A’llamahul Bayān: Literasi Ilahiah dan Amanah Kata
*A’llamahul Bayān: Literasi Ilahiah dan Amanah Kata*
Oleh: Sugiri
_“Ar-Rahmaan. Dialah yang mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Dan Dia mengajarinya kemampuan bayān.”_
(QS. Ar-Rahman: 1–4)
Pagi ini saya diliputi rasa syukur yang tak bisa saya bendung. Masyaallah, Subhanallah, Allahu Akbar, Laailaaha illallah Muhammadar Rasulullah. Lidah ini gemetar, hati ini penuh haru. Betapa besar nikmat Allah yang sering kita lupakan: kemampuan menyampaikan makna, menyusun kata, menjelaskan pikiran, dan menyampaikan kebenaran.
*Apa itu Bayān? Bukan Sekadar Bicara*
Allah berfirman, "a’llamahul bayān"—Dia (Allah) mengajarkan manusia bayān.
Sebagian orang menerjemahkannya sebagai "berbicara", tetapi para ulama tafsir memberi makna yang jauh lebih dalam:
Bayān adalah kemampuan menyusun gagasan dengan jelas, membedakan yang benar dari yang salah, serta menyampaikan makna dengan bahasa yang terang dan bernalar.
Bayān adalah literasi ilahiah: kemampuan yang tidak hanya bersumber dari belajar duniawi, tetapi diajarkan langsung oleh Ar-Rahmaan.
Dengan kemampuan inilah:
✓Al-Qur’an bisa dipahami dan disampaikan.
Ilmu bisa diwariskan.
✓Dakwah bisa mengalir dari satu hati ke hati lainnya.
✓Dan manusia bisa menyampaikan cinta, peringatan, hingga peradaban.
*Komunikasi Literatif: Amanah Kehidupan*
Jika kita bandingkan dengan istilah lain:
✓"Kata" terlalu sempit.
✓"Komunikasi" terlalu umum.
✓Maka "literasi" adalah istilah paling tepat untuk menggambarkan al-bayān: karena mencakup memahami, mengolah, dan menyampaikan makna secara sadar dan bertanggung jawab.
Maka “a’llamahul bayān” bukan hanya tentang bisa berbicara—tapi tentang kemampuan menyampaikan kebenaran dengan kualitas ruhani, akal yang tajam, dan hati yang lurus.
Jangan Abaikan Amanah Ini
Sayangnya, banyak yang melalaikan nikmat bayān. Padahal setiap kata:
✓Akan diuji (QS. Qaf:18),
✓Akan dipertanggungjawabkan (QS. Al-Isra:36),
✓Bahkan bisa menyelamatkan atau mencelakakan (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka jangan biarkan kemampuan literasi ini:
✓Dipakai untuk menyebar kebencian,
✓Digunakan menyusun narasi sesat,
✓Atau diisi dengan canda kosong yang melalaikan.
Sebaliknya, mari jadikan setiap kata:
✓Sebagai dakwah,
✓Sebagai cahaya,
✓Sebagai jalan pulang menuju ridha Allah.
Penutup: Bayān adalah Jalan Dakwah
Saat saya menulis ini, saya merasa sangat kecil tapi sekaligus sangat dimuliakan. Karena kemampuan menulis, berbicara, dan berkomunikasi yang saya miliki, adalah bagian dari ayat ini: a’llamahul bayān.
Maka saya berdoa:
_Ya Allah, jangan Engkau jadikan kata-kataku sia-sia. Jadikan setiap huruf yang kutulis, setiap pesan yang kusampaikan, sebagai cahaya di hari hisab, bukan bara yang membakar lidahku sendiri._
---
✨ *Kesimpulan*
Al-Bayān bukan hanya kemampuan teknis. Ia adalah anugerah ilahiah, dan sekaligus amanah kehidupan.
Di zaman informasi yang liar ini, manusia bukan kekurangan kata—tetapi kekurangan makna.
Maka tugas kita bukan hanya berbicara, tapi menyampaikan kebenaran dengan literasi yang jujur, jernih, dan bertanggung jawab.
Wallahu a’lam.
Ciampea, pagi berkah, 29 Juni 2025



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda