Maukah Anda Binasa? Tentu Tidak. Jadi Apa Maksudnya?
*Maukah Anda Binasa? Tentu Tidak. Jadi Apa Maksudnya?*
_Renungan QS. Al-Baqarah Ayat 195_
Oleh Sugiri (Mr Sugar Ry)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
«وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ»
_«"Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."_
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 195)»
---
*Maukah Anda Binasa?*
Coba saya bertanya kepada Anda:
Maukah Anda binasa?
Saya yakin jawabannya hampir pasti:
"Tentu tidak!"
Tidak ada manusia normal yang menginginkan kebinasaan. Kita ingin hidup, sehat, selamat, bahagia, dan mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.
Lalu, jika tidak ada seorang pun yang ingin binasa, mengapa Allah memberikan peringatan:
«"Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri."»
Bukankah manusia memang tidak mau binasa?
Di sinilah ayat ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan merenung.
Sebab ternyata, tidak menginginkan kebinasaan belum tentu berarti kita tidak sedang berjalan menuju kebinasaan.
Bisa jadi mulut kita berkata, "Saya tidak ingin binasa," tetapi pilihan hidup kita justru membawa kita ke sana.
Bisa jadi kita tidak ingin kehidupan kita rusak, tetapi kita sendiri yang melakukan tindakan yang merusaknya.
Bisa jadi kita ingin selamat, tetapi kita justru memilih jalan yang membahayakan keselamatan.
Maka, ayat ini bukan hanya berbicara tentang keinginan manusia, tetapi juga tentang pilihan manusia.
---
*"Dengan Tangan Sendiri"*
Allah menggunakan ungkapan yang sangat menarik:
«بِأَيْدِيكُمْ
"Dengan tangan-tangan kalian sendiri."»
Mengapa Allah menyebut tangan?
Karena tangan adalah simbol dari perbuatan dan tindakan manusia.
Ada kebinasaan yang datang dari luar diri kita. Ada musibah yang tidak pernah kita kehendaki. Ada bencana alam, penyakit, kehilangan, dan berbagai ujian kehidupan yang berada di luar kendali kita.
✓Namun, ada pula kebinasaan yang kita datangkan sendiri.
✓Kita memilihnya.
✓Kita mengusahakannya.
✓Kita membuka pintunya.
✓Bahkan, terkadang kita sendiri yang berjalan menuju ke sana.
Inilah yang seharusnya membuat kita takut.
Bukan sekadar takut kepada kebinasaan, tetapi takut jika tangan kita sendiri menjadi alat yang mengantarkan kita kepadanya.
---
*Tidak Semua Kebinasaan Datang dari Luar*
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari penyebab kehancuran dari luar diri kita.
✓Kita menyalahkan keadaan.
✓Kita menyalahkan orang lain.
✓Kita menyalahkan zaman.
✓Kita menyalahkan lingkungan.
Padahal, mungkin ada bagian dari kehancuran itu yang berasal dari pilihan kita sendiri.
✓Keserakahan dapat menghancurkan kehidupan.
✓Kebencian dapat menghancurkan persaudaraan.
✓Kesombongan dapat menghancurkan hubungan.
✓Kemalasan dapat menghancurkan masa depan.
✓Pemborosan dapat menghancurkan ekonomi keluarga.
✓Kebodohan yang dipelihara dapat menghancurkan kesempatan.
✓Dan dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa pertobatan dapat menghancurkan kehidupan spiritual manusia.
Semua itu mungkin tidak terasa sebagai "kebinasaan" pada awalnya.
Semuanya dimulai dari sesuatu yang kecil.
✓Satu keputusan.
✓Satu kebiasaan.
✓Satu kelalaian.
✓Satu kompromi terhadap kebenaran.
✓Lalu berulang.
✓Dan akhirnya menjadi jalan.
Karena itu, mungkin salah satu pesan dari ayat ini adalah:
«Jangan menunggu kebinasaan datang untuk menyadari bahwa kita sedang berjalan menuju kepadanya.»
---
*Tetapi, Apa Hubungannya dengan Infak?*
Menariknya, ayat ini tidak berdiri sendiri.
Allah berfirman terlebih dahulu:
«وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
"Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah."»
Kemudian:
«وَلَا تُلْقُوْا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri."»
Kemudian:
«وَأَحْسِنُوا
"Dan berbuat baiklah."»
Ada hubungan yang sangat dalam di antara ketiganya.
Allah mengajarkan bahwa harta yang kita miliki bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
✓Ada hak untuk berbagi.
✓Ada tanggung jawab sosial.
✓Ada perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.
✓Ada kebaikan yang membutuhkan harta.
Jika manusia hanya mengumpulkan dan menyimpan untuk dirinya sendiri, sementara kepentingan kebaikan diabaikan, maka masyarakat akan kehilangan kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, sebagian penjelasan ulama mengaitkan "kebinasaan" dalam ayat ini dengan sikap meninggalkan infak dan perjuangan di jalan Allah.
Sebuah masyarakat bisa menjadi lemah ketika setiap orang hanya berpikir:
«"Yang penting saya selamat."»
Padahal keselamatan pribadi tidak selalu bisa dipisahkan dari keselamatan bersama.
Jika kita semua berhenti peduli, siapa yang akan menolong yang lemah?
Jika semua orang hanya ingin menerima, siapa yang akan memberi?
Jika semua orang hanya ingin mendapatkan manfaat, siapa yang akan berkorban?
Maka, menahan diri dari kebaikan secara terus-menerus juga dapat menjadi jalan menuju kebinasaan bersama.
---
*Kebinasaan Bukan Selalu Berarti Kematian*
Kata tahlukah atau kebinasaan tidak harus selalu dipahami sebatas kematian fisik.
Kebinasaan bisa hadir dalam berbagai bentuk.
Seseorang bisa hidup secara jasmani, tetapi hatinya mati.
Seseorang bisa memiliki banyak harta, tetapi kehilangan keberkahan.
Sebuah keluarga bisa tinggal dalam satu rumah, tetapi kehilangan kasih sayang.
Sebuah masyarakat bisa memiliki gedung-gedung tinggi, tetapi kehilangan kepedulian.
Sebuah bangsa bisa memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi kehilangan keadilan.
Bahkan seseorang bisa tampak sukses di hadapan manusia, tetapi sebenarnya sedang mengalami kebangkrutan spiritual di hadapan Allah.
Maka, pertanyaan yang lebih dalam bukan hanya:
«"Apakah saya masih hidup?"»
Tetapi:
«"Apakah kehidupan saya sedang menuju keselamatan atau kebinasaan?"»
---
*Tangan yang Sama Bisa Membinasakan, Tangan yang Sama Bisa Berbuat Ihsan*
Di sinilah bagian akhir ayat menjadi sangat indah:
«وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ»
«"Dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."»
Perhatikan.
Allah mengingatkan kita agar jangan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri.
Lalu Allah memerintahkan kita untuk berbuat ihsan.
Seolah-olah ada sebuah pesan yang sangat dalam:
Tangan manusia dapat menjadi alat kebinasaan, tetapi tangan yang sama juga dapat menjadi alat kebaikan.
Tangan yang digunakan untuk mengambil hak orang lain dapat pula digunakan untuk memberi.
Tangan yang digunakan untuk menyakiti dapat pula digunakan untuk menolong.
Tangan yang digunakan untuk merusak dapat pula digunakan untuk membangun.
Tangan yang digunakan untuk menggenggam harta terlalu erat dapat pula dibuka untuk berinfak.
Maka, persoalannya bukan semata-mata pada "tangan".
Persoalannya adalah:
Untuk apa tangan itu kita gunakan?
---
*Jangan Sampai Kita Menjadi Penyebab Kebinasaan Diri Sendiri*
Ayat ini akhirnya mengajak kita untuk melakukan introspeksi.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ada keputusan yang sedang saya ambil yang justru merusak diri saya?
Apakah ada kebiasaan yang saya pelihara yang sebenarnya sedang menghancurkan masa depan saya?
Apakah ada harta yang saya genggam terlalu erat sehingga saya lupa berbagi?
Apakah ada dosa yang terus saya lakukan sementara saya menunda-nunda pertobatan?
Apakah ada kesempatan berbuat baik yang saya abaikan?
Apakah ada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi saya memilih untuk tidak peduli?
Jangan-jangan, tanpa kita sadari, tangan kita sendiri sedang membuka jalan menuju kebinasaan.
Namun jangan pula berputus asa.
Sebab Allah tidak hanya memberi peringatan.
Allah juga memberikan jalan keluar:
«وَاَحْسِنُوْا»
✓Berbuat ihsanlah.
✓Lakukan kebaikan.
✓Berikan manfaat.
✓Berinfaklah.
✓Tolonglah sesama.
✓Bangunlah kehidupan.
✓Perbaiki diri.
✓Perbaiki keluarga.
✓Perbaiki masyarakat.
Dan lakukan semuanya dengan kesadaran bahwa:
«Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.»
---
*Sebuah Renungan untuk Kita*
Mungkin kita semua akan menjawab:
«"Saya tidak mau binasa."»
Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:
«"Kalau begitu, apakah pilihan hidup saya sudah membawa saya menjauh dari kebinasaan?"»
Sebab manusia tidak selalu binasa karena menginginkan kebinasaan.
Kadang manusia binasa karena tidak menyadari bahwa pilihan-pilihannya sedang membawanya ke sana.
Maka, mari kita periksa kembali "tangan" kita.
✓Apa yang sedang kita lakukan?
✓Apa yang sedang kita bangun?
✓Apa yang sedang kita rusak?
✓Apa yang sedang kita genggam?
✓Apa yang sedang kita lepaskan?
Sebab tangan yang sama dapat menjadi tangan yang menghancurkan.
Tetapi tangan yang sama juga dapat menjadi tangan yang memberi.
Tangan yang sama dapat menjadi tangan yang menyakiti.
Tetapi tangan yang sama juga dapat menjadi tangan yang menolong.
Tangan yang sama dapat menjadi jalan menuju kebinasaan.
Tetapi tangan yang sama pula dapat menjadi jalan menuju ihsan.
Maka, jangan hanya berkata:
«"Saya tidak mau binasa."»
Tetapi mari kita lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting:
«"Apa yang sedang saya lakukan agar saya tidak binasa?"»
Dan mungkin, di situlah kita mulai memahami pesan besar QS. Al-Baqarah ayat 195.
Janganlah menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri.
✓Gunakan tanganmu untuk berbuat baik.
✓Gunakan hartamu untuk berbagi.
✓Gunakan hidupmu untuk memberi manfaat.
Sebab pada akhirnya, tangan yang kita gunakan hari ini akan menjadi saksi tentang apa yang telah kita pilih dalam kehidupan.
_Wallahu a'lam bish-shawab._



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda