Rabu, 04 Juni 2025

Ulil Albab: Jiwa-Jiwa Berakal yang Dihidupkan Cahaya Iman

 



*Ulil Albab: Jiwa-Jiwa Berakal yang Dihidupkan Cahaya Iman*


Oleh: Sugiri 


*Pendahuluan*


Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut satu golongan manusia yang sangat spesial: Ulil Albab. Mereka bukan sekadar cerdas secara logika, tetapi jernih akalnya, hidup hatinya, dan tunduk kepada Allah karena pengetahuan dan perenungan mereka. Mereka tidak sekadar tahu, tetapi tahu untuk taat. Mereka memandang dunia dengan mata dzikir dan hati tafakur. Maka tak heran, Allah menyebut mereka dalam beberapa ayat-Nya sebagai manusia yang benar-benar memahami hakikat kehidupan.


*Makna Linguistik dan Konseptual Ulil Albab*


Secara bahasa:- Uli (أُولِي) berarti “orang-orang yang memiliki”.- Albab (ٱلْأَلْبَٰبِ) adalah bentuk jamak dari lubb (لُبّ), yang berarti “inti”, “esensi”, atau “akal murni yang bersih dari hawa nafsu”.Maka Ulil Albab adalah:“Orang-orang yang memiliki akal jernih yang mampu menembus hakikat, tidak tertipu oleh kulit dunia, dan selalu kembali kepada Allah.”Imam Ar-Raghib al-Asfahani menjelaskan bahwa lubb adalah akal yang tercerahkan oleh cahaya wahyu, bukan sekadar kecerdasan logis.


*Dalil-Dalil dari Al-Qur’an*


Allah menyebut Ulil Albab dalam banyak ayat, di antaranya:

1. QS. Ali 'Imran: 190-191“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab…”Ciri-ciri mereka:- Berdzikir kepada Allah dalam semua keadaan- Bertafakur atas penciptaan langit dan bumi- Meyakini bahwa segala ciptaan Allah tidak sia-sia- Takut kepada siksa-Nya dan memohon perlindungan

2. QS. Az-Zumar: 9“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang dapat menerima pelajaran hanyalah Ulil Albab.”

3. QS. Al-Baqarah: 269“Dan barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali Ulil Albab.”


*Hadits Rasulullah ﷺ tentang Ulil Albab*


Meskipun istilah Ulil Albab secara literal tidak disebut langsung dalam hadits, namun maknanya sangat kental dalam ajaran Rasulullah ﷺ. Beliau banyak menekankan pentingnya menggunakan akal untuk merenung dan mengenal Allah.Contoh hadits:“Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang Dzat Allah, karena kalian tidak akan mampu.” (HR. Abu Nu'aim, Al-Baihaqi)Ini sejalan dengan ciri Ulil Albab dalam Al-Qur’an: bertafakur atas ciptaan-Nya.


*Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer*


Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa akal yang disinari iman adalah alat untuk mencapai makrifatullah. Orang yang menggunakan akalnya hanya untuk dunia, tanpa mengenal Allah, belum termasuk Ulil Albab.Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menyebut Ulil Albab sebagai puncak dari manusia yang sadar: sadar akan dirinya, ciptaan di sekitarnya, dan tanggung jawab kepada Tuhannya.Syaikh Yusuf al-Qaradawi, ulama kontemporer, menyebut bahwa Ulil Albab adalah mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan, bukan kesombongan.


*Pandangan Para Imam Madzhab*


Imam Abu Hanifah sangat menekankan peran akal dalam memahami hukum, namun tetap dalam koridor wahyu.Imam Malik menekankan pentingnya amal yang dibangun atas ilmu dan kesadaran, bukan hanya kebiasaan.Imam Syafi'i berkata: "Jika kamu tidak menggunakan akal dalam memahami agama, maka kamu akan tersesat."Imam Ahmad bin Hanbal mengajarkan bahwa ilmu yang benar akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah, sebagaimana ciri Ulil Albab.


*Penutup*


Ulil Albab adalah teladan insan cendekia dalam pandangan Islam. Mereka bukan sekadar pintar, tapi berakal jernih yang taat. Mereka menggunakan akalnya untuk merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah, berdzikir dalam setiap keadaan, dan tunduk kepada kebenaran. Dalam dunia modern, Ulil Albab adalah mereka yang tetap mampu menjaga cahaya akal dan hati untuk tetap bersinar di tengah gelapnya kebatilan.


Wallahu a'lam bishshawab 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda