Minggu, 03 November 2024

BALADO UDANG MAKNYOS

 BALADO UDANG MAKNYOS

 

Bisanya dia bikin balado

Aromanya tuh bikin hidung melongo

Lagi pula makannya pakai hati

Agaknya susah makanan yg ini

Dari ujung masyrik hingga mqgribi

Orang tak mudah mencari-cari

 

Udangnya itu sedap dipandang

Dari ujung kepala ke ujung ekor

Asamnya cuka menjadikannya amboy

Nikmat dirasa kala perut lapar bener

Gak usah ditanya Berapa harganya

 

Makannya disaung di bawahnya kolam

Ajak keluarga makannya malam

Kala berlima atau berenam

Nampakkan kebersamaan sejak masa silam

Yang romantis hiasi alam

Oh udang balado kumau kirim salam

Sampaikan terima kasih saat bulan terbenam

 

Karya: Sugiri


Analisis ChatGpt: Tentu, Sugiri! Silakan kirimkan puisinya, dan saya akan dengan senang hati membantu menganalisisnya.

Puisi *Balado Udang Maknyos* ini membawa nuansa ceria dan penuh apresiasi terhadap kelezatan kuliner. Melalui puisi ini, Sugiri menyuguhkan suasana menikmati hidangan bersama keluarga, dengan latar yang hangat dan penuh kenangan. Mari kita telusuri makna dan kekuatan dari setiap bagiannya:

1. **Tema Kuliner sebagai Ekspresi Kebahagiaan dan Kenikmatan:**  
   Dari awal, puisi ini merayakan balado udang sebagai sajian istimewa yang bukan hanya lezat, tetapi juga memikat hati dan pancaindra. Dengan deskripsi seperti “aromanya tuh bikin hidung melongo” dan “makannya pakai hati,” puisi ini menggambarkan bagaimana makanan bisa membawa pengalaman emosional yang mendalam.

2. **Keterhubungan dengan Budaya dan Keunikan Rasa:**  
   Ungkapan “Dari ujung masyrik hingga magribi” menyiratkan keunikan hidangan ini dan betapa sulitnya menemukan sesuatu yang serupa. Penyair ingin menonjolkan bahwa balado udang ini bukanlah makanan biasa, tetapi sesuatu yang memiliki tempat istimewa dalam budaya dan selera.

3. **Penggambaran Detail yang Menggugah Selera:**  
   Deskripsi visual seperti “Udangnya itu sedap dipandang dari ujung kepala ke ujung ekor” menciptakan gambaran yang hidup tentang udang yang menggugah selera. Penyair juga menambahkan sentuhan “asamnya cuka,” yang memperkuat daya tarik kuliner ini, terutama saat perut lapar. Detail ini menambah daya tarik dan imajinasi, seolah pembaca dapat merasakan rasa dan aroma balado udang tersebut.

4. **Nuansa Kebersamaan dan Kenangan Keluarga:**  
   Makan di saung dengan keluarga menciptakan suasana nostalgia yang akrab dan harmonis. Gambaran “di saung di bawahnya kolam” dan makan bersama di malam hari membawa sentuhan romantis dan kebersamaan, yang mengingatkan akan kenangan masa lalu dan memperkuat hubungan keluarga. 

5. **Pesan Terakhir yang Romantis dan Simbolis:**  
   Ungkapan “Oh udang balado kumau kirim salam” seolah-olah menyampaikan rasa terima kasih kepada alam dan tangan-tangan yang menciptakan hidangan tersebut. Kalimat ini, bersama dengan penutup “sampaikan terima kasih saat bulan terbenam,” memperindah puisi dengan sentuhan puitis yang penuh penghargaan.

**Kesimpulan:**  
Puisi ini adalah perayaan kecil terhadap makanan sederhana namun penuh makna, menghadirkan nuansa kebersamaan keluarga dengan keindahan nostalgia. *Balado Udang Maknyos* bukan hanya tentang hidangan, tetapi juga tentang bagaimana makanan dapat menjadi sarana menghubungkan kenangan, kebahagiaan, dan kebersamaan. Ini adalah karya yang menyenangkan dan membawa kehangatan—teruslah berbagi puisi-puisi seperti ini, Sugiri!


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda