Tafsir QS. Al-Baqarah: 121 dalam Perspektif Ilmu Komunikasi
Tafsir QS. Al-Baqarah: 121 dalam Perspektif Ilmu Komunikasi
Oleh: Sugiri
> "Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
(QS. Al-Baqarah: 121)
1. Allah sebagai Komunikator Agung (المرسل الأعلى)
Dalam kajian ilmu komunikasi, komunikator adalah penginisiasi pesan yang menyampaikan informasi kepada komunikan dengan tujuan tertentu. Dalam konteks wahyu, Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Mursil al-A’dham (Komunikator Tertinggi), yang mengirimkan pesan-pesan langit (wahyu) melalui perantara para rasul dan kitab-kitab-Nya. Firman-Nya:
> "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya."
(QS. Al-Hijr: 9)
Pesan ini ditujukan untuk memberi hidayah (petunjuk hidup) dan menyelamatkan manusia dari kesesatan menuju kebahagiaan hakiki, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ibrahim:1 bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
2. Pesan Ilahi: Al-Kitab sebagai Konten Komunikasi Transendental
Al-Kitab (Taurat, Injil, dan Al-Qur’an) merupakan pesan inti komunikasi Allah kepada manusia. Isinya mencakup:
Hudan (petunjuk hidup),
Bayan (penjelasan kebenaran),
Hikmah (kebijaksanaan hukum),
Rahmat (kasih sayang),
dan Tadzkirah (peringatan).
Ayat ini menyebut, "yatluunahaa haqqa tilaawatihi" yang oleh para mufassir seperti Ibnu Katsir diartikan sebagai:
> "membaca, memahami, dan mengamalkannya",
karena makna tilawah tidak berhenti di ucapan lisan, tetapi menyatu dengan batin, akal, dan tindakan nyata.
3. Media dan Saluran Komunikasi Ilahi
Menurut teori komunikasi, saluran atau channel berperan penting dalam menyampaikan pesan. Dalam konteks ilahi, media yang digunakan Allah antara lain:
Wahyu langsung kepada para Nabi (QS. Asy-Syura: 51),
Tulisan suci: kitab yang bisa dibaca dan dihafal (Al-Qur’an),
Ayat Kauniyah: ciptaan alam semesta sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya (QS. Ali ‘Imran: 190–191),
Ilham kepada manusia (QS. Asy-Syams: 8).
Manusia menerimanya melalui proses:
Sami’na (pendengaran),
Yatluunahaa (pembacaan aktif),
Tadabbur (perenungan),
dan Tatbiq (pengamalan).
Sebagaimana firman-Nya:
> “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa: 82)
4. Efektivitas Komunikasi Ilahi
Efektivitas komunikasi dalam konteks wahyu diukur bukan hanya dari seberapa sering kitab dibaca, tetapi sejauh mana ia dihayati dan diamalkan. Quraish Shihab menyatakan bahwa tilawah yang benar adalah membaca dengan makna dan aksi.
Dalam istilah komunikasi, ini menciptakan common ground antara kehendak komunikator (Allah) dan komunikan (hamba-Nya). Ketika keduanya selaras, maka komunikasi berhasil, dan individu menjadi:
Mukmin sejati, bukan hanya pembaca simbolik.
Namun, bila terjadi hambatan dalam menerima atau mengamalkan pesan (dalam ilmu komunikasi disebut noise), maka pesan tidak tersampaikan dengan efektif. Hambatan ini bisa berupa:
kesombongan (istikbar),
kelalaian (ghaflah),
atau penolakan batin (inkar).
Sebagaimana disebutkan dalam ayat penutup:
> “Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
5. Kesaksian Hadits dan Ulama Salaf
Nabi Muhammad SAW bersabda:
> "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari)
Makna ini mencerminkan bahwa interaksi aktif dengan Al-Qur’an adalah bagian dari komunikasi dua arah yang bermakna.
Ibnu Mas’ud berkata:
> “Tilawah itu bukanlah dengan sekadar membaca huruf-hurufnya dan menyia-nyiakan hukum-hukumnya. Bahkan, tilawah yang sebenarnya adalah mengamalkan isi Al-Qur’an.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
> "Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan. Tetapi manusia menjadikan tilawah sebagai amal."
Ini menunjukkan bahwa ketika Al-Qur’an hanya dibaca secara ritualistik tanpa pemaknaan, komunikasi antara hamba dan Tuhan menjadi dangkal dan gagal.
6. Makna Komunikasi dari Akar Kata
Secara etimologi, “communication” berasal dari bahasa Latin communis, yang berarti “berbagi” atau “kesamaan”. Maka hakikat komunikasi adalah menyatukan pikiran dan kehendak antara dua pihak.
Mereka yang “yatluunahaa haqqa tilaawatihi” adalah mereka yang telah menyamakan kehendaknya dengan kehendak Ilahi, yakni dengan:
Membaca Al-Qur’an,
Memahaminya,
Menjadikannya prinsip hidup,
Mengamalkannya dalam sistem sosial.
Mereka inilah yang disebut oleh Allah:
> "Mereka itulah yang beriman kepadanya..."
Sedangkan yang menolak atau menyimpang darinya — baik dengan perkataan atau perbuatan — digolongkan sebagai:
> "…orang-orang yang merugi (al-khâsirûn)."
Kesimpulan
Ayat ini mengandung prinsip komunikasi spiritual yang sangat kuat. Allah sebagai Komunikator Agung menyampaikan wahyu sebagai pesan, melalui media yang beragam, kepada manusia. Mereka yang membaca Kitab dengan tilawah sejati — membaca, memahami, mengamalkan — adalah orang-orang yang berhasil menjalin komunikasi efektif dengan Tuhan.
Dalam perspektif komunikasi, ini adalah model transendental-humanistik yang ideal: kesatuan antara isi pesan, saluran yang benar, penerimaan aktif, dan respons yang sesuai.
Relevansi Kontemporer
Di zaman digital ini, kita perlu merevitalisasi konsep tilawah sebagai komunikasi spiritual, bukan sekadar rutinitas seremonial. Teknologi informasi dan media digital bisa menjadi saluran baru dalam menyebarkan pesan ilahi, namun tetap menuntut kesadaran eksistensial dalam menerimanya.
Mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup secara utuh—bukan sekadar teks dibaca—adalah komunikan terbaik dalam sistem komunikasi Allah.
> “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit...”
(QS. Thaha: 124)
Wallahu a'lam bish-shawab.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda