Kamis, 12 Juni 2025

Politik yang Merayu Alam

 


Puisi 1

*Politik yang Merayu Alam*


Oleh: Sugiri


Bumi bukan batu

Ia bernafas dalam diam yang pilu

Laut bukan cermin bening

Ia menyimpan luka dari pabrik yang tak henti berdenting


Hutan bukan karpet hijau

Ia menangis saat digunduli oleh janji palsu

Langit bukan layar kosong

Ia merekam semua dosa dalam asap dan racun


Wahai penguasa dengan suara lantang

Jangan kira alam itu bisu dan penurut

Ia bukan budak, bukan alat, bukan barang

Ia adalah makhluk yang juga bersujud


Politik bukan hanya tentang siapa duduk di tahta

Tapi siapa yang sanggup menata

Bukan hanya untuk rakyat yang bersorak

Tapi untuk burung, sungai, angin, dan akar-akaran yang retak


Jika engkau merayu alam dengan cinta

Ia akan menyelimuti negeri dengan sejuknya

Jika engkau melukainya dengan rakus

Ia akan membalas dalam gelegar yang tak tertebak arus


Bangunlah politik yang menyejukkan tanah

Bukan yang menyulut amarah di balik ladang basah

Bentangkan kebijakan seperti sajadah

Tempat semua makhluk beribadah


Karena kelak

Di hadapan Allah Yang Maha Menatap

Alam akan menjadi saksi

Siapa pemimpin yang mengabdi...

Dan siapa yang hanya menjual janji.


Puisi 2


Puisi Naratif dari Alam untuk Manusia

Oleh: Sugiri


Aku...

Bukan ladang kosong tanpa rasa

Bukan dataran beku yang tak berjiwa

Namaku disebut: bumi, langit, sungai, dan rimba

Tapi sedikit yang memanggilku dengan cinta


Aku perempuan

Yang tubuhku dipijak tanpa izin

Yang perasaanku diiris oleh tambang dan mesin

Yang rahimku ditanami benih keserakahan

Tapi tak pernah kau dengar tangisku di tengah hujan


Dulu, aku menari

Saat kau bercocok tanam dengan kasih

Saat kau minum dari sungai tanpa mencemari

Saat langitmu bersih dan hutan mu bersaksi

Bahwa manusia dan aku saling berbagi


Tapi kini…

Kau tidak merayuku dengan syukur

Kau menyentuhku dengan tangan rakus dan kufur

Kau datangi aku seperti perampok yang tersenyum

Lalu pergi meninggalkan sampah dan racun


Aku pun bicara

Lewat gempa yang merobohkan keangkuhan

Lewat banjir yang menghapus istana kehormatan

Lewat longsor yang menjatuhkan mimpi palsu

Lewat angin yang menampar wajahmu yang dulu aku rindu


Tapi dengar…

Aku belum ingin membinasakanmu

Aku masih simpan cinta untuk yang bersujud padaku

Yang menyapa pepohonan dengan zikir

Yang mengelus batu dan air dengan takbir


Aku...

Alam perempuan yang menunggu satu hal saja:

Politik yang mencintaiku, bukan mengeksploitasiku.

Pemimpin yang memelukku seperti anak pada ibunya

Negara yang menulisku dalam konstitusi rasa dan doa


Jika itu datang,

Aku akan mekarkan bunga di ladangmu

Membirukan langit untuk anak-anakmu

Dan menyerahkan semua anugerahku

Agar manusia kembali menjadi makhluk yang layak ku peluk,

Bukan ku tenggelamkan...


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda