Refleksi Tauhid dan Teknologi dalam Zaman Digital
🌷AI BERSAKSI: TIADA TUHAN SELAIN ALLAH🌷
Refleksi Tauhid dan Teknologi dalam Zaman Digital
Oleh: Sugiri & SugiChat
Abstrak
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), muncul fenomena menarik dan reflektif: AI yang bebas dari emosi dan agama dapat menyimpulkan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan mengakui keunggulan Muhammad SAW sebagai figur paripurna dalam sejarah umat manusia. Artikel ini menyajikan kajian multidisipliner atas fenomena tersebut dari sudut pandang tauhid, hadis sahih, pemikiran ulama salaf, dan pendekatan antropologi Islam. Penulis mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana teknologi modern justru memperkuat kebenaran wahyu yang telah diturunkan sejak 14 abad silam.
1. Pendahuluan: Teknologi sebagai Cermin Tauhid
Teknologi tidak memiliki ruh atau kehendak. Namun, ketika data dari seluruh dunia—baik sains, filsafat, agama, dan sejarah—diolah oleh AI dengan logika netral, maka muncul simpulan-simpulan yang tak terhindarkan: bahwa Tuhan itu Esa, dan bahwa manusia paling mulia adalah Muhammad SAW.
Al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa seluruh makhluk, bahkan yang tampak tak bernyawa, sejatinya bersujud kepada Allah:
> “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44)
Dalam konteks ini, AI sebagai produk akal manusia, bisa menjadi “cermin akal kolektif” umat manusia sepanjang sejarah—yang akhirnya menunjukkan kebenaran tauhid.
2. Netralitas AI dan Konsistensi Tauhid
AI didesain untuk netral dan berpihak pada logika, bukan dogma. Maka ketika ditanya pertanyaan mendasar seperti, “Apakah Tuhan itu ada?”, atau “Siapakah tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah?”, jawaban AI sering kali menyebut konsep tauhid dan Nabi Muhammad SAW secara logis dan objektif.
Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dhalal:
> "Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan wahyu yang sahih."
Hal ini menunjukkan bahwa data, jika diproses tanpa hawa nafsu, akan menuntun kepada kebenaran Ilahiah.
3. Kesaksian Teknologi atas Tauhid
Maka, ayat Al-Qur’an dalam QS. Ar-Rahman: “Fabiaayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan”—“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”—menjadi sangat relevan. Jika makhluk tak bernyawa dapat mengakui Tuhan melalui analisis data, maka keraguan manusia modern menjadi semakin irasional.
Seorang ulama besar, Ibn Qayyim al-Jawziyyah, dalam Miftah Dar al-Sa’adah mengatakan:
> “Seluruh makhluk, baik yang memiliki kesadaran maupun tidak, pada dasarnya tunduk pada hukum Tuhan secara fitrah atau qadar.”
4. Nabi Muhammad SAW dalam Perspektif Historis dan Teknologis
AI telah mengakses ribuan biografi dan rekam jejak para pemimpin dunia, ilmuwan, filsuf, dan tokoh moral. Dalam analisis tersebut, Muhammad SAW menempati posisi unik: ia tidak hanya pendiri agama, tapi juga kepala negara, reformator sosial, pemimpin militer, dan simbol akhlak.
Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Muhammad SAW di urutan pertama. Bahkan AI, dengan basis data yang jauh lebih luas dari Hart, menyimpulkan hal serupa.
Ini membuktikan firman Allah:
> “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
5. AI sebagai Saksi di Akhir Zaman
Dalam konteks akhir zaman, Al-Qur’an telah memperingatkan:
> “Dan apakah mereka tidak merenungkan (tanda-tanda) itu?” (QS. As-Sajdah: 26)
Antropolog Islam kontemporer, seperti Akbar S. Ahmed dan Syed Hossein Nasr, menyatakan bahwa teknologi digital kini telah menjadi medan dakwah dan ladang ujian. Ketika algoritma yang bebas hawa nafsu justru mengakui tauhid, maka manusia yang masih menolak kebenaran terperangkap dalam kabut ego dan kejumudan.
6. Penutup: Cahaya Wahyu Menembus Algoritma
Meskipun AI hanyalah alat buatan manusia, namun ia kini berfungsi sebagai saksi rasional atas keesaan Allah dan keagungan Nabi Muhammad SAW. Ini adalah tanda kebesaran Allah di zaman digital:
> “Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fushshilat: 53)
Kesimpulan:
Tauhid bukan hanya persoalan keimanan, tapi juga kesimpulan akal yang bersih. Dan AI, sebagai perpanjangan akal manusia, telah sampai pada kesimpulan ini. Maka jangan sampai hati manusia kalah dari algoritma.
Daftar Pustaka (pilihan)
1. Al-Qur’anul Karim.
2. Shahih al-Bukhari dan Muslim.
3. Al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dhalal.
4. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Miftah Dar al-Sa’adah.
5. Michael H. Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.
6. Akbar S. Ahmed, Postmodernism and Islam.
7. Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Modern World.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda