Sabtu, 28 Juni 2025

Ujian di Balik Hidup dan Mati: Menemukan Makna Ahsanu 'Amala

 


*Ujian di Balik Hidup dan Mati: Menemukan Makna Ahsanu 'Amala*


Oleh: Sugiri


“Dialah (Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”

(QS. Al-Mulk: 2)


Pagi ini, saya merenungi satu ayat pendek namun padat makna. Ayat kedua dari surah Al-Mulk ini seolah mengetuk hati dan menyodorkan pertanyaan paling mendasar dalam hidup: “Untuk apa sebenarnya kita hidup dan mati?”


Ternyata, jawabannya tidak rumit. Kita hidup dan mati untuk diuji. Tapi bukan sekadar diuji siapa yang paling banyak amalnya. Bukan pula siapa yang paling sibuk aktivitas lahiriahnya. Allah menyatakan secara jelas: "ayyukum ahsanu ‘amala", bukan "aksaru ‘amala". Ukurannya adalah yang paling baik amalnya, bukan yang paling banyak.


Trilogi Kehidupan: Iman, Islam, dan Ihsan


Dari ayat ini saya memahami satu kesatuan utuh dalam ajaran Islam yang sering disebut trilogi Islam:

Iman (aqidah), Islam (syariah), dan Ihsan (akhlak).


1. Iman adalah dasar. Amal tanpa iman ibarat pohon tak berakar. Ia bisa tumbang kapan saja, dan buahnya tidak sampai ke langit.


2. Islam adalah bentuk amal itu sendiri. Syariah mengatur bagaimana kita beribadah secara khusus (mahdhah) maupun berinteraksi sosial (muamalah).


3. Ihsan adalah kualitas. Amal tak cukup hanya dikerjakan, tapi mesti dikerjakan dengan niat yang benar, cara yang sahih, dan akhlak yang mulia.


Itulah ahsanu ‘amala: amal yang berkualitas, bukan sekadar kuantitas.


*Hidup dan Mati adalah Dua Fase Ujian*


Ayat ini juga menyiratkan bahwa mati dan hidup bukan dua kutub yang terpisah. Keduanya adalah satu rangkaian ujian.


*Fase dunia adalah tempat kita beramal.*


*Fase akhirat adalah tempat kita* mempertanggungjawabkan dan menerima hasil amal.


Dalam fase dunia, kita bergerak di antara ibadah mahdhah (seperti shalat, puasa, zakat) dan muamalah (seperti berdagang, belajar, berkeluarga, bahkan menikmati seni dan hiburan). Tapi semua itu harus berada di bawah naungan syariah, agar diterima sebagai ibadah.


Namun tidak cukup hanya benar menurut hukum. Harus pula dilakukan dengan adab, dengan niat tulus, dan rasa sadar akan pengawasan Allah. Inilah yang disebut ihsan, sebagaimana Nabi bersabda:


> "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu."


*Mereka yang ‘Main-Main Dulu di Neraka’*


Kadang saya merenung soal orang-orang yang beriman, namun amalnya buruk. Mungkin ia rajin shalat, tapi juga suka menipu. Mungkin ia percaya kepada Allah, tapi ringan tangan mencuri.


Mereka ini, bila belum bertaubat dan Allah tidak mengampuni, bisa jadi akan “main-main dulu di neraka.” Tentu bukan main-main dalam arti gembira, tapi mereka harus mencicipi siksa sebelum disucikan, karena iman mereka masih ada.


Mereka tidak kekal di neraka. Tapi kenapa harus lewat neraka dulu, kalau bisa disucikan di dunia dengan tobat dan amal saleh?


*Penutup: Sebuah Refleksi*


Hidup bukanlah sekadar perjalanan panjang tanpa makna. Mati bukanlah akhir dari segalanya. Keduanya adalah ciptaan Allah, dan di balik keduanya ada ujian. Maka mari kita sambut hidup dengan amal yang berkualitas: amal yang berlandaskan iman, sesuai syariah, dan dilakukan dengan ihsan.


Semoga kita termasuk golongan yang ahsanu ‘amala, agar saat ajal tiba, kita tidak membawa penyesalan, melainkan membawa harapan akan rahmat-Nya.


Wallahu a’lam.

Ciampea, pagi yang damai, 29 Juni 2025

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda