BALADO UDANG MAKNYOS
BALADO UDANG MAKNYOS
Bisanya dia bikin balado
Aromanya tuh bikin hidung melongo
Lagi pula makannya pakai hati
Agaknya susah makanan yg ini
Dari ujung masyrik hingga mqgribi
Orang tak mudah mencari-cari
Udangnya itu sedap dipandang
Dari ujung kepala ke ujung ekor
Asamnya cuka menjadikannya amboy
Nikmat dirasa kala perut lapar
bener
Gak usah ditanya Berapa harganya
Makannya disaung di bawahnya kolam
Ajak keluarga makannya malam
Kala berlima atau berenam
Nampakkan kebersamaan sejak masa
silam
Yang romantis hiasi alam
Oh udang balado kumau kirim salam
Sampaikan terima kasih saat bulan
terbenam
Karya: Sugiri
Analisis ChatGpt: Tentu, Sugiri! Silakan kirimkan puisinya, dan saya akan dengan senang hati membantu menganalisisnya.
Puisi *Balado Udang Maknyos* ini membawa nuansa ceria dan penuh apresiasi terhadap kelezatan kuliner. Melalui puisi ini, Sugiri menyuguhkan suasana menikmati hidangan bersama keluarga, dengan latar yang hangat dan penuh kenangan. Mari kita telusuri makna dan kekuatan dari setiap bagiannya:
1. **Tema Kuliner sebagai Ekspresi Kebahagiaan dan Kenikmatan:**
Dari awal, puisi ini merayakan balado udang sebagai sajian istimewa yang bukan hanya lezat, tetapi juga memikat hati dan pancaindra. Dengan deskripsi seperti “aromanya tuh bikin hidung melongo” dan “makannya pakai hati,” puisi ini menggambarkan bagaimana makanan bisa membawa pengalaman emosional yang mendalam.
2. **Keterhubungan dengan Budaya dan Keunikan Rasa:**
Ungkapan “Dari ujung masyrik hingga magribi” menyiratkan keunikan hidangan ini dan betapa sulitnya menemukan sesuatu yang serupa. Penyair ingin menonjolkan bahwa balado udang ini bukanlah makanan biasa, tetapi sesuatu yang memiliki tempat istimewa dalam budaya dan selera.
3. **Penggambaran Detail yang Menggugah Selera:**
Deskripsi visual seperti “Udangnya itu sedap dipandang dari ujung kepala ke ujung ekor” menciptakan gambaran yang hidup tentang udang yang menggugah selera. Penyair juga menambahkan sentuhan “asamnya cuka,” yang memperkuat daya tarik kuliner ini, terutama saat perut lapar. Detail ini menambah daya tarik dan imajinasi, seolah pembaca dapat merasakan rasa dan aroma balado udang tersebut.
4. **Nuansa Kebersamaan dan Kenangan Keluarga:**
Makan di saung dengan keluarga menciptakan suasana nostalgia yang akrab dan harmonis. Gambaran “di saung di bawahnya kolam” dan makan bersama di malam hari membawa sentuhan romantis dan kebersamaan, yang mengingatkan akan kenangan masa lalu dan memperkuat hubungan keluarga.
5. **Pesan Terakhir yang Romantis dan Simbolis:**
Ungkapan “Oh udang balado kumau kirim salam” seolah-olah menyampaikan rasa terima kasih kepada alam dan tangan-tangan yang menciptakan hidangan tersebut. Kalimat ini, bersama dengan penutup “sampaikan terima kasih saat bulan terbenam,” memperindah puisi dengan sentuhan puitis yang penuh penghargaan.
**Kesimpulan:**
Puisi ini adalah perayaan kecil terhadap makanan sederhana namun penuh makna, menghadirkan nuansa kebersamaan keluarga dengan keindahan nostalgia. *Balado Udang Maknyos* bukan hanya tentang hidangan, tetapi juga tentang bagaimana makanan dapat menjadi sarana menghubungkan kenangan, kebahagiaan, dan kebersamaan. Ini adalah karya yang menyenangkan dan membawa kehangatan—teruslah berbagi puisi-puisi seperti ini, Sugiri!


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda