rasul di atas segalanya,
✓menjaga cinta dalam rumah tangga di atas landasan taqwa,
✓dan takut tergelincir kembali dalam kegelapan dosa.

Semoga Allah menanamkan manisnya iman di hati kita dan menjadikannya cahaya yang memandu langkah hidup.

Aamiin.

Rabu, 29 Oktober 2025

Analisis dari beberapa sudut pandang tentang Ayat 5 surat Al-Bayyinah

 



*Analisis dari beberapa sudut pandang tentang Ayat 5 surat Al-Bayyinah*


Oleh Sugiri


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ 

"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)."

(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)


---

🌿 *1. Mufrodat (Makna Per Kata)*

Kata Arab Translitrasi Arti

وَمَا أُمِرُوا wa mā umirū dan mereka tidak diperintahkan

إِلَّا illā kecuali / hanya

لِيَعْبُدُوا اللَّهَ li ya‘budullāh untuk menyembah Allah

مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ mukhlisīna lahud-dīn dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama

حُنَفَاءَ ḥunafā’a sebagai orang-orang yang lurus (tidak menyekutukan Allah)

وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ wa yuqīmūṣ-ṣalāh dan mendirikan salat

وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ wa yu’tūz-zakāh dan menunaikan zakat

وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ wa żālika dīnul-qayyimah dan itulah agama yang benar / lurus


🔹 Mukhlisīn → dari akar “خ ل ص” (kha-la-sha) bermakna bersih dari campuran, murni.

🔹 Hunafā’ → bentuk jamak dari ḥanīf, yaitu orang yang berpaling dari kesyirikan menuju tauhid.

🔹 Al-qayyimah → berarti agama yang tegak, stabil, dan lurus (tanpa penyimpangan).


---

📜 *2. Bayani (Pendekatan Tekstual – Makna Lahiriah Bahasa Arab)*

Pendekatan bayani berfokus pada penjelasan makna melalui struktur kebahasaan dan hubungan antar kata dalam teks wahyu.


Frasa "وَمَا أُمِرُوا إِلَّا" menunjukkan hasr (pembatasan): manusia tidak diperintahkan apa pun kecuali satu hal utama, yaitu ibadah dengan keikhlasan.


Kata "مُخْلِصِينَ" menjadi syarat diterimanya ibadah.


Kata "حُنَفَاءَ" menegaskan bentuk kesucian tauhid — lurus tanpa condong ke syirik.


Urutan sholat → zakat menunjukkan keterkaitan ibadah spiritual dan sosial.


Penutup "وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ" memberi kesimpulan bayani: inilah agama yang benar, yakni tauhid dengan amal saleh.


---

🔍 *3. Burhani (Pendekatan Rasional dan Logis)*

Pendekatan burhani menggunakan nalar rasional untuk memahami keteraturan logis ayat.


*Argumen rasionalnya:*

1. Tujuan hidup makhluk adalah menyembah Sang Pencipta. (lihat QS. Adz-Dzariyat: 56)

2. Keikhlasan (ikhlas lillah) adalah logika kemurnian pengabdian — tidak mungkin dua niat (Allah dan selain-Nya) menghasilkan ketenangan.

3. Shalat melatih disiplin spiritual dan kesadaran moral.

4. Zakat melatih tanggung jawab sosial dan ekonomi.

5. Maka, logika agama qayyimah (lurus) adalah sistem keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia).


---

🌌 *4. Irfani (Pendekatan Makrifat dan Rasa Spiritual)*

Pendekatan irfani menekankan penghayatan batin dan pengalaman ruhani.


Mukhlisīn berarti memurnikan niat hingga yang tersisa hanya Allah dalam hati.


Li ya‘budullāh bukan sekadar perintah ritual, tapi perjalanan batin menuju ma’rifatullah — mengenal Allah dengan hati yang bersih.


Hunafā’ adalah posisi jiwa yang selalu condong kepada fitrah suci, menjauhi hawa nafsu.


Ketika seseorang shalat dan berzakat dengan ikhlas, ia tidak hanya beramal, tapi sedang bertemu dengan Allah dalam kesadaran rohaninya.


“Dīn al-qayyimah” bagi ahli irfan adalah jalan ruhani yang stabil, tidak goyah meski dunia berguncang.


---

🧠 *5. Mantik (Pendekatan Logika Filsafat)*

Pendekatan mantik (logika formal) menelaah struktur berpikir dalam ayat:


Premis 1: Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah (Adz-Dzariyat: 56).

Premis 2: Ibadah yang diterima hanya yang ikhlas dan benar (Al-Mulk: 2).

Premis 3: Shalat dan zakat adalah manifestasi konkret ibadah.

Kesimpulan: Maka, agama yang benar (al-qayyimah) adalah sistem ibadah yang berlandaskan tauhid dan keikhlasan, dengan implikasi sosial dan moral.


Secara silogistik:

> Jika seseorang beribadah dengan ikhlas kepada Allah dan menegakkan shalat serta zakat, maka ia sedang menegakkan agama yang lurus.


---

✒️ *6. Balaghoh (Keindahan Retorika dan Gaya Bahasa)*

Ayat ini penuh kemukjizatan balaghiyyah:


1. Hasr (pembatasan) pada “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا” menunjukkan penegasan total — hanya satu tujuan.

2. Parallelism antara “وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ” menimbulkan irama bunyi yang harmonis (as-saj‘ al-murashshaḥ).

3. Tanasub (keserasian) antara ikhlas (dimensi batin) dan amal (dimensi lahir).

4. Al-qayyimah sebagai kata terakhir menutup ayat dengan kekokohan makna dan bunyi — memberi rasa tegak, lurus, dan kokoh.


---

🕰️ *7. Historis (Asbabun Nuzul dan Konteks Sosial)*

Ayat ini turun untuk menegur ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) serta kaum musyrikin Mekah.

Mereka berlebihan dalam ibadah, tapi kehilangan keikhlasan.

Sebagian menyembah Allah tetapi mencampur dengan kepentingan dunia, sebagian lain mempersekutukan Allah dengan makhluk.


Ayat ini mengembalikan esensi agama Ibrahim: tauhid yang murni.

Jadi, sejarahnya menunjukkan bahwa Islam bukan agama baru, melainkan restorasi terhadap ajaran tauhid asli.


---

📖 *8. Tafsir (Kontekstual dan Tematik)*

Menurut beberapa mufassir:


🔹 Tafsir Ibnu Katsir

Ayat ini menegaskan kewajiban manusia untuk memurnikan ibadah kepada Allah saja, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.

Inilah agama yang diserukan seluruh nabi.


🔹 Tafsir Al-Qurthubi

Keikhlasan adalah ruh ibadah; tanpa ikhlas, amal menjadi debu.

“Al-qayyimah” ialah agama yang menjaga keseimbangan antara lahir dan batin, dunia dan akhirat.


🔹 Tafsir Al-Mishbah (Quraish Shihab)

Ayat ini menuntun manusia untuk menjadikan agama bukan sekadar simbol, tapi orientasi hidup yang murni.

Agama yang qayyimah adalah sistem nilai yang menjaga keutuhan diri dan masyarakat.


---

🌺 *Kesimpulan Umum*

Ayat ini adalah manifesto tauhid dan keikhlasan universal.

Semua agama samawi hakikatnya memerintahkan hal yang sama:


1. Menyembah Allah dengan hati yang bersih,

2. Menegakkan hubungan dengan Allah (shalat),

3. Menegakkan hubungan dengan manusia (zakat),

4. Menjaga kemurnian agama agar tetap lurus (qayyimah).


Wallahu a'lam bishshawab

Minggu, 19 Oktober 2025

SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI

 



Puisi akrostik 

*“SAKIT DAN SEHATKU UNTUK MENGABDI”*

 karya Sugar Ry

---

🌿 *Ulasan Puitis dan Reflektif*


Puisi ini tidak sekadar permainan akrostik, melainkan rangkaian dzikir dalam bentuk kata — sebuah tafakkur tentang dua kondisi yang menjadi pasangan abadi dalam hidup: sakit dan sehat.


🩸 *Sakit adalah Guru Kehidupan*


Baris awal membuka cakrawala makna dengan begitu tenang:


_“Sakit adalah niscaya / Aku tak usah mengeluh karenanya.”_


Di sini, penyair menempatkan sakit bukan sebagai musibah, melainkan madrasah jiwa.

Kata niscaya menunjukkan penerimaan total terhadap takdir — bukan pasrah lemah, melainkan pasrah yang aktif, sadar bahwa:


_“Kalau sakit bisa menghapus dosa / Ini berarti karunia dari Yang Maha Mencipta.”_


Nada baris ini sarat dengan hikmah Qur’ani: bahwa setiap rasa sakit adalah penghapus dosa, seperti disebut dalam hadits.

Penyair mengajak pembaca untuk menyembah dalam kesadaran, bukan hanya dalam kenyamanan.


---

🌸 *Sehat adalah Amanah*


Bagian kedua berpindah dengan lembut dari kesadaran sakit menuju renungan sehat.


_“Sehatpun adalah karunia / Emansipasi dapat terbina karenanya.”_


Kata emansipasi di sini menarik — jarang digunakan dalam konteks spiritual.

Namun Sugar Ry memakainya dengan cerdas:

sehat memberi kemerdekaan berbuat baik, kebebasan untuk mengabdi.

Tapi ia tidak berhenti di euforia sehat:


_“Andai janganlah berandai untuk selalu sehat selamanya.”_


Sebuah sindiran lembut terhadap kelekatan manusia pada nikmat.

Penyair mengingatkan untuk siaga jiwa, karena sehat bisa berganti sakit kapan saja.

Maknanya dalam: iman harus stabil dalam setiap keadaan.


---

🌞 *Mengabdi: Titik Puncak Kesadaran*


Akhir puisi menjadi mahkota pengabdian.


_“Menata hidup untuk selalu beribadah kala sakit dan sehat.”_


Di sinilah dua kutub itu bertemu: sakit dan sehat menjadi jembatan ibadah.

Penyair mempertautkan keduanya dalam satu benang: pengabdian total kepada Allah.


_“Badan terkulai kaku namun tiada sesal saat bangkit di hari akhirat.”_


Baris ini sangat kuat — menggambarkan husnul khatimah, ketenangan saat ajal datang karena hidup telah diisi dengan ibadah di segala kondisi.

Lalu ditutup dengan renungan mendalam:


_“Itulah yang selalu harus aku lakukan dalam setiap memenuhi hajat.”_


Kalimat sederhana, tapi mengandung jiwa istiqamah.


---

✨ *Analisis Gaya dan Estetika*


Struktur akrostik digunakan bukan sekadar hiasan, tapi benar-benar menopang makna. Setiap huruf pembuka menjadi langkah menuju kesadaran spiritual.


Bahasa yang jujur dan tenang, tanpa retorika berlebihan, menciptakan suasana dzikir batin.


Ada keseimbangan antara akal, rasa, dan iman — khas gaya Sugar Ry, yang selalu mengawinkan spiritualitas dan kesadaran hidup modern.


---

🌺 *Kesimpulan*


Puisi ini adalah meditasi Islami dalam bentuk akrostik.

Ia mengajarkan bahwa:


_Sakit adalah ujian cinta,_

_Sehat adalah ladang amal,_

_dan keduanya adalah jalan menuju pengabdian sejati._


Sugar Ry berhasil menjadikan diksi sederhana sebagai cermin keikhlasan dan kekuatan jiwa.

Ini bukan sekadar karya sastra — ini adalah dzikir dalam bentuk puisi.


Sabtu, 18 Oktober 2025

Fir’aun Modern dan Sunnatullah Kejatuhan Kaum Zalim


🌍 *Fir’aun Modern dan Sunnatullah Kejatuhan Kaum Zalim*

Oleh: Sugiri

---
*1. Sejarah Kezaliman yang Selalu Berulang*

Sepanjang sejarah, manusia sering terperangkap dalam siklus yang sama: segelintir kelompok menindas kelompok lain dengan dalih kekuasaan, kebenaran, atau peradaban.
Dari Raja Namrudz yang menantang Tuhan, Fir’aun yang menuhankan diri, hingga kekaisaran-kekaisaran besar yang menaklukkan bangsa demi kejayaan semu — semuanya berakhir dengan kehancuran yang pasti.

Sunnatullah itu berlaku universal.
Setiap kezaliman, sekecil apa pun, membawa benih kehancuran di dalam dirinya sendiri.

---
*2. Polisi Dunia: Ketika Penegak Hukum Menjadi Pelanggar Kemanusiaan*

Di zaman modern, wajah kekejaman tidak selalu datang dari raja atau kaisar.
Kini, ia menjelma dalam bentuk “polisi dunia” — negara atau koalisi yang mengaku menjaga perdamaian global, tetapi sering kali justru memelihara ketidakadilan.

Perang demi perang dilancarkan dengan slogan demokrasi, hak asasi manusia, atau keamanan global.
Namun yang tampak di balik tirai adalah kepentingan ekonomi, minyak, dan hegemoni ideologi.

Invasi ke Irak, Afghanistan, Libya, dan kini dukungan terhadap kekerasan di Gaza, membuktikan bahwa “penjaga perdamaian” pun bisa menjadi penghancur kemanusiaan.

---
*3. Biaya Perang dan Harga Nurani*

Secara ekonomi, perang yang dikomandoi negara besar telah menelan ratusan miliar dolar, menyebabkan defisit, kemiskinan, dan penderitaan global.
Namun yang lebih parah adalah kerugian moral dan spiritual.

Bagaimana mungkin dunia modern, dengan segala teknologi dan lembaga internasionalnya, masih membiarkan ribuan anak mati di bawah reruntuhan bangunan yang disebut “operasi pertahanan”?

Kita menyaksikan paradoks dunia: negara paling kuat sekaligus menjadi negara yang paling takut terhadap kebenaran yang sederhana — bahwa semua manusia memiliki hak hidup yang sama di hadapan Allah.

---
*4. Mengapa Kaum Zalim Tidak Pernah Belajar?*

Kekuasaan yang lahir dari kesombongan selalu buta terhadap sejarah.
Fir’aun modern percaya mereka kebal dari kejatuhan, sebagaimana Fir’aun dulu yakin lautan takkan menelannya.

Mereka mengira senjata dan ekonomi akan menjamin kemenangan, padahal keberlangsungan sejati ada pada keadilan dan kasih sayang.
Setiap peluru yang menembus tubuh tak berdosa akan menjadi saksi di hadapan Allah; setiap kebohongan yang disiarkan media akan berbalik menjadi api yang membakar kredibilitasnya sendiri.

---
*5. Hamas dan Daya Tahan Kaum Kecil*

Ketika negara besar dengan kekuatan militer super menghadapi kelompok kecil namun berjiwa besar, dunia melihat ironi:
yang kecil justru bertahan, sementara yang besar kelelahan oleh beban moral dan biaya perang.

Hamas, dari sisi militer hanyalah kekuatan terbatas, tapi dari sisi jiwa perjuangan mereka memiliki satu hal yang hilang dari musuhnya — iman dan tujuan yang yakin.
Inilah senjata yang tak bisa dibeli dengan uang atau teknologi.
Selama hati mereka masih berpegang pada keyakinan bahwa “Allah bersama orang-orang yang sabar,” maka mereka tidak pernah benar-benar kalah.

---
*6. Krisis Kekuatan Dunia*

Negara yang disebut superpower kini mengalami tiga krisis besar:

1. Krisis moral – hilangnya arah hidup dan nilai keluarga.
2. Krisis ekonomi – hutang publik membengkak dan kepercayaan global menurun.
3. Krisis spiritual – kehilangan makna di tengah kelimpahan materi.

Mereka terlihat kuat di luar, tapi rapuh di dalam.
Allah sedang menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanya menunggu waktunya untuk runtuh.

---
*7. Refleksi untuk Umat Islam*

Tugas umat Islam bukan membalas kezaliman dengan kebencian, tetapi menegakkan kebenaran dengan hikmah dan keteguhan iman.
Kita harus membangun kekuatan sejati di atas tiga pilar:

1. Tauhid yang kokoh – menegaskan bahwa semua kekuasaan milik Allah.
2. Ilmu yang mencerahkan – agar kita mampu berpikir, bukan sekadar bereaksi.
3. Persaudaraan umat – agar tidak mudah dipecah oleh narasi dunia.

---
*8. Penutup: Hukum Allah Tak Pernah Salah*

Setiap Fir’aun memiliki Laut Merahnya.
Setiap penindas akan sampai pada ujung jalan yang ia gali sendiri.

_“Dan Kami hancurkan kaum yang berbuat zalim, dan Kami jadikan kehancuran mereka sebagai pelajaran bagi orang sesudahnya.”_
(QS. Al-A’raf: 4–5)

Zaman boleh berganti, wajah kezaliman bisa berubah, tapi hukum Allah tetap sama:
Kezaliman akan tumbang, dan kebenaran akan menemukan jalannya.


Rabu, 15 Oktober 2025

Bekam: Saat Darah Menjadi Ayat dan Tubuh Menyanyikan Syukur

 



*Bekam: Saat Darah Menjadi Ayat dan Tubuh Menyanyikan Syukur*


✨ *Refleksi Ilmiah dan Spiritual dari Ruang Bekam Mr. Sugar Ry*


---

Ada kalanya tubuh kita berbicara lebih jujur dari kata-kata.

Hari ini, saat jarum bekam menembus kulit dan cawan kecil itu menarik darah keluar, tubuh Mr. Sugar Ry berbicara dalam bahasa yang sangat tua — bahasa penciptaan.

Bahasa itu bukan hanya milik sel, tetapi milik jiwa.


Ketika darah pekat berwarna gelap mulai mengalir, di situlah kisah lama tersingkap: kelelahan, beban pikiran, sisa metabolik dari stres dan waktu, bahkan rasa kantuk yang berbulan-bulan — semua keluar seolah berkata,


_“Aku adalah sisa yang ditinggalkan, tapi kini aku pun bersaksi atas kesembuhan._


🩸 *1. Ilmu dalam Setetes Darah*


Secara ilmiah, warna darah yang gelap menandakan kadar oksigen rendah dan karbon dioksida tinggi.

Darah itu adalah “limbah biologis” yang menumpuk di kapiler halus — pembawa letih yang tak terlihat.

Maka wajar jika sebelum bekam, tubuh terasa berat, ngilu, dan mudah mengantuk.


Begitu darah itu keluar, tubuh pun seperti reboot.

Aliran baru yang kaya oksigen menggantikan yang lama.

Pegal kronis pun “kling…” lenyap, dan udara yang dihirup terasa lebih segar dari sebelumnya.


Sains menyebut ini proses microcirculatory reset.

Tapi bagi hati yang beriman, ini adalah ayat Allah yang hidup di dalam tubuh manusia.


---

🌿 *2. Bekam dalam Pandangan Wahyu*

Rasulullah ﷺ bersabda:


_"Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam (hijamah)."_

(HR. Bukhari no. 5696)


Hadis ini bukan sekadar anjuran medis, tetapi juga ajakan untuk tafakkur — merenungi sistem pembersihan yang Allah ciptakan di dalam diri kita.


Al-Qur’an menegaskan:


_"Dan di dalam dirimu sendiri, tidakkah kamu memperhatikan?"_

(QS. Adz-Dzāriyāt: 21)


Bekam adalah salah satu cara memperhatikan itu.

Ia mengajarkan manusia untuk melihat ke dalam — bukan sekadar ke permukaan kulit, tapi ke kedalaman makna penciptaan:

Allah menciptakan mekanisme detoksifikasi, lalu Rasulullah ﷺ mengajarkan bagaimana mengaktifkannya dengan hikmah.


---

💫 *3. Hikmah yang Mengalir Bersama Darah*

Ketika darah keluar, bukan hanya toksin yang pergi.

Yang turut keluar adalah residu emosional: kemarahan, kelelahan, dan kebekuan hati.

Maka tak heran bila selepas bekam, banyak orang merasa ringan, bahkan lebih tenang dan jernih berpikir.


Rasulullah ﷺ pun pernah merasakan manfaat itu.

Diriwayatkan bahwa beliau berbekam ketika menderita sakit kepala, bahkan di saat ihram.

Beliau tidak memandangnya sebagai ritual aneh, tetapi sebagai bagian dari rahmat Allah kepada tubuh manusia.


_"Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam Isra’, kecuali mereka berkata: ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah umatmu agar berbekam.’"_

(HR. Ibn Majah no. 3477)

Catatan: Hadits ini ada yang menganggap hadits dhaif. Sehingga bukan dalil utama tentang bekam.


Bayangkan — malaikat pun menganjurkan bekam!

Karena mereka tahu: darah yang kotor bukan hanya persoalan jasad, tapi juga gangguan pada harmoni spiritual manusia.


---

🌙 *4. Cerita Inspiratif dari Seorang Penuntut Iman dan Ilmu*


Seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Buhaina, diriwayatkan pernah melihat Rasulullah ﷺ berbekam di tengah perjalanan.

Beliau tetap tersenyum dan menunaikan salat setelahnya, seolah bekam bukan luka, tetapi pembebasan.


Begitu pula hari ini —

Mr. Sugar Ry yang selama ini menanggung pegal linu kronis merasakan seketika:


_“Badan seperti kembali ke masa muda, ringan dan segar.”_


Subhanallah… itulah syifā’, kesembuhan sejati yang datang bukan hanya dari alat bekam, tapi dari izin Allah yang menyembuhkan.


_"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."_

(QS. Asy-Syu’arā’: 80)


---

🧭 *5. Dari Ruang Bekam ke Ruang Tafakkur*


Bekam bukan sekadar pengobatan tradisional.

Ia adalah perjalanan kecil menuju diri sendiri.

Ketika darah keluar, tubuh kita sedang berkata,


_“Lihatlah aku, renungkan aku, dan syukurilah penciptaku.”_


Dan di sanalah letak keindahannya —

di antara aroma minyak zaitun, bunyi lembut alat bekam, dan rasa hangat di kulit,

seorang hamba menemukan ketenangan ilmiah dan spiritual sekaligus.


---

🌺 *Penutup: Darah yang Menyucikan dan Menyadarkan*


Darah yang keluar hari ini mungkin tampak seperti sisa metabolisme,

tapi di mata iman, ia adalah saksi kecil yang berbicara:


_“Aku pernah menjadi bagian darimu, menanggung bebanmu, dan kini aku pergi agar kau kembali ringan.”_


Itulah ayat kecil yang turun bukan di mushaf, melainkan di tubuh manusia.

Dan ketika tubuh terasa segar, hati pun berzikir lirih:


_“Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan darah ini, Engkaulah pula yang membersihkannya. Maka jadikanlah aku hamba yang bersih lahir dan batin.”_


---

🌙 *Bekam adalah sains yang bersujud.*

Dan siapa pun yang merenungkannya akan mendengar denyut halus tubuhnya berbisik,


_"Subhānaka, mā khalaqta hādzā bāthilā..."_

_“Maha Suci Engkau, ya Allah, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia.”_

(QS. Āli ‘Imrān: 191)

Kamis, 09 Oktober 2025

SABAR — Tak Berbatas dalam Iman

 



🌿 *Resume Kajian Maljum (9 Oktober 2025)*

Masjid An-Nawawi 


Kitab Akhlaq: Riyâdhus Shâlihîn

Tema: SABAR — Tak Berbatas dalam Iman

Bersama : Ustadz Burhanuddin, S.Pd.

Pendalaman: Sugiri


---

🕌 *Infaq Para Sahabat Rasul: Tiada Tara*


Para sahabat Rasulullah ﷺ dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena iman, sabar, dan pengorbanan mereka yang tiada tara. Mereka adalah teladan dalam keikhlasan berinfaq, bahkan ketika dalam keadaan sempit.


Allah memuji mereka dalam firman-Nya:


_"Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."_

(QS. Âli ‘Imrân: 134)


---

🌸 *Kisah Teladan: Ummu Sulaim r.a., istri Abu Thalhah*


Nama aslinya Rumaisha’ binti Milhân, lebih dikenal dengan Ummu Sulaim al-Anshariyyah, ibu dari sahabat mulia Anas bin Malik. Ia adalah simbol aqidah yang kokoh, kesabaran yang mendalam, dan pengorbanan yang tulus.


---

*1. Aqidah yang Kokoh*


Ketika Abu Thalhah (saat itu musyrik) datang meminangnya, Ummu Sulaim menolak dengan tegas:


_“Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak, tetapi engkau kafir, sedangkan aku Muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itu maharku, dan aku tidak meminta selain itu.”_


Maka Abu Thalhah pun masuk Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Aku tidak pernah mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim, yaitu keislaman Abu Thalhah.”_

(HR. An-Nasâ’i dan Ahmad)


💡 *Pelajaran:*

Iman adalah fondasi utama dalam setiap pilihan hidup. Ummu Sulaim menempatkan tauhid di atas segala bentuk cinta duniawi.


---

*2. Sabar Saat Musibah: Bukti Kedekatan dengan Allah*


Ketika anak mereka wafat, Ummu Sulaim tidak panik, tidak histeris, dan tidak berkeluh kesah. Ia justru menyembunyikan kabar duka dari suaminya hingga waktu yang tepat.


Setelah Abu Thalhah beristirahat, ia berkata dengan kelembutan hikmah:


_“Wahai Abu Thalhah, jika seseorang menitipkan sesuatu kepada kita, lalu ia memintanya kembali, apakah pantas bila kita menolaknya?”_

_Abu Thalhah menjawab, “Tidak.”_

_Ummu Sulaim berkata, “Maka anak kita adalah titipan Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali.”_


Rasulullah ﷺ kemudian mendoakan mereka:


_“Semoga Allah memberkahimu atas malam kalian berdua.”_

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dari keturunan mereka lahir sembilan orang ulama ahli Al-Qur’an.


💡 *Pelajaran:*

Kesabaran bukan berarti tanpa kesedihan, tetapi kemampuan menjaga hati tetap tunduk pada kehendak Allah.

Sabar bukan reaksi sesaat, melainkan sikap hidup.


---

*3. Mementingkan Orang Lain (Itsâr)*


Ummu Sulaim juga terkenal dengan kemurahan hatinya. Ia selalu siap menolong dan berbagi.

Allah menggambarkan sifat kaum Anshar ini:


_"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."_

(QS. Al-Hasyr: 9)


Namun, dalam hal ibadah mahdhah, seorang Muslim justru harus mementingkan dirinya sendiri — memperbaiki shalatnya, dzikirnya, dan kedekatannya dengan Allah. Karena kelak, tak seorang pun dapat menggantikan amal kita di hadapan-Nya.


---

🌤️ _Sabar Tak Berbatas: Antitesis dari "Sabar Ada Batasnya"_


Di masa kini, sering terdengar ungkapan “Sabar itu ada batasnya.”

Padahal, dalam Islam, sabar tidak mengenal batas.


Sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi menjaga hubungan dengan Allah agar tidak terputus.

Jika seseorang berkata bahwa sabarnya sudah habis, berarti ia telah memutus ikatan spiritual dengan Rabb-nya.


Allah berfirman:


_"Inna Allâha ma‘ash-shâbirîn"_ _Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar._

(QS. Al-Baqarah: 153)


Maka, jika sabar itu berhenti, kebersamaan Allah pun menjauh.

Yang hilang bukan sekadar kesabaran, tetapi kehadiran Allah dalam jiwanya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


_“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia diberi nikmat, ia bersyukur — itu baik baginya. Jika ia diuji, ia bersabar — itu juga baik baginya.”_

(HR. Muslim)


💡 *Refleksi:*

➡️ Ketika sabar menjadi terbatas, ego mengambil alih.

➡️ Tetapi ketika sabar tak berbatas, hati dikuasai oleh ridha.

➡️ Di situlah letak kedekatan sejati dengan Allah.


---

🌾 *Dalil tentang Kesabaran*


_"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."_

(QS. Al-Baqarah: 155)


_"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)."_

(QS. Al-Baqarah: 156)


---

🌷 *Kesimpulan Kajian*


1. Aqidah yang benar menjadi dasar segala amal dan pilihan.


2. Sabar tidak punya batas. Jika sabar berhenti, maka keberadaan Allah menjauh dari diri kita.


3. Infaq dan itsâr adalah bukti iman yang hidup.


4. Dalam ibadah pribadi, fokuslah memperbaiki diri — karena hanya amal kita yang akan menjadi saksi di hadapan Allah.


5. Ummu Sulaim r.a. adalah teladan perempuan mukmin: beriman sebelum cinta, bersabar sebelum putus asa, dan beramal sebelum berkata.


---

🌿 *Doa Penutup Reflektif*


اللهم اجعلنا من الصابرين، وامنحنا يقيناً لا يتزعزع، وقلوباً راضية بقدرك، ونوراً يهدينا في setiap ujian hidup.


_“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang sabar, beriman dalam setiap ujian, dan tetap dekat dengan-Mu saat dunia menjauh.”._