Senin, 19 Mei 2025

Beuntunglah Pemilik Cahaya Ilahi

 *Beuntunglah Pemilik Cahaya Ilahi*


Oleh: Sugiri

Dalam kehidupan ini, cahaya menjadi unsur penting dalam menampakkan segala yang tersembunyi. Cahaya matahari memungkinkan mata kepala melihat dan membedakan objek-objek fisik. Namun, dalam urusan kebenaran dan kebatilan, mata kepala bukanlah alat utama. Di sinilah perlunya cahaya lain: cahaya ilahi yang disebut hidayah, yang menyinari mata hati.

Sebagaimana cahaya matahari membuat benda gelap terlihat, hidayah Allah menjadikan jalan hidup terlihat jelas: mana yang lurus dan mana yang bengkok. Orang yang mendapat cahaya ilahi akan mampu membedakan kebenaran dari kebatilan, bahkan dalam gelapnya zaman dan kesesatan pikiran.

1. Perbedaan Siraj dan Nur

Al-Qur'an menyebut dua jenis cahaya: siraj dan nur. Siraj berarti cahaya asli, seperti matahari. Nur adalah cahaya pantulan, seperti bulan. Hal ini terekam dalam QS. Nuh ayat 16:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا ۙ وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَا جًا

> "Dan Dia menjadikan bulan di antara (langit-langit itu) sebagai cahaya (nur) dan menjadikan matahari sebagai pelita (siraj)." (QS. Nuh: 16)

Dan QS. Al-Furqan ayat 61:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

تَبٰـرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَآءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرٰجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا

> "Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang dan Dia menjadikan di sana pelita (siraj) dan bulan yang bercahaya (munir)."

Dalam tafsir Imam al-Razi, beliau menekankan bahwa kata "siraj" menunjukkan sumber panas dan terang, sedangkan "nur" adalah cahaya lembut yang menenangkan. Sementara Ibnu Katsir menyatakan bahwa nur adalah cahaya bulan yang tidak memancarkan sendiri, tapi hanya memantulkan cahaya dari matahari.

Begitu pula dalam spiritualitas, Allah adalah sumber cahaya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nur ayat 35:

اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ

> "Allah adalah cahaya langit dan bumi..."

Dalam tafsir al-Qurtubi, cahaya Allah ini bermakna hidayah, ilmu, dan keimanan yang menyinari hati manusia. Ulama kontemporer seperti Sayyid Qutb mengaitkan ayat ini dengan makna bahwa Allah adalah sumber kebenaran mutlak yang membimbing manusia melalui wahyu dan rasul-Nya.

2. Buta Mata Kepala vs Buta Mata Hati

Al-Qur'an memberikan peringatan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah buta fisik, melainkan buta hati.

 Firman Allah dalam QS. Al-Hajj: 46:

فَاِ نَّهَا لَا تَعْمَى الْاَ بْصَا رُ وَلٰـكِنْ تَعْمَى الْـقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

> "...maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada."

Tafsir Al-Baghawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kebutaan hati adalah ketidakmampuan memahami tanda-tanda kebenaran, meskipun bukti telah jelas. Al-Sa’di menambahkan bahwa kebutaan hati ini terjadi karena penolakan terhadap hidayah dan keengganan untuk merenungkan ayat-ayat Allah.

3. Cahaya Hati: Pantulan dari Cahaya Ilahi

Sebagaimana bulan memantulkan cahaya matahari, hati manusia memantulkan cahaya ilahi sesuai dengan kebersihannya. Bila hati dipenuhi dosa, maka cahayanya


Wallahu a'lam bishshawab





0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda