Politik yang Merayu Alam
Puisi 1
*Politik yang Merayu Alam*
Oleh: Sugiri
Bumi bukan batu
Ia bernafas dalam diam yang pilu
Laut bukan cermin bening
Ia menyimpan luka dari pabrik yang tak henti berdenting
Hutan bukan karpet hijau
Ia menangis saat digunduli oleh janji palsu
Langit bukan layar kosong
Ia merekam semua dosa dalam asap dan racun
Wahai penguasa dengan suara lantang
Jangan kira alam itu bisu dan penurut
Ia bukan budak, bukan alat, bukan barang
Ia adalah makhluk yang juga bersujud
Politik bukan hanya tentang siapa duduk di tahta
Tapi siapa yang sanggup menata
Bukan hanya untuk rakyat yang bersorak
Tapi untuk burung, sungai, angin, dan akar-akaran yang retak
Jika engkau merayu alam dengan cinta
Ia akan menyelimuti negeri dengan sejuknya
Jika engkau melukainya dengan rakus
Ia akan membalas dalam gelegar yang tak tertebak arus
Bangunlah politik yang menyejukkan tanah
Bukan yang menyulut amarah di balik ladang basah
Bentangkan kebijakan seperti sajadah
Tempat semua makhluk beribadah
Karena kelak
Di hadapan Allah Yang Maha Menatap
Alam akan menjadi saksi
Siapa pemimpin yang mengabdi...
Dan siapa yang hanya menjual janji.
Puisi 2
Puisi Naratif dari Alam untuk Manusia
Oleh: Sugiri
Aku...
Bukan ladang kosong tanpa rasa
Bukan dataran beku yang tak berjiwa
Namaku disebut: bumi, langit, sungai, dan rimba
Tapi sedikit yang memanggilku dengan cinta
Aku perempuan
Yang tubuhku dipijak tanpa izin
Yang perasaanku diiris oleh tambang dan mesin
Yang rahimku ditanami benih keserakahan
Tapi tak pernah kau dengar tangisku di tengah hujan
Dulu, aku menari
Saat kau bercocok tanam dengan kasih
Saat kau minum dari sungai tanpa mencemari
Saat langitmu bersih dan hutan mu bersaksi
Bahwa manusia dan aku saling berbagi
Tapi kini…
Kau tidak merayuku dengan syukur
Kau menyentuhku dengan tangan rakus dan kufur
Kau datangi aku seperti perampok yang tersenyum
Lalu pergi meninggalkan sampah dan racun
Aku pun bicara
Lewat gempa yang merobohkan keangkuhan
Lewat banjir yang menghapus istana kehormatan
Lewat longsor yang menjatuhkan mimpi palsu
Lewat angin yang menampar wajahmu yang dulu aku rindu
Tapi dengar…
Aku belum ingin membinasakanmu
Aku masih simpan cinta untuk yang bersujud padaku
Yang menyapa pepohonan dengan zikir
Yang mengelus batu dan air dengan takbir
Aku...
Alam perempuan yang menunggu satu hal saja:
Politik yang mencintaiku, bukan mengeksploitasiku.
Pemimpin yang memelukku seperti anak pada ibunya
Negara yang menulisku dalam konstitusi rasa dan doa
Jika itu datang,
Aku akan mekarkan bunga di ladangmu
Membirukan langit untuk anak-anakmu
Dan menyerahkan semua anugerahku
Agar manusia kembali menjadi makhluk yang layak ku peluk,
Bukan ku tenggelamkan...



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda