Mengapa Manusia Bisa Lebih Mulia dari Malaikat dan Lebih Rendah dari Binatang
*Mengapa Manusia Bisa Lebih Mulia dari Malaikat dan Lebih Rendah dari Binatang*
Oleh: Sugiri
Dalam perenungan mendalam tentang hakikat manusia, Al-Qur'an dan hadits menyuguhkan gambaran luar biasa tentang posisi manusia sebagai makhluk pilihan yang diberikan potensi luhur dan juga risiko kehinaan. Manusia diciptakan dengan kebebasan memilih, potensi akal, dan kecenderungan kepada kebaikan (taqwa) maupun keburukan (fujur). Dalam konteks ini, manusia bisa mengungguli para malaikat, atau justru terjerumus lebih hina daripada binatang.
*1. Dalil Al-Qur'an tentang Potensi Ganda Manusia*
Allah berfirman dalam QS Asy-Syams: 7-10:
> "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwanya), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki dua potensi besar: fujur (kefasikan) dan taqwa (ketakwaan). Inilah yang tidak dimiliki malaikat yang hanya diberi kecenderungan pada ketaatan, atau binatang yang hanya mengikuti naluri.
*2. Manusia Bisa Lebih Mulia dari Malaikat*
Para malaikat adalah makhluk suci yang selalu taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam QS At-Tahrim: 6:
> "...Tidak mereka durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Namun, manusia yang mampu mengendalikan nafsunya dan tetap taat kepada Allah dalam keadaan memiliki pilihan bebas, maka kemuliaannya melebihi malaikat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa keutamaan manusia terletak pada perjuangan menaklukkan hawa nafsunya. Sementara malaikat tidak memiliki nafsu, manusia berjuang keras menundukkannya.
*3. Manusia Bisa Lebih Rendah dari Binatang*
Sebaliknya, manusia yang hanya mengikuti nafsu syahwat dan fujur bisa jatuh ke dalam derajat paling hina. Dalam QS Al-A'raf: 179 Allah berfirman:
> "Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
Juga dalam QS At-Tin: 4-5:
> "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya."
Ulama seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menafsirkan bahwa kerendahan ini terjadi ketika manusia tidak menggunakan potensi akalnya untuk mengenal kebenaran dan berbuat kebaikan.
*4. Hadits tentang Perjuangan Melawan Nafsu*
Rasulullah SAW bersabda:
> "Pejuang sejati adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri demi taat kepada Allah." (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu. Kemenangan dalam jihad ini adalah kemenangan yang mengangkat manusia pada derajat para shiddiqin dan muqarrabin.
*5. Pandangan Ulama Kontemporer*
Syeikh Yusuf Al-Qaradawi menyatakan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, ras, atau kekayaan, tapi oleh kemampuannya menundukkan hawa nafsu dan mengamalkan nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa manusia yang menggunakan akalnya untuk berbuat baik, mengabdi kepada Allah, dan menebar manfaat adalah manusia yang mencapai derajat takwa yang mulia.
*Kesimpulan*
Dengan potensi fujur dan taqwa, manusia diberi kehormatan sebagai makhluk yang diuji. Dalam ujian ini, dia bisa melampaui malaikat yang tak berdosa karena berhasil menaklukkan dirinya. Tapi ia juga bisa lebih rendah dari binatang bila ia mengabaikan akal dan petunjuk Allah. Oleh karena itu, perjuangan melawan hawa nafsu adalah jalan utama untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.
"Qad aflaha man zakkaha, wa qad khaba man dassaha."
Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.
Wallahu a'lam bishshawab



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda