Antara Passport dan Visa sebagai Dokumen Perjalanan
Antara Passport dan Visa sebagai Dokumen Perjalanan
Sebuah Renungan antara Bumi dan Langit
Oleh Sugiri (Mr Sugar Ry)
Suatu siang saya bertanya kepada diri sendiri, "Apa sebenarnya perbedaan passport dan visa?"
Jawabannya sederhana.
Passport berasal dari negeri tempat kita dilahirkan. Ia menjelaskan siapa diri kita, dari mana asal kita, dan kewarganegaraan apa yang kita miliki.
Visa berasal dari negeri tujuan. Ia bukan identitas, melainkan izin untuk memasuki wilayah yang akan kita datangi.
Passport menjawab pertanyaan:
"Siapa Anda?"
Visa menjawab pertanyaan:
"Bolehkah Anda masuk?"
Dari jawaban sederhana itu, pikiran saya melayang kepada perjalanan yang jauh lebih besar daripada perjalanan antarnegara.
Bukankah kehidupan manusia juga sebuah perjalanan?
Kita datang dari Allah dan sedang menuju kepada Allah.
Dunia hanyalah terminal keberangkatan yang sementara. Ada yang singgah sebentar, ada yang singgah lama. Namun tidak ada seorang pun yang menetap selamanya.
Di terminal dunia ini, manusia sibuk mempercantik ruang tunggu. Ada yang mengejar harta, jabatan, ketenaran, dan berbagai kenikmatan. Padahal yang menentukan keselamatan perjalanan bukanlah kemewahan ruang tunggu, melainkan kelengkapan dokumen perjalanan.
Lalu apakah passport dan visa dalam perjalanan menuju akhirat?
Saya merenung.
Mungkin iman dan takwa adalah passport kehidupan.
Keduanya menunjukkan identitas sejati seorang hamba.
✓Apakah ia mengenal Tuhannya?
✓Apakah ia mengakui keesaan-Nya?
✓Apakah ia berusaha menaati perintah-Nya?
Sebagaimana passport menunjukkan kewarganegaraan seseorang, iman dan takwa menunjukkan kepada golongan mana seseorang ingin digolongkan di hadapan Allah.
Namun passport saja belum cukup.
Dalam perjalanan antarnegara, seseorang bisa memiliki passport yang sah, tetapi tetap ditolak masuk jika tidak memiliki visa.
Di sinilah saya melihat makna yang lebih dalam.
Ikhlas dan ketulusan kepada Allah bagaikan visa perjalanan menuju surga.
Amal yang banyak tidak selalu bernilai jika dikerjakan untuk pujian manusia.
Ibadah yang panjang tidak selalu diterima jika dipenuhi riya dan kesombongan.
Yang dicari Allah bukan hanya banyaknya amal, tetapi hati yang bersih ketika melakukannya.
Betapa banyak amal yang terlihat kecil di mata manusia, tetapi sangat besar di sisi Allah karena dilakukan dengan ikhlas.
Sebaliknya, betapa banyak amal yang tampak besar di mata manusia, tetapi ringan timbangannya karena kehilangan ketulusan.
Lalu saya tersadar bahwa bahkan passport dan visa itu pun belum cukup.
Masih ada satu hal yang menentukan.
Rahmat Allah.
Seseorang boleh membawa passport iman.
Ia boleh membawa visa keikhlasan.
Ia boleh membawa koper penuh amal saleh.
Namun pada akhirnya, pintu surga terbuka karena rahmat Allah semata.
Rahmat itulah yang menjadi izin terakhir.
Rahmat itulah yang menjadi penyelamat sejati.
Karena itu, selama masih berada di ruang tunggu bernama dunia, marilah kita memeriksa kembali dokumen perjalanan kita.
✓Apakah passport iman kita masih berlaku?
✓Apakah visa keikhlasan kita masih terjaga?
✓Apakah koper amal kita terisi atau justru kosong?
Dan yang terpenting, apakah kita sedang berusaha meraih rahmat Allah dengan segenap kemampuan yang kita miliki?
Suatu hari nanti, nama kita akan dipanggil.
Bukan untuk naik pesawat.
Bukan untuk menyeberangi lautan.
Melainkan untuk meninggalkan dunia menuju negeri keabadian.
Ketika panggilan itu datang, tidak ada kesempatan untuk memperpanjang masa berlaku.
Tidak ada loket untuk mengurus dokumen yang terlambat.
Yang ada hanyalah hasil dari apa yang telah kita persiapkan selama hidup.
Semoga saat tiba waktunya berangkat, kita termasuk hamba yang membawa passport iman, visa keikhlasan, bekal amal saleh, dan memperoleh rahmat Allah untuk memasuki surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda