Fiha Tahyaun, Fiha Tamutuun, Waminha Tukhrojuun
Fiha Tahyaun, Fiha Tamutuun, Waminha Tukhrojuun
Oleh Sugiri
Refleksi tentang Hidup, Mati, dan Kebangkitan Tanpa Ghuluw terhadap Teknis Kepindahan ke Fase Akhirat
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قَالَ فِيْهَا تَحْيَوْنَ وَفِيْهَا تَمُوْتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ
"(Allah) berfirman, 'Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.'"
(QS. Al-A'raf: 25)
Ayat ini menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Kata ganti "ha" dalam ayat tersebut merujuk pada "al-ardh" (bumi). Di sinilah manusia diturunkan, hidup, dan mati. Bahkan, dari bumi pula manusia akan dibangkitkan kelak. Ini menjadi pengingat bahwa bumi adalah panggung utama kehidupan manusia—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan eskatologis.
Yang menarik, Allah menyebut "minha tukhrajuun"—dari bumi kamu akan dibangkitkan. Ini mengacu pada fase pasca kiamat, saat bumi lama dihancurkan dan diganti dengan bumi yang baru:
"(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) semuanya menghadap kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."
(QS. Ibrahim: 48)
Di sanalah manusia dikumpulkan, bukan untuk kembali ke dunia, tapi untuk memulai kehidupan abadi. Hadits sahih dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menguatkan hal ini:
"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di bumi yang putih bersih, seperti roti gandum yang tipis dan bersih, tak ada tanda tempat tinggal untuk siapa pun di sana."
(HR. Bukhari no. 6521 dan Muslim no. 2790)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bumi adalah tempat dimulainya dan diakhirinya perjalanan manusia. Bahkan, kebangkitan pada hari kiamat berasal dari bumi pula. Menurut beliau, ayat ini mengandung makna bahwa manusia akan kembali dibangkitkan dari kubur yang merupakan bagian dari bumi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaha: 55:
"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain."
Sementara itu, Al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menyatakan bahwa bumi yang disebut dalam QS. Ibrahim: 48 adalah bumi yang diubah bentuknya menjadi datar, putih, tanpa pegunungan, laut, atau bangunan. Di sanalah manusia dikumpulkan untuk dihisab. Ia menegaskan bahwa meski bentuknya berubah, hakikatnya tetap bumi, tempat dimulainya kebangkitan.
Namun, sebagai manusia yang beriman, kita diajarkan untuk tidak tenggelam dalam upaya membongkar tabir ghaib secara teknis. Islam mengajarkan iman bil ghaib —percaya pada yang ghaib— tanpa harus mengetahui seluruh detailnya. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana perpindahan dari Padang Mahsyar menuju surga atau neraka secara fisik. Itu semua adalah urusan Allah semata. Firman-Nya cukup menjadi panduan, bukan peta teknis.
Allah juga menegaskan:
"وَمَا أُوتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلًا"
"Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit."
(QS. Al-Isra': 85)
Karenanya, kita cukupkan diri dengan keyakinan dan tunduk. Tidak ghuluw (berlebihan) dalam membahas apa yang tak terjangkau oleh nalar. Justru, perenungan terhadap ayat ini mendorong kita untuk mempersiapkan bekal amal, bukan penasaran dengan proses teknis alam barzakh dan akhirat.
"Fiha tahyaun, fiha tamutuun, waminha tukhrojuun" adalah pengingat ringkas tapi dahsyat. Hidup bukan kebetulan. Mati bukan akhir. Dan kebangkitan bukan mustahil. Semuanya terjadi di bumi ini—dalam pengaturan Sang M
ahakuasa.
Wallahu a'lam bish-shawab.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda